DIA PELAKUNYA? EERINESS ....

DIA PELAKUNYA? EERINESS ....
BAB 29


__ADS_3

Aku dan Raefal berjalan menuju tempat motor Raefal terparkir. Kami mengobrol sepanjang perjalanan.


"Fal, sebenarnya ada hal yang gue sembunyiin dari lo."


"Apa emang?" sahutnya.


"Sebenarnya selama ini elo sering diikuti sama nenek lo." Pada akhirnya aku harus mengatakan tentang neneknya yang selalu mengikuti Raefal. Aku sudah tak bisa menutup-nutupinya.


Kupikir Raefal akan menunjukkan reaksi yang terkejut atau apalah. Namun dengan santai ia justru berkata, "Gue udah tau kok."


Aku mengerutkan kening. "Tau dari mana? Emang elo juga bisa lihat?"


Tak kusangka Raefal justru malah tertawa. Dan itu membuatku semakin bingung. Apa ada yang lucu dengan perkataanku?


"Emang lo pikir gue tau kalau lo lagi dalam bahaya dari siapa?" ia balik bertanya.


Aku mengedikkan bahu. "Mana gue tau."


Ia pun bercerita, "Sebenarnya malam itu gue masih dirawat, dan belum sadarkan diri malah. Tapi, tiba-tiba gue dengar suara yang selama ini sangat gue rindukan. Suara itu seolah berbisik bahwa gue harus bangun, karena elo sedang dalam bahaya. Dan nggak tau kenapa, mata gue tiba-tiba aja bisa terbuka. Gue bisa bangun dan bergerak, walaupun masih sedikit lemah. Dan kaki gue melangkah begitu saja seolah ada orang yang sedang menuntun."


Mulutku membentuk huruf 'O', "Berarti elo nggak takut dong kalau misalka sekarang pun nenek lo masih ada di samping lo?" tanyaku sambil menoleh ke arah nenek tua yang entah sejak kapan ada di samping Raefal.

__ADS_1


"Ya nggak, lah. Gue malah bersyukur karena nenek gue udah melindungi gue," Senyumnya.


Tak terasa kami sudah sampai di parkiran. Bukannya langsung naik ke motor, Raefal justru terdiam dan melamun.


"Ada apa? Kenapa diam?" Aku membuatnya tersentak.


Raefal menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan pelan. "Sekarang, apa lo udah bisa nerima gue?" Pertanyaannya membuatku tertegun. Aku harus jawab apa, ya?


"Elo nggak takut sama gue? Elo kan tau masa lalu gue gimana? Banyak orang yang bilang kalau gue udah ngebunuh cowok gue sendiri." Aku tersenyum miring.


Raefal terdiam. "Gue percaya kok, bukan elo pelakunya."


"Kenapa yakin banget bukan gue? Padahal banyak orang yang bilang begitu. Dan elo juga kan nggak ada di tempat kejadian."


Lama aku berpikir. Menimbang-nimbang jawabannya. "Oke, gue mau kasih kesempatan buat lo," kataku akhirnya.


"Thank's." Hatiku tercekat saat merasakan bibir Raefal menyentuh puncak kepalaku.


Tanpa sadar aku tersenyum. Perasaan asing yang hangat menjalari seluruh tubuhku, masuk jauh ke dalam hatiku. Apakah perasaan cinta itu tumbuh kembali?


***

__ADS_1


Raefal mengantarkanku ke tempat kosan baru. Yeah, setelah kejadian itu, aku langsung mencari kos-kosan baru. Tentu saja, lebih aman dari yang sebelumnya.


"Elo yakin kosan yang sekarang aman?" tanya Raefal sedikit khawatir, setelah sampai di depan kosan baruku. Ia sambil menatap kosan itu.


Aku mengangguk dengan sungguh-sungguh. "Gue yakin kok. Elo tenang aja."


"Kalau misalkan ada kejadian aneh-aneh lagi, elo langsung cerita sama gue, ya."


"Siap, Bos," ucapku sambil memberi hormat.


Raefal terkekeh. "Kalau gitu, gue pulang dulu," pamitnya.


"Hati-hati di jalan," kataku.


Setelah itu ia melajukan motornya dan pergi menjauh. Aku menatap kepergiannya dengan perasaan senang.


Aku senang, karena pada akhirnya aku mendapatkan akhir yang bahagia dalam hidupku.


***Terima kasih buat kalian yg masih setia membaca dan selalu dukung author, tanpan kalian author bukan apa-apa 😢😢


Semoga ke depannya bisa membuat cerita yg lebih baik lagi 😘😘

__ADS_1


Dan semoga kita bertemu lagi di cerita selanjutnya guys 🤗🤗**


__ADS_2