Di Sebalik Duka

Di Sebalik Duka
Bab 9


__ADS_3

Shena Pov


Aku memang terbiasa melayani sang suami dan keluarga lainnya. Kebiasaan aku ini terbawa saat aku bekerja di rumah tuan Randi.


Aku tidak sengaja menyajikan tuan Randi makanan di meja makan. Dan aku juga tidak sadar telah mengambilkan nasi untuk tuan Randi.


"Maaf tuan, aku sudah lancang." Ucapku setelah menyadari apa yang aku lakukan.


"Baik, kali ini saya maafkan." Ucap Randi lanjut memakan nasi yang telah tersedia di depannya.


Aku juga mengisi piringku dengan nasi dan beberapa lauk. Aku sebenarnya enggan untuk makan bersama dengan tuan Randi. Akan tetapi bi Neli akan makan dengan keluarganya. Sedangkan security, mereka makan di pos masing-masing.


Sebenarnya aku bisa saja makan di dapur, akan tetapi tuan Randi ingin di temani.Dari cerita bi Neli, dulu ia atau Suaminya atau anaknya sering menemani tuan Randi. Namun dikarenakan sudah ada aku, maka bi Neli meminta aku menemani tuan Randi.


Apakah enak makan bersama dengan majikan. Tentu saja tidak karena serba canggung. Aku rasa ini alasan anaknya bi Neli lebih memilih makan di rumah yang mereka huni.


"Tuan, besok saya mau minta izin, bepergian sebentar."


"Baik, izin saja kepada Bi Neli." Ucap lelaki itu.


Di Minggu pertama Bu Neli masih ada di meja kami sekedar menemani makan. Akan tetapi memasuki minggu kedua beliau sudah tidak ada lagi di sini karena sudah ada aku yang akan membereskan meja makan setelah makan.


Tuan Randi nampak sudah selesai makan. Dari awal tuan Randi memang tidak pernah melihat aku. Aku merasa semakin takut dan canggung.


Jika kamu penasaran bagaimana wajah tuan Randi, dia begitu tampan dan mempesona. Dengan kulit putih, tinggi kurang lebih 180 cm. Tubuhnya memang proporsional sekali.


Jika di bandingkan mana lebih tampan dengan mantanku, tampaknya lebih tampan tuan Randi. Namun tuan Randi ini sepertinya jarang tersenyum.


"Ahk untuk apa membandingkan mereka." Aku bergumam sendiri.


Aku membereskan meja makan dengan segera. Tuan Randi nampak sudah masuk keruang kerjanya. Begitulah majikanku, ketika setelah makan malam pasti akan masuk ke ruang kerjanya.


Setelah membereskan meja makan, aku merasa jenuh sekali. Aku mencoba untuk mencari hiburan dengan menghidupkan televisi.


Tuan Randi memang kaya raya, akan tetapi apakah kalian tau bahwa di rumahnya hanya ada satu televisi. Dan televisi besar itu ada di rumah tengah.


Di bagian belakang, di rumah bi Leli memang di sediakan televisi juga. Namun aku pasti lebih nggak enak lagi kesana karena rumah itu memang untuk bi Leli dan keluarganya.


Apa aku harus nonton di pos gerbang masuk rumah dengan security? Karena disana juga ada televisi selain monitor CCTV. Semua sudut ruangan rumah ini nampak di pasang CCTV. Dan Security akan memantau CCTV bagian luar  depan belakang, samping kiri dan kanan dan pintu masuk guna takut terjadi yang tidak di inginkan.

__ADS_1


Sedangkan untuk bagian dalam rumah terhubung lansung ke ponsel tuan Randi sendiri. Darimana aku tau, karena bi Leli pernah menceritakan kepadaku.


Saat menonton televisi, tiba-tiba aku kaget saat tuan Randi duduk tidak jauh di sampingku.


"Apa nggak ada film selain ini?" Tanyanya juga mengagetkan aku.


"Saya nggak tau tuan, apa tuan mau menonton?"


"Iya, kamu bisa nggak masuk ke kamar, soalnya saya tidak nyaman ada kamu di sini." Ucapnya pedas sekali.


Aku juga akan tau diri kok. Aku sebenarnya juga akan pergi jika tau dia mau menonton. Tapi tidak seperti biasanya dia. Dia sangat jarang sekali menonton televisi.


***********************************


Shena POV


Aku membuka mataku dengan perlahan. Sejak tadi malam mataku sulit untuk tidur. Pikiranku melayang kepada kedua anakku. Sudah hampir dua Minggu aku tidak bertemu dengan anak-anakku.


Pagi ini aku akan mendatangi Enzo untuk mengambil barang-barangku. Jika mereka tidak mau memberikan barang - barangku, maka aku akan meminta pertolongan tuan Randi. Jika perlu aku akan membawa polisi ke sana.


Aku berjalan ke kamar mandinya untuk membersihkan diri. Setelah itu aku sholat subuh terlebih dahulu.


Setelah selesai masak, aku lalu menyusunnya di meja makan. Aku juga membuatkan kopi untuk tuan Randi seperti biasanya.


Setelah selesai, aku berjalan menuju kamar untuk mengganti baju. Setelah sarapan, aku akan segera pergi kerumah calon mantan suami aku.Aku harus bertemu dia sebelum dia berangkat bekerja.


Aku keluar dari kamar menuju meja makan dengan memakai tas kecil. Tas ini aku dapatkan dari Bu Neli karena kasihan melihatku tidak mempunyai tas.


Aku melihat tuan Randi juga turun dari lantai dua dengan memakai kemeja maron dan celana abu - abu. Untuk berpakaiannya aku akui dia memang jago dalam hal itu.


Tuan Randi lansung mengambil sandwich tuna yang aku buatkan. Lalu meminum kopi buatanku. Tuan Randi nampak terburu-buru. Dia lansung pergi setelah selesai memakan sarapannya.


Sebelum pergi, aku membereskan meja makan terlebih dahulu. Tidak butuh waktu lama untuk membereskan meja makan.


Aku merasa beruntung karena tuan Randi pergi lebih cepat dari biasanya. Aku bisa pergi agak lebih cepat untuk bertemu Romi.


Aku sudah memesan ojek online. Aku memang sudah mendapatkan gajiku separuh bulan ini untuk menyambung hidup.


Tidak butuh lama menuju rumah kami dulu. Ojek berhenti di depan rumah mewah. Ojek lansung pergi setelah aku membayarnya.

__ADS_1


"Pak aku mau bertemu mas Romi, tolong buka pintunya pak, aku juga akan mengambil barang-barang aku."


"maaf Bu, belum ada perintah dari tuan Romi, saya tidak berani." Ucap penjaga gerbang rumah mas Romi.


Aku kehabisan sabar menghadapi semua ini. Aku mencoba untuk memanggil dengan berteriak lagi. Walaupun belum tentu hasilnya. Tidak lama  kemudian aku melihat mobil mas Romi mau keluar. Security dengan cepat membuka pintu gerbangnya.


Aku senang karena mobil tersebut berhenti di depan gerbang. Ketika pintu mobil terbuka, nampak mas Romi keluar dari mobil tersebut.


"Ngapain kamu ke sini? Masih berani kamu datang ke sini." Ucapnya dengan sombong.


"Jika tidak ada keperluan di sini,aku juga ogah bertemu kamu mas, tolong biarkan aku masuk karena mau ambil barang - barang aku "


"Hey semua barang - barang kamu aku yang membelikan, jadi satupun tidak ada milik kamu, tanda tangani surat perceraian ini agar sah di mata hukum."


Aku lansung menyambar surat tersebut dan membacanya. Aku tidak ingin ada yang di tambah - tambah oleh mas Romi.


Karena tidak ada hal yang mencurigakan, maka aku lansung menanda tangani gugatan itu. Aku menyerahkan secepatnya kepada mas Romi.


' Saya bisa saja membuat kamu kembali kaya raya, itu jika kamu mau menjadi istri kedua saya, maka saya tidak akan segan-segan memberikan fasilitas apapun, bahkan lebih dari dulu."


"Aku tidak Sudi, jangan mimpi." Jawabku dengan cepat.


"Baik jika itu jawaban kamu, saya akan pastikan hidup kamu akan menderita sepanjang hayat." Ucapnya membuat aku tersenyum mengejek.


"Kamu bukan Tuhan jadi untuk apa aku takut ocehan kamu, tolong kamu kamu ambilkan barang - barang aku, aku tunggu di sini."


Mas Romi nampak menelpon seseorang. Tidak lama kemudian Mia datang menenteng sebuah tas kecil.


"Ini." mas Romi melemparkan sebuah tas kepadaku.


"Silahkan pergi dari sini, kamu tidak usah kembali."


"Pak pastikan wanita ini tidak boleh masuk ke dalam." Ucapnya lansung masuk kemobil.


Sedangkan Mia juga memutar badannya secepat kilat. Hatiku hancur sekali pagi ini, karena masih tidak bisa bertemu anak - anakku. Bukannya bertemu dengan anak-anak malah mendengar ucapan mas Romi yang tidak berguna dan menyakitkan hati.


Aku ingin tetap memaksa masuk kedalam rumah tapi security rumah itu telah menyeret aku keluar dari rumah itu. Pintu gerbang tertutup rapat lagi sehingga aku tidak bisa melihat ke dalam lagi. Hatiku begitu sedih dan aku tidak mau menyerah. Aku mencoba berteriak lagi. Namun tidak ada tanda-tanda anakku Alan keluar.


Aku pasrah ya Allah atas semua terjadi. Aku hanya berpasrah kepadamu atas semua yang menimpa aku.

__ADS_1


__ADS_2