
Setelah penjelasan Mawar tadi aku langsung pulang. Hari juga sudah sore, mana mungkin aku terus-terusan diam di sana.
Aku memasang wajah bete setelah keluar dari kampus, bagaimana tidak? Aku melihat Raefal yang duduk di atas motornya yang terparkir di depan kampus. Ia menyunggingkan senyumannya begitu melihatku.
"Lo pulang sama siapa?" tanyanya begitu jarakku dekat.
"Menurut lo?" cetusku.
"Mau pulang bareng sama gue?" tawarnya.
"Nggak usah," jawabku cepat.
"Kenapa?"
Aku berdecak kesal. "Gue kan udah pernah bilang kalau gue nggak suka sama lo. Kenapa lo selalu memaksa gue buat suka sama lo? Lo itu nggak jauh beda sama cowok playboy di luaran sana," kataku sambil melipat kedua tangan di dada.
"Kalau lo nggak suka sama gue, setidaknya ... apa kita bisa berteman?"
Aku menyipitkan mata. "Gue nggak butuh teman kayak lo."
"Iya, deh ... kalau emang lo nggak mau pulang sama gue, itu hak elo. Tapi, gue juga berhak punya keinginan untuk pulang sama lo, kan?"
Aku mengamatinya. "Jadi, mau lo apa?"
"Yah, gue akan tetap pulang sama lo," sahutnya ringan. "Lo bisa pulang jalan kaki seperti biasa, anggap aja hari ini nggak berbeda dengan kemarin atau hari-hari sebelumnya. Sementara gue akan ngikutin dari belakang."
"Itu kan semacam stalking."
"Bukan stalking kalo gue udah ngomong sebelumnya sama lo. Lagian lo juga tau kan kalau gue bukan cowok yang berbahaya?"
"Terserah lo, deh. Lakuin apa yang lo mau. Asal jangan ganggu gue," timpalku sambil melangkah.
Raefal benar-benar mengikutiku dari belakang dengan motornya. Sampai sesekali aku menengok ke belakang, ia melayangkan senyumannya. Aneh, kenapa hatiku terasa bergetar melihat kegigihannya yang terus maju walaupun ditolak beberapa kali.
__ADS_1
Sesampainya di depan kosan. Aku langsung membuka gerbang dan masuk ke dalam.
Ia berdeham dan berkata, "Lo nggak mau nyuruh gue masuk dulu gitu?" tanyanya.
"Buat apa?" jawabku setengah menengok ke belakang.
Raefal diam tak menjawab. Pasti dia sudah kehabisan kata-kata.
"Raefal!" Tiba-tiba dari atas suara seorang wanita memanggil namanya dari kamar kosan atas. Aku menengadah ke atas dan melihat Nilam turun dan melayangkan senyumannya pada Raefal, tanpa mengindahkan kehadiranku. Ia bahkan seolah sengaja membenturkan pundaknya pada lenganku. Aku mendesis kesal. "Elo ngapain ada di sini? Oh, iya gue tau ... lo pasti mau main sama gue, kan?" tanyanya dengan tingkat kepedean yang tinggi.
"Nggak ... gue ke sini cum-"
"Udah nggak usah banyak alasan," potong Nilam. "Ayo masuk aja, sekalian main juga sama Gea. Dia ada tuh di kamarnya," sambungnya sambil merangkul tangan Raefal dan memaksanya masuk.
Cowok genit itu menuruti perkataan Nilam tanpa berontak. Memang ya dasar cowok playboy. Kalau cowok baik-baik, pasti akan risi jika diperlakukan seagresif itu sama cewek.
Dalam beberapa detik ia melupakanku. Dan pergi ke atas bersama Nilam. Semua cowok sama saja, terkecuali Leo dan Ayahku.
Tapi, sebelum aku melangkahkan kaki ke tangga. Mataku menangkap sosok Mas Radit yang terlihat di pintu rumah Tante Sumi yang setengah terbuka. Sedang apa ya mereka? Aku segera menepis pertanyaan itu. Untuk apa juga aku memikirkan urusan orang lain.
"Tapi, kok muka lo tambah pucat, ya?" Tak sengaja aku mendengar pembicaraan Raefal yang ditujukan pada Gea.
"Nggak tau juga, aku udah periksa ke dokter katanya cuma kecapean. Dan harus sering istirahat. Makanya kemarin-kemarin aku nggak ikut ngospek," jelasnya.
Ishhh ... ngapain juga aku nguping pembicaraan mereka, sih. Tapi kan bukan salahku juga kalau mendengar pembicaraan mereka. Sedangkan suasana kos ini juga sepi. Tak heran jika suara orang ngobrol di dalam kamar pun akan terdengar ke luar walaupun pintu tertutup.
"Via, tunggu!" Tiba-tiba si cowok genit itu memanggilku yang tengah melewati kamar Gea. Aku pura-pura tak mendengar dan terus melangkah menuju kamarku.
Tak disangka-sangka cowok genit itu meraih tanganku. Sontak saja itu membuatku terkejut, dan langsung menepis lengannya dari lenganku dengan kasar.
"Gue mau ngajak lo jalan," ujarnya.
"Sori, gue lagi sibuk," tolakku.
__ADS_1
"Ayolah, sebentar doang kok," rengeknya sambil memasang wajah sedih.
Serius deh, bukannya aku kasihan. Justru malah ingin menghajar wajahnya yang putih ganteng itu. Eh, tunggu! Apa yang barusan aku pikirkan? Aku bergidik ngeri. Jangan sampai aku luluh di tangan cowok playboy kayak gini.
Aku melihat Nilam yang memasang ekspresi marah. Wajahnya yang putih glowing (seperti kebanyakan cewek zaman sekarang) itu berwarna merah bagai kepiting yang baru saja direbus.
Sedangkan Gea yang berdiri di sampingnya justru memasang raut wajah kebingungan. Mungkin ia sedang berpikir, ada hubungan apa antara aku dan Raefal. Sebelum aku membuka mulut hendak membentak, tiba-tiba suara Tante Sumi mengagetkanku.
"Livia!" Teriaknya sebelum benar-benar berada di dekatku. ******! Tante Sumi kan sudah pernah bilang, jangan pernah bawa laki-laki masuk ke dalam kosan tanpa sepengetahuannya.
"Kenapa kamu bawa anak laki-laki dari luar tanpa bilang ke saya?" tanyanya dengan tajam.
Sial, aku harus jawab apa. "Maaf, Tante. Tapi, yang bawa dia itu Nilam-"
"Enak aja!" potong Nilam ketus. "Kenapa jadi gue? Kan si Raefal ke sini sama lo." Memang dasar ular ya nih cewek. Sudah jelas banget dia yang memboyong Raefal masuk ke sini. Aku gelagapan, tak tahu harus bicara apa. Aku melirik ke arah Raefal dan menatapnya kesal. Ingin melontarkan kalimat, lihat gara-gara lo, gue jadi kena marah, kan!
"Maaf, Bu." Raefal berjalan mendekati Tante Sumi. "Sebenarnya Livia nggak ngundang saya. Tapi, saya sendiri yang ngikutin dia sampai sini. Saya juga nggak tahu kalau bawa anak cowok ke sini harus minta izin ke Ibu, saya pikir karena ini kosan bebas jadi bisa bawa siapa aja ke sini," tuturnya dengan sopan. Tak lupa disertai senyuman andalannya.
Sesaat Tante Sumu diam dan bergumam. "Baiklah kalau begitu. Tapi, lain kali harus lapor dulu sama saya kalau mau masuk ke sini, ya." Setelah berkata begitu, beliau pergi meninggalkan kami yang berdiri dalam diam.
Aku tak membuang kesempatan itu, dengan langkah kilat aku masuk ke dalam kamar tanpa memedulikan Raefal yang meneriakiku.
Aku melempar tas dan mengempaskan di kasur. Menatap langit-langit kamar. Sepi. Astaga, aku lupa menanyakan perihal Mawar pada Nilam dan Gea. Aku pun langsung beranjak dari kasur, pergi keluar untuk menemui mereka.
Kamar mereka tertutup rapat dan sepi. Padahal baru beberapa menit yang lalu aku masuk. Motor Raefal pun sudah tak terlihat lagi di depan gerbang. Aku berjalan menuju kamar Gea--tentu saja. Antara Gea dan Nilam, aku akan memilih Gea yang lebih baik daripada Nilam. Meskipun kamar miliknya terletak lebih dekat dengan kamarku.
Aku mengetuk pintu kama Gea sedikit pelan agar tidak terlalu mengeluarkan bunyi yang keras. Akan tetapi, tak ada jawaban. Aku celingak-celinguk. Kenapa sepi sekali? Bahkan kamar milik Kia pun terutup rapat pintunya, seolah dia tidak ada di dalam.
Tiba-tiba terdengar suara gerbang kosan dibuka. Aku menjulurkan leher untuk melihat siapa yang membuka gerbang. Astaga ... mataku membelalak melihat sosok itu. Sekilas bayangan masa lalu kembali terlintas bagai film yang sedang diputar. Aku mengucek-ngucek mata untuk memastikan bahwa penglihatanku tidak bermasalah. Ia keluar dari gerbang dan berbelok ke sebelah kanan..
"Tunggu!" teriakku sambil berlari berusaha mengejarnya. Namun sayang, saat aku sampai di depan gerbang. Sosok itu sudah menghilang entah ke mana.
"Sial, ke mana dia pergi?" gumamku dengan napas terengah-engah.
__ADS_1
Aku tak mungkin salah lihat, kan? Tetapi, postur tubuhnya mirip sekali dengannya. Apa dia masih hidup, atau mungkin tadi cuma halusinasiku saja? Jika benar itu dia, untuk apa dia ada di sini? Mungkinkah dia datang untuk mencariku? Kalau sampai dugaanku benar, artinya ... nyawaku sedang dalam bahaya.
Oh, Tuhan. Kuharap gadis itu bukan Tara!