DIA PELAKUNYA? EERINESS ....

DIA PELAKUNYA? EERINESS ....
BAB 17


__ADS_3

Pagi menyapa. Seperti biasa kami berangkat ke kampus dengan berjalan kaki.


Bosan karena sepanjang perjalanan kami hanya diam. Akhirnya Kia mengajakku berlomba. Siapa yang paling dulu sampai ke kampus, dia pemenangnya. Aku pun menyanggupi tantangannya. Kebetulan jarak tempat kami berdiri dengan kampus tinggal 10 meter lagi.


Aku dan Kia mulai berlari dengan riang.


"Kok lo larinya cepet banget, sih?" teriak Kia jauh di belakangku.


Omong-omong, apa kalian tahu? Begini-begini aku punya kemampuan lari yang lumayan tinggi? Buktinya, Kia tertinggal jauh tuh di belakang.


"Ayo, dong kejar gue," ucapku terengah-engah sambil berbalik ke arah Kia, dan terus berlari mundur.


Brukkk ...


Tiba-tiba aku menabrak seseorang, dan itu membuatku terjengkang ke belakang menindih orang itu.


Ia memekik kesakitan. "Aw," pekiknya.


Aku terbangun dan melihat Nilam jatuh tersungkur hingga menyebabkan kedua lututnya terluka dan berdarah. Seketika aku diam mematung saat tahu siapa cewek itu. Aku berani bertaruh, sebentar lagi cewek itu pasti melontarkan makiannya padaku.


Gea yang berada di sampingnya membantu Nilam berdiri.


"Via, kenapa kamu dorong Nilam?" tanya Gea.


Baru saja mulutku terbuka hendak menjawab pertanyaan Gea, tapi Nilam menyelanya. "Heh, cewek rese!" sentaknya. "Elo kalau jalan liat-liat, dong!" Sambil sesekali memegang lututnya yang berdarah.


"Sori, gue nggak sengaja," kataku sambil berusaha melihat lukanya parah atau tidak.


"Alah! Elo pasti emang sengaja dorong gue, kan?" tuduhnya dengan suara tinggi, hingga membuat perhatian sebagian orang tertuju pada kami.


"Kan udah gue bilang nggak sengaja. Elo nggak pa-pa, kan?" Aku berusaha untuk membantu menopang tubuhnya, namun tanganku ditepis dengan kasar saat menyentuh tangannya.


"Nggak usah pegang-pegang gue!" larangnya.


Tanpa diduga, Nilam justru mendorongku, dan itu membuatku hampir terjatuh jika saja Raefal tidak menahan tubuhku. Sesaat kami saling berpandangan. Sejak kapan Raefal ada di sini?


"Via, lo nggak pa-pa, kan?" tanya Raefal. Jarak wajahnya begitu dekat dengan wajahku. Dari sini aku dapat merasakan detak jantungnya yang berdegup.


Bersamaan dengan itu juga datang Kia. "Via, ada apa?" tanyanya.


"Dengar ya anak rese! Elo nggak tau lagi berhadapan sama siapa!" katanya dengan suara mengancam. Setelah itu ia meminta Gea untuk membantunya berjalan ke ruang kesehatan untuk di obati. Mereka pun pergi.


"Lo kenapa bisa dorong Nilam?" tanya Raefal setelah kepergian mereka berdua.

__ADS_1


"Gue tadi lomba lari sama Kia. Dan gue nggak liat ke depan. Yah, gue nggak sengaja dorong Nilam sampai jatuh," jelasku apa adanya dengan perasaan bersalah.


"Lain kali lo harus hati-hati, dong. Kalau lo yang jatuh gimana?


"Ciee ... ada yang perhatian, nih." Tiba-tiba Kia menyela dengan nada mengejek.


Aku menyikutnya pelan. Ia hanya nyengir.


***


"Livia ... Livia ..." Samar-samar bisikan itu terdengar di telingaky bersamaan dengan terpaan angin. Siapa yang memanggilku? Aku celingak-celinguk dengan bingung. Suaranya mirip seseorang yang kukenal.


"Livia ..." Sekali lagi bisikan itu terdengar. "Ini aku Mawar, tolong aku ..." Perlahan suara itu memelan sampai akhirnya hilang.


Aku diam mematung, kenapa Mawar minta tolong? Apa yang terjadi padanya, sampai ia harus memanggilku dari jarak jauh. Aku harus ke tempatnya untuk mengetahui apa yang terjadi padanya.


"Via, kenapa? Kok diam?" tanya Kia yang berdiri sedikit jauh dariku. Yeah, karena sekarang ini kami sedang jalan pulang dari kampus.


"Kayaknya gue harus balik lagi ke kampus," tuturku.


"Loh, kenapa? Apa ada yang tertinggal?" tanyanya.


"Barusan gue denger bisikan dari Mawar yang minta tolong sama gue, pasti ada sesuatu yang terjadi," jelasku dengan suara tajam.


"Tapi gue harus ke sana!" Aku bersikukuh.


Kia terdiam sesaat. Lalu ia berkata, "Kalau gitu gue ikut, ya."


"Jangan!" Jawabku cepat. "Ini terlalu bahaya."


"Tapi ... gue khawatir sama lo, Via!" protesnya.


"Elo nggak usah khawatirin gue. Gue bakalan baik-baik aja kok ... gue pergi dulu, ya." Sebelum Kia berbicara lagi, aku langsung pergi kembali ke kampus dengan kecepatan kilat.


Sesampainya di sana, suasana kampus sangat sepi. Hanya ada segelintir orang yang masih berada di lingkungan. Itu pun bisa terhitung oleh jari.


Aku segera menuju ke toilet fakultas manajemen. Suasana di dalam pun lebih sunyi daripada di luar.


"Mawar," panggilku saat berada di dalam toilet.


Tak ada jawaban apa pun. Sampai beberapa menit kemudian terdengar sebuah suara.


"Livia, kamu di mana?" Itu suara Mawar.

__ADS_1


"Ini gue udah di dalam toilet. Elo di mana?" tanyaku sembari mengarahkan pandangan ke seluruh sudut ruangan, namun aku tak menemukan sosok Mawar.


"Aku juga nggak tahu ada di mana. Semuanya terlihat sangat gelap di sini. Aku nggak bisa lihat kamu. Sepertinya ada seseorang yang mengurungku di sini. Aku udah berusaha keluar. Tapi, tembok ini terlalu kuat. Sulit sekali untuk ditembus," jelasnya. Nada suaranya terdengar bergetar karena ketakutan. "Tolong aku, Via," lirihnya. "Aku takut."


"Apa yang harus gue lakuin?" Aku kebingungan. Ini pertama kalinya diriku dihadapkan dengan situasi seperti ini.


Aku tak dapat melakukan apa-apa, karena ini semua di luar kemampuanku.


Tiba-tiba aku dikejutkan suara pintu toilet yang didobrak dengan keras oleh seseorang.


Brakk ...


Aku menoleh ke arah pintu itu. Astaga, seseorang memakai jubah hitam dengan wajah ditutupi sebuah topeng yang mirip seperti di film Scream--sangat menyeramkan. Apalagi ini? Dan yang lebih mencengangkannya lagi ... mereka ada dua! Masing-masing makhluk itu memegang sebilah belati di tangannya.


Glekk ...


Aku menelan saliva. Haruskah aku berurusan dengan seorang algojo lagi? Bahkan kali ini langsung ada dua orang yang ingin menyerangku. Namun, sekarang hal itu tak terlalu penting. Yang perlu kupikirkan adalah, bagaimana caranya agar aku bisa keluar untuk kabur. Sementara pintu masuk dihalangi oleh makhluk itu. Sedangkan salah satunya lagi sedang berjalan ke arahku.


Makhluk itu perlahan berjalan mendekat. Spontan aku pun berjalan mundur ke belakang. Hingga akhirnya terpojok di tembok. Sial, aku tak bisa ke mana-mana lagi.


"Via, apa yang terjadi?" tanya Mawar tanpa wujud. Aku tak mengindahkan pertanyaanya.


"Si-siapa lo?" tanyaku dengan suara tercekat. Makhluk itu tak menjawab. Ia terus semakin mendekat.


"Ada apa, Via?" Lagi-lagi aku tak memedulikan pertanyaan Mawar. Sekarang yang kupikirkan adalah, bagaimana caranya supaya bisa keluar dari sini.


Setelah jaraknya sangat dekat, cuma beberapa cm dariku. Makhluk itu mengangkat tangannya, dan melayangkan belati itu padaku.


Terdengar suara wushh ... diiringi gerakan belati yang begitu cepat ke arahku, dan aku tak punya pilihan lain selain menjatuhkan diri kalau tidak ingin tertusuk.


Sayangnya, belati itu sempat menyayat lenganku, membuat tubuhku sejenak lumpuh oleh kesakitan. Saat aku akhirnya bisa bergerak lagi, tahu-tahu saja aku sudah memandangi belati yang teracung ke depan mukaku, meneteskan darahku sendiri ke atas hidungku.


Saat suasana menegangkan itu, tiba-tiba saja Raefal muncul dari arah pintu. Ia menendang algojo yang sedang berjaga di sana. Hingga algojo itu jatuh tersungkur.


Sedangkan algojo yang berada di hadapanku ini, ia mengalihkan perhatiannya sejenak pada temannya. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Impulsif, aku mendorongnya sekuat tenaga hingga ia terjerembap ke lantai.


"Via, cepat kabur." Raefal meneriakiku. Aku pun pergi keluar bersama Raefal sambil berlari. Kabur dari para algojo jahat itu.


Raefal memegangi tanganku di sepanjang jalan kami berlari, sementara aku menahan sakit pada tangan satunya yang terkena sayatan belati keparat itu.


Sesekali aku menengok ke belakang. Tak ada siapa pun. Sepertinya mereka tidak mengejar kami. Syukurlah kalau begitu.


Sesampainya di tempat motor Raefal terparkir. Dengan tergesa-gesa ia menyalakan motornya. Aku pun naik setelah motor itu menyala. Dan sekilas saat aku menatap ke atas gedung fakultas. Kedua makhluk itu terlihat di kaca jendela, sedang melihat ke arah kami. Aku bergidik ngeri.

__ADS_1


__ADS_2