DIA PELAKUNYA? EERINESS ....

DIA PELAKUNYA? EERINESS ....
BAB 22


__ADS_3

Aku langsung mengobati lukaku ditemani Raefal. Begitu sampai ke kosan. Saat ini kami sedang duduk di dalam kamarku dengan pintu yang sengaja dibuka, agar tak ada fitnah di antara kami. Tentu saja aku juga sudah izin sama tante Sumi untuk membawa Raefal ke kamar.


Setelah membersihkan luka ini, aku langsung mengolesinya dengan obat luka sambil ditiup-tiup untuk mengurangi rasa sakit. Tak disangka-sangka, Raefal melakukan hal yang sama. Ia ikut meniupi lututku.


"Perih, ya?" tanyanya tanpa tanpa menatapku.


"Ya perih lah. Lo sendiri gimana? Tangan lo kan juga luka."


"Gue nggak pa-pa. Cuma lecet doang. Lo nggak usah khawatirin gue."


Aku mendelik. "Siapa juga yang khawatir sama lo? Nggak usah ge'er, deh," cibirku.


Raefal tertawa renyah. "Terserah lo, deh."


Saat itu juga tiba-tiba datang Kia. Ia terkejut melihatku sedang duduk berdua di dalam kamar bersama Raefal.


"Ya ampun, kalian lagi ngapain di dalam kamar? Berduaan lagi," tanyanya dengan nada yang seolah-olah memergoki seseorang yang sedang mesum. Sambil kedua tangan memegang pipinya dan memasang raut wajah kaget dibuat-buat.


"Nggak usah lebay, deh. Lo juga tau gue sama Raefal nggak bakal ngelakuin hal-hal yang tak senonoh," kataku datar.


Cewek berwajah cantik itu cengengesan, namun tawanya hilang saat kedua bola matanya melihat ke arah lututku.


"Kaki lo kenapa itu?"


Aku dan Raefal pun menceritakan apa yang tadi kami alami. "Ini udah nggak bisa dibiarin lagi. Kita harus segera bertindak," ujarnya.


"Iya, tapi bingung harus mulai dari mana. Gue juga masih belum bisa berkomunikasi sama Mawar," gumamku.


"Eh, elo kok udah pulang? Cepet banget?" tanyaku kemudian.


"Iya, materinya cuma dikit." Kia mengempaskan dirinya ke kasur.

__ADS_1


"Via, Kia ... kayaknya gue harus pulang sekarang. Udah lumayan sore, nih." Raefal pamit untuk pulang.


Aku hanya mengangguk.


"Astaga, gue lupa," jerit Kia tiba-tiba dan membuatku terkejut. "Gue lupa ngasih tau Raefal kalau besok gue ulang tahun. Dan rencananya gue mau traktir kalian berdua," sambungnya.


"Elo bikin gue kaget tau! Kan bisa bilang besok di kampus."


"Hehehe, sori," cicitnya.


***


Tepat tengah malam, jam dinding yang beberapa hari lalu kubeli berdenting. Rasa haus menyerang. Aku beranjak ke dapur untuk mengambil segelas air di galon. Yeah, mulai sekarang aku punya dapur. Semenjak Kia pindah ke sini, perlengkapan dapur seperti kompor, gas, dispenser dan galon di taruh di ruangan yang dekat dengan kamar mandi. Kebetulan ruangan itu cukup untuk menaruh barang-barang itu.


Saat tengah minum, ekor mataku menangkap sosok perempuan masuk ke kamar mandi. Lalu keran air dinyalakannya. Aku hanya berpikir bahwa perempuan itu Kia yang kebelet di tengah malam. Namun, ketika sampai di kamar tempat tidur. Ternyata di situ ada Kia yang sedang tidur nyenyak.


Kalau itu Kia, terus tadi yang ke kamar mandi siapa? Suara air keran tak lagi terdengar. Jangan-jangan sosok gadis itu?


Pertanyaanku terjawab sudah saat sosok gadis itu berdiri di sudut kamarku. Ia menyunggingkan bibir pucatnya. Mata menoleh tajam ke arah Kia dan ....


Entah kenapa seketika aku merasakan sebuah firasat buruk. Semoga saja tidak ada yang terjadi padaku dan Kia.


***


Hari Minggu ini, kedua tanganku disibukkan dengan dua kantong plastik berisikan beberapa bahan makanan. Siang ini kami akan memasak--sebenarnya Kia yang betul-betul akan memasak, karena aku tak bisa masak. Tapi, aku masih bisa membantu kok: memotong sayuran dan menyiapkan bahan lainnya.


Yeah, kami akan membuat acara makan-makan sederhana sebagai perayaan ulang tahun Kia di kosanku. Dan hanya aku dengan Raefal saja yang diundang.


"Heh, elo kalau nggak bisa bantu-bantu mendingan pulang aja sana!" seruku pada Raefal yang dari tadi hanya asyik main game. "Bantuin kita berdua masak, kek."


"Tugas memasak kan cuma buat cewek. Kalau tugas gue, ya tinggal makan," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari handphone-nya.

__ADS_1


Aku berdecak kesal. Nyebelin banget sih nih cowok. Gerutuku dalam hati.


Aku pun merebut ponselnya. Raefal memprotes, namun apa daya ia tak bisa memarahiku--ehmmm, mungkin karena sayang jadi tidak tega marah-marah padaku.


"Iya, iya. Gue bantuin apa, nih?" Ia berdiri di sampingku.


"Elo bantu potong wortel aja," perintahku sambil menunjuk ke beberapa wortel yang tergeletak tak beraturan.


Raefal menuruti perintahku dengan wajah bete--yang menurutku terkesan lucu. Asyik juga ya ngerjain senior. Batinku.


Kia hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahku yang dari tadi memarahi Raefal. Sebenarnya aku tak benar-benar memarahinya, hanya sedikit jahil saja.


"Ini yang bener dong, nggak bersih ngupasnya." Aku menunjuk-nunjuk wortel yang kulitnya masih tersisa sedikit dengan pisau.


Raefal hanya menarik napas panjang dengan sabar.


Aku menahan tawa melihat ekspresinya. Tawaku lenyap saat melihat ke bawah, ada sebuah dompet coklat di samping kakinya Raefal.


Pasti itu dompetnya Raefal. Aku pun memungutnya tanpa sepengetahuan Raefal, dan iseng membuka dompetnya. Siapa tahu ada foto cewek, kan bisa aja. Ternyata aku salah, di dompet itu terselip fotonya dengan seorang ... nenek-nenek? Astaga, ini kan wajah nenek-nenek yang selalu mengekor Raefal.


"Elo lagi ngapain sama dompet gue?" tanyanya. Ia sudah menyadari dompetnya hilang.


"Ini nenek-nenek siapa?" tanyaku.


Raefal menatap ke arah yang kutunjuk. Lalu mulutnya membentuk huruf "O". "Itu foto nenek gue."


"Hah?" Mulutku menganga mendengar pengakuan dari Raefal. Jadi selama ini Raefal diikuti oleh neneknya sendiri.


Saat itu juga aku dikejutkan oleh sosok nenek-nenek yang tiba-tiba nongol di samping Raefal sambil tersenyum. OMG, bukannya terlihat ramah. Justru senyumannya jadi terlihat menyeramkan karena barisan giginya yang hitam. Aku membalas senyumannya dengan canggung.


Raefal yang bingung melihatku tersenyum bertanya, "Kenapa lo senyum-senyum sama gue?"

__ADS_1


"Dih, ge'er banget jadi cowok!"


Aku pun menyibukkan diri ke kamar mandi, dengan alasan membersihkan sayuran yang sudah dipotong-potong.


__ADS_2