DIA PELAKUNYA? EERINESS ....

DIA PELAKUNYA? EERINESS ....
BAB 28


__ADS_3

"Enyah kau makhluk keparat, jangan ganggu ritual kami!" Amarah tante Sumi pada makhluk yang mencoba menyerangnya, tak lain adalah neneknya Raefal.


"Makhluk sialan!" umpatan Tante Sumi terus terlontar dari mulutnya.


"Kita harus segera pergi dari sini," bisik Raefal pelan.


"Tapi, bagaimana dengan Kia?" Aku mengkhawatirkan kondisi Kia yang terlihat sekarat.


"Nanti kita cari cara lain. Yang penting sekarang kita harus keluar dari sini."


Sebelum melangkah keluar, Mas Radit menyadari bahwa aku telah dibebaskan oleh Raefal.


"Heh, jangan kabur kalian!" teriaknya.


Buru-buru aku dan Raefal berlari ke luar. Sementara Mas Radit mengejar di belakang dan berhasil meraih tanganku.


Aku berontak untuk membebaskan diri darinya, namun cengkeraman Mas Radit terlalu kuat.


"Lepasin gue!" teriakku.


"Lepasin Livia!" Raefal ikut membantuku mencoba melepaskan diri. Tetapi ia justru terjungkal ke belakang oleh dorongan Mas Radit. Raefal merintih kesakitan sambil memegang dadanya. Sepertinya kondisi dirinya masih belum stabil, sehingga staminanya pun lemah. Padahal Raefal termasuk cowok berotot lumayan.


"Dasar cowok lemah, baru di dorong begitu aja udah jatoh. Gimana mau lindungin gadi ini," ejek Mas Radit dengan kasar.


"Elo, nggak pa-pa kan, Fal?"


"Gue nggak pa-pa, Via." Ia bangkit. "Gue mau kita duel," tantangnya.


Mas Radit tertawa, tawa yang terdengar meremehkan. "Boleh, karena kamu juga udah tahu rahasia kami. Jadi, saya tidak bisa melepasknan kamu. Kalian semua harus mati malam ini juga," katanya sambi menatap padaku dan Raefal secara bergantian. Ia melepaskanku dan meregangkan otot-ototnya. Bersiap menyerang Raefal.


Sial, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku takut Raefal kalah, bagaimanapun juga kan kondisinya masih lemah.


Raefal mengambil ancang-ancang, sedetik kemudia menyerang. Namun, dengan sigap Mas Radit menghindari beberapa serangan Raefal. Dasar Raefal bodoh, jika dia terus-terusan yang menyerang, itu hanya akan menghabiskan cukup banyak tenaga.

__ADS_1


Entah pukulan ke berapa kali, tangan Raefal berhasil ditangkis dan kini Mas Radit berbalik menyerang tepat mengenai perut Raefal sampai ia terpental ke belakang dan terguling di tanah.


Desahan napasnya yang mengap-mengap dapat terdengar sampai padaku.


Suasana semakin menegang saat Mas Radit menghampiri Raefal yang tak berdaya hanya karena terkena sekali pukulan. Ia berjongkok di depan Raefal yang terlihat tak berdaya. "Dasar bocah lemah! So-soan mau lindungi orang lain. Ngelindungi diri sendiri aja nggak bisa. Dasar payah," umpatnya sambil menarik kerah baju Raefal, sehingga ia ikut berdiri.


OMG, ayo berpikir, Via. Pasti ada sesuatu yang bisa kulakukan. Ketika tengah berpikir, mataku menangkap sebuah bongkahan kayu yang tergeletak tak jauh dari tempatku berdiri. Itu adalah bongkahan kayu yang tadi digunakan Raefal untuk menumbangkan Nilam dan Tara. Sepertinya kayu itu terbawa keluar. Aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu.


Aku pun meraih balok itu, dan melayangkannya ke arah kepala Mas Radit. Tepat sebelum Mas Radit hendak menghabisi Raefal.


Bruk ... bruk ... bruk ...


Mas Radit tumbang setelah pukulan di kepalanya yang ketiga kali. Tubuhnya sudah tak bergeming. Apa dia mati? Pikirku. Masa bodo, biar saja dia mati. Orang jahat seperti itu tak pantas hidup.


Aku berjongkok menghampiri Raefal yang setengah sadar.


"Fal, bangun. Lo masih bisa dengar gue, kan?" Aku mengguncang-guncangkan tubuhnya dengan pelan.


Aku dikejutkan oleh tubuh seseorang yang tiba-tiba terlempar ke luar dari dalam. Tubuh Tante Sumi. Tubuhnya dipenuhi oleh luka-luka. Lalu, aku mendengar sebuah jeritan seorang anak perempuan dari dalam. Aku tahu, itu pasti suara arwah anaknya tante Sumi. Jeritan itu sangat keras memecah keheningan malam. Beberapa detik jeritan itu perlahan menghilang bersama dengan munculnya sebuah cahaya dari langit. Dan beberapa makhluk berwarna putih beterbangan ke atas. Mereka pasti korban-korban tumbalnya tante Sumi, dan sekarang mereka semua sudah bebas. Aku menatap semua itu tanpa berkedip.


Samar-samar sosok seorang wanita yang kukenali muncul dari balik pintu. Dia adalah Mawar, ia tersenyum begitu melihatku.


"Terima kasih, Via. Sekarang aku sudah bebas, dan bisa pergi dengan tenang," ujarnya lembut. Ia mengalihkan perhatiannya pada Raefal. "Tolong sampaikan salamku pada Raefal. Dan ... tolong jaga dia, ya." Seulas senyuman tersungging di bibirnya. Setelah berkata begitu, Mawar menghilang tanpa bekas.


Kepergian Mawar dibarengi dengan kemunculan Kia. Ia berjalan ke arah pintu dengan langkah gontai dan beberapa kali terjatuh.


"Kia." Aku memanggilnya dan berlari menghampirinya. Kia kembali tak sadarkan diri. Aku harus segera membawanya ke rumah sakit. Begitupun dengan Raefal.


***


Setelah beberapa hari semenjak kejadian itu, aku jadi semakin dekat dengan Raefal. Sering jalan berdua, bahkan ikut mengantarnya untuk kontrol kesehatan dia. Karena waktu itu kan kondisi Raefal sangat lemah.


Sedangkan nasib tante Sumi dan Mas Radit ... mereka memang selamat, tetapi mereka telah dijebloskan ke dalam penjara bersama Nilam dan Tara. Sepertinya mereka semua akan menghabiskan setengah hidupnya di balik jeruji besi. Karena mereka terkena pasal berlapis-lapis.

__ADS_1


Raefal keluar dari ruangan dokter. Aku langsung berdiri dan menghampirinya.


"Gimana keadaan lo semakin baik, kan?" tanyaku langsung.


"Yeah, kalau nggak baik pasti gue masih dirawat, dong?" candanya.


"Syukur, deh." Aku mengembuskan napas lega. Artinya cowok genit itu sekarang sudah sembuh total.


Setelah mengantar Raefal ke dokter yang menanganinya untuk terus mengecek kondisi kesehatan dirinya, kami langsung menuju ke kamar rawat inap yang ditempati Kia.


Aku dan Raefal membuka pintu, mendapati Kia yang tengah melamun menatap ke arah jendela. Ia menengok saat mendengar bunyi decitan pintu. Lalu seulas senyuman tersungging di bibirnya.


"Gimana keadaan lo?" tanyaku sambil duduk di sampingnya.


"Gue udah sehat kok. Dan kayaknya sih hari ini juga gue udah boleh pulang."


"Bagus, deh ... eh, tapi abis keluar dari rumah sakit ini lo mau ke mana? Nggak mungkin kembali ke kosan, kan?"


Kia diam sejenak. "Kayaknya gue mau pulang kampung aja, gue masih trauma, Via. Gue mau berhenti kuliah-"


"Apa?" Aku memotongnya. "Lo serius mau berhenti kuliah? Ini baru semester 1 loh, sayang banget."


"Gue takut, Via. Gue mau pergi dari kota ini. Kota ini terlalu banyak kenangan mengerikan buat gue."


"Tapi kan lo masih bisa kuliah di universitas lain?"


"Orang tua gue nggak punya duit sebanyak itu, kalau gue pindah bisa keluar biaya lebih banyak lagi," katanya.


"Benar juga, sih," gumamku. "Ya udah, deh. Apa pun pilihan lo, semoga itu yang terbaik. Sori, gue nggak bisa bantu apa-apa."


Kia mengangguk pelan sambil mengusap tanganku. "Nggak pa-pa. Elo udah nyelamatin nyawa gue aja udah bersyukur banget."


Setelah itu, kami kembali saling bercerita untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya berpisah.

__ADS_1


__ADS_2