DIA PELAKUNYA? EERINESS ....

DIA PELAKUNYA? EERINESS ....
BAB 7


__ADS_3

Aku merasakan ada sesuatu yang terus menepuk-nepuk pipiku.


Aku membuka mata secara perlahan dan mendapati diriku yang duduk bersandar dengan kepala miring ke tembok.


Hal pertama yang kulihat ialah, wajah seorang wanita berambut panjang keriting dengan highlight merah, wajah dipoles makeup tipis. Setelah kesadaranku terkumpul, aku terlonjak kaget ke belakang begitu mengingat wajah itu ... wajah seorang wanita yang semalam membawaku pergi ke makam.


Ia mengernyitkan dahi, bingung dengan responku yang kaget karena melihatnya.


"Kamu ... manusia?" tanyaku ragu-ragu.


Sekali lagi ia mengkerutkan dahinya. "Maksud kamu apa, ya? Emang wajahku mirip setan?"


"Sori," ujarku sambil menatap ke sekeliling. Kudapati diriku sedang terbaring di lantai depan kamar kosan nomor 1.


"Kenapa kamu tiduran di depan kamarku? Kamu penghuni baru, ya? soalnya aku baru lihat kamu," katanya.


Jadi, wanita ini penghuni kamar nomor satu, dan dia manusia? Lalu semalam yang kulihat itu siapa? Apakah aku ketiduran sampai bermimpi aneh? Aku terus mengusap dahi yang terasa sakit dan sepertinya sedikit lebam. Tunggu! Kenapa dahiku sakit? Itu artinya kejadian semalam sungguhan? Karena semalam kan kepalaku membentur tanah.


Kebingunganku hilang saat Kia datang dari kamarnya. "Via, lo ngapain pagi-tiduran di sini?" tanyanya yang tak kalah kaget dengan wanita itu.


Aku segera bangun dan membersihkan tubuhku yang kotor karena terkena debu di lantai.


Tiba-tiba sebuah suara terdengar. "Gea, lo ngapain sama anak aneh itu?"


Hei, siapa yang dimaksud anak aneh? Wanita penghuni kamar nomor 2 itu keluar mengenakan pakaian rapi terbalut blazer almamater kampusku. Aku juga tersadar saat melihat wanita yang dipanggil Gea itu juga mengenakan blazer yang sama. Ternyata perempuan ini satu kampus denganku.


"Eh, Nilam. Aku juga nggak tahu kenapa dia tiduran di depan kamarku."


"Ayo berangkat. Nanti kita telat," ajaknya sambil menarik lengan wanita yang bernama Gea itu.


Aku mendengus kesal saat Nilam melewatiku dengan tampang yang membuat siapa saja ingin mencekiknya.


"Via, lo belum jawab pertanyaan gue." Ucapan Kia kembali membuatku tersentak.


"Kayaknya gue melantur waktu tidur terus nggak kerasa sambil jalan, dan tidur di sini, deh," kilahku.


"Jadi lo punya kebiasaan melantur waktu tidur?"

__ADS_1


Aku mengusap pundak. "Yah, gitu deh ... eh, by the way ini udah jam berapa?" tanyaku panik seketika teringat bahwa aku ada kelas pagi hari ini.


"Jam 07.30."


"Astaga, gue bakal telat nih. Lo tungguin gue ya, Kia."


"Nggak bisa, Via. Ini udah siang. Kalau gue nunggu lo bisa-bisa gue juga ikutan telat."


"Yah, kok lo jahat sih." Aku memasang tampang bete.


"Sori, tapi ini udah siang. Sekarang mendingan lo cepat siap-siap sana. Gue tunggu di kampus ya, dah." Kia berlari keluar gerbang kosan. Aku ingin mencegahnya, tapi apa daya. Daripada membuang waktu, aku langsung bergegas ke kamar. Tanpa mandi, cuma mencuci muka doang dengan gerakan kilat.


Saat menuruni tangga, langkahku terhenti karena melihat Raefal sedang duduk di atas motornya yang terparkir di depan gerbang kosan. Sedang apa dia di situ?


Raefal turun dari motornya ketika melihatku datang.


"Elo ngapain di sini?" tanyaku.


"Tadi gue di telpon sama teman lonyang namanya Kia. Katanya lo kesiangan? Ayo, naik motor sama gue biar cepet," tuturnya disertai senyuman.


Aneh, dari mana Kia punya nomor cowok genit ini. "Kia punya nomor lo dari siapa?"


"Sori, tapi gue nggak nyuruh Kia buat minta lo jemput gue, tuh."


"Kalaupun disuruh juga tetap gue mau kok. Dengan senang hati." Lagi-lagi ia memperlihatkan barisan giginya yang rapi.


Aku mendengus. Dasar cowok genit! Umpatku dalam hati.


"Ayo, naik." Ia menarik lenganku. Aku tak bisa menahan tarikannya yang kuat, mau tak mau aku pun mengikuti perintahnya. Terpaksa juga karena waktuku sudah mepet.


Sesampainya di kampus. Semua mata tertuju padaku--lebih tepatnya kami, karena saat ini aku sedang bersama salah satu kating paling populer di kampus. Oke, aku langsung buru-buru turun dan bergegas menuju kelas. Tanpa mengucapkan terima kasih. Sudah kubilang kan, aku paling tidak suka jadi pusat perhatian.


Kudengar Raefal memanggil-manggil, namun aku tak mengindahkannya.


"Kia, maksud lo apa sih nyuruh si Raefal jemput gue?" tegurku dengan kesal saat sampai di dalam kelas. Aku tak bermaksud untuk memarahi Kia. Hanya saja, tindakannya tidak membuatku nyaman. Padahal sudah kukatakan berapa kali bahwa aku tidak menyukai Raefal.


"Ya ... gue pikir kalau gue minta tolong sama Kak Raefal, lo jadi nggak harus lari-larian ke kampus," jelasnya.

__ADS_1


"Iya tapi gue udah bilang berapa kali ke lo kalau gue nggak suka sama cowok genit itu," dengusku.


"Iya sori, gue kan cuma mau bantu lo doang," sesalnya.


Aku menghela napas. "Ya udah, tapi jangan kayak gitu lagi, ya. Jangan sekali-kali lo menyangkutpautkan Raefal sama masalah gue."


"Iya, gue janji."


"Tapi, kok lo bisa punya nomor dia?" tanyaku tiba-tiba penuh selidik. Sebenarnya ada hubungan apa antara Kia dengan Raefal. Maksudku bukankah itu aneh, tiba-tiba saja junior dan senior saling bertukar nomor. Pasti ada maksud terselubung.


Aku melihat mata Kia yang bergerak ke kiri dan kanan dengan gugup. Namun, sebelum ia sempat menjawab, bel tanda masuk pun berbunyi. Aku terus menatap Kia penuh tanya.


Mata kuliah pertama dosen yang membimbing adalah Pak Kumis. Sesuai namanya, beliau punya kumis yang lumayan lebat di atas bibirnya. Kalian tahu Pak Raden? Seperti itulah gambarannya.


***


Beberapa kali aku mengubah posisi dudukku, merasa tak nyaman karena perut keparat ini yang sedari tadi meronta-ronta ingin dibuang--maksudku isinya. Entah mengapa perutku tidak bisa diajak kompromi. Padahal tadi pagi belum sempat makan apa-apa. Seharusnya kan terasa lapar, bukan malah mulas.


Aku pun meminta izin untuk pergi ke toilet, dan terpaksa memakai toilet yang ada di fakultas manajemen. Kuharap makhluk itu sedang tidak ada di sana. Namun aku salah, ia justru tengah berdiri di dalam sana. Menatap tajam ke arahku.


Tapi, aku pura-pura tak melihatnya. Tiba-tiba ia mencengkeram tanganku. Sial, mengapa ia bisa menyentuhku?


"Kamu bisa lihat aku, kan?" tanyanya dengan suara parau.


"Lepasin gue." Aku berusaha berontak karena perutku sudah tidak kuat lagi.


"Kamu harus berjanji dulu bahwa kamu nggak akan kabur, ada sesuatu yang mau aku bicarakan denganmu."


"Nggak mau. Lepasin gue, gue udah nggak tahan, nih," pintaku setengah memelas karena rasanya udah di ujung tanduk.


"Janji dulu kalau kamu mau membantuku. Setelah itu aku akan melepaskanmu," katanya mengencangkan cengkeramannya. Dan itu membuatku semakin kesakitan.


Sial, aku tak punya pilihan lain selain mengiyakannya. Daripada harus buang air besar di celana. Bisa gawat--bahkan sangat akan sangat memalukan.


"Oke ... gue mau bantuin lo. Tapi, tolong lepasin tangan gue!"


Setelah berkata begitu, barulah ia melepaskannya. Aku langsung membuka pintu kamar mandi dan menutupnya dengan keras.

__ADS_1


Astaga, apalagi ini? Kenapa aku harus berurusan kembali dengan hal seperti itu? Aku mengusap wajah dengan frustasi sambil merenungi apa yang akan terjadi lagi padaku kali ini.


__ADS_2