DIA PELAKUNYA? EERINESS ....

DIA PELAKUNYA? EERINESS ....
BAB 10


__ADS_3

"Aaaa ..." Aku berteriak saat sebuah tangan mencengkeram pundakku.


"Kamu kenapa, Via?"


Aku membuka mata, dan bernapas lega setelah tahu bahwa itu Tante Sumi.


"Kenapa kamu melamun di depan gerbang?" tanyanya lagi.


Aku mengusap-usap tengkuk. "Nggak pa-pa, Bu. Oh ya, Bu. Tadi saya liat ada anak cewek yang baru keluar dari kosan ini. Apa dia penghuni kosan ini juga? Soalnya saya belum pernah liat."


"Bukan, dia teman anak saya."


Aku manggut-manggut. "Apa namanya Tara, Bu?" tanyaku memberanikan diri agar aku dapat memastikan bahwa itu benar-benar Tara atau bukan.


Tante Sumi terdiam menatapku sedikit lama. "Namanya Wina."


"Ooo ... kalau begitu saya mau masuk ke kamar dulu," pamitku.


Sepertinya memang betul, hanya halusinasiku saja. Lagi pula mana mungkin orang yang sudah mati bisa hidup lagi? Tapi, ada satu hal yang membuatku bingung. Sejak kapan Tante Sumi punya anak? Karena selama tinggal di sini, belum pernah sekali pun aku melihat anaknya. Sudahlah, siapa tahu anaknya termasuk orang sibuk yang jarang menghabiskan waktunya di rumah.


***


Aku mengejar sambil memanggil-manggil Gea--meskipun di sampingnya ada Nilam.


"Gea, tunggu!" teriakku.


Mereka berbalik. "Elo kalau sama senior yang sopan, dong. Nggak bisa apa manggil kita dengan sebutan 'Kak'?" protes Nilam dengan mata melotot.


"Eh, dengar ya. Gue manggil Gea, bukan lo," timpalku tak kalah melototnya dari Nilam.


Sepertinya ia akan melontarkan sebuah makian padaku. Namun sebelum itu terjadi, Gea menghalanginya.


"Udah, nggak pa-pa, Nilam. Emang ada apa kamu panggil aku?"


"Gue mau nanya sesuatu sama lo. Tapi ... cuma antara lo sama gue aja," jelasku sambil menatap sinis ke arah Nilam, berharap ia menangkap sinyal dariku untuk pergi.


"Emang kenapa sih kalau ada gue? Masalah gitu?" celetuk Nilam.


"Iya. Karena urusan gue sama Gea, bukan sama lo," cetusku.


Nilam memelototiku dengan tajam. Aku bisa mendengar dengusan napasnya yang terasa membara. Dengan tangan dilipat, ia mendekatiku. Mengangkat dagunya seolah sedang menantangku. "Elo mau cari ribut sama gue?"

__ADS_1


"Sudah hentikan! Kalian jangan berantem. Aku nggak tahu masalah kalian apa." Gea berusaha menahan Nilam dan memandangi kami secara bergantian. Kalau ditanya masalahku dengan Nilam apa, aku pun tak tahu. Yang pasti Nilam duluan yang cari masalah, karena ia pikir aku mau merebut Raefal darinya. Padahal sudah jelas si Raefal itu yang selalu mengejar-ngejar diriku.


"Yang pasti kalau kamu ..." Ia menatapku. "Kalau ada yang mau dibicarain sekarang aja. Soalnya sebentar lagi kita ada kelas."


Aku menghela napas panjang. "Oke, jadi langsung aja. Apa kalian berdua teman Mawar?"


"Kamu tahu dari mana?"


"Lo tau dari mana?" Mereka menjawab secara bersamaan.


"Kalian nggak perlu tau gue tau dari mana. Gue cuma mau nanya, apa Mawar punya musuh di kampus?"


"Bentar, deh!" potong Nilam. "Kematian Mawar itu misterius. Nggak ada satu pun orang yang tau penyebabnya. Dan elo anak baru di sini ... tau tentang Mawar? Jangan-jangan lo ada hubungannya dengan kematian Mawar!" tuduhnya sambil mengarahkan jari telunjuknya tepat di depan wajahku.


Aku menepisnya dengan kasar. "Jangan sembarangan nuduh, ya!"


"Terus dari mana lo tahu tentang Mawar?"


"Gue tau dari ..." Aku diam sejenak. Kini Nilam dan Gea menatapku dengan curiga. Sial, kenapa jadi aku yang dituduh?


"Dari Mawar," jawabku ragu-ragu.


"Elo jangan ngaco, deh!" sanggah Nilam.


"Gue serius!" tegasku.


"Udah kita nggak usah dengerin ucapan anak aneh ini." Nilam menarik lengan Gea.


"Hei, siapa yang lo bilang anak aneh?" protesku. Ini sudah ke berapa kalinya Nilam menyebutku anak aneh. Tentu saja aku tak terima. Tetapi Nilam tak menghiraukan ucapanku, begitu pula dengan Gea. Mereka pergi begitu saja meninggalkanku. Sekarang apa yang harus kulakukan untuk Mawar, bagaimana aku bisa membantunya jika kedua temannya saja tak bisa mempercayaiku?


***


Aku duduk dengan kaki terjulur lurus ke depan sambil bersandar di tembok keramik. Yeah, saat ini aku lebih memilih menghabiskan jam istirahat di dalam toilet perempuan yang terletak di fakultas manajemen bersama dengan ... Mawar. Kami berdua sedang disibukkan dengan pikiran masing-masing.


"Kita harus gimana kalau Nilam dan Gea nggak percaya sama kamu?" Mawar membuka obrolan.


Aku mengedikkan bahu.


"Apa nggak ada cara supaya mereka bisa percaya sama kamu?"


Aku mengedikkan bahu lagi.

__ADS_1


"Kenapa responnya cuma gitu doang? Kamu niat menolong aku nggak, sih?" tanya Mawar gusar.


"Gue juga lagi mikir kok," kataku sedikit malas. Yeah, aku memang setengah niat menolongnya.


Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara pintu toilet yang dibuka. Spontan aku bangun saat tahu siapa yang datang. Ternyata Gea, ia masuk ke dalam toilet sambil celingak-celinguk ke luar. Seolah menjaga situasi agar tetap aman.


"Gea, ngapain lo ke sini?"


Gea menyipitkan matanya. "Emang nggak boleh ya kalau aku ke toilet? Ini kan tempat umum?"


"Iya, sih. Tapi, lo aneh banget. Kayak takut ada orang yang tau kalau lo ke sini."


"Aku cuma takut Nilam tau kalau aku lagi cari kamu."


"Emang kenapa lo cari gue?"


Ia berjalan pelan ke arahku. "Sebelumnya kita belum kenalan, kan?" tanyanya disertai senyuman. "Namaku Gea."


"Udah tau," jawabku.


"Tapi, aku belum kenal sama kamu. Pertemuan pertama kita kan belum sempat berkenalan."


"Nama gue Livia, panggil Via aja."


"Oke, Via. Langsung aja ya, aku cari kamu karena aku penasaran sama ucapan kamu yang tadi." Gea menatapku dengan serius.


"Tentang Mawar?"


Gea menganggukkan kepalanya. "Dari mana kamu tahu?"


"Kan tadi udah gue bilang dari Mawar."


"Tapi, Mawar kan udah ..." Gea tak melanjutkan ucapannya.


"Iya gue tau. Maksud gue, gue tau dari arwahnya Mawar. Tuh, dia ada di samping lo," tunjukku ke arah samping Gea berdiri. Tentu saja Gea langsung menoleh ke arah yang kutunjuk. Mawar tersenyum melihat Gea, namun Gea tidak bisa melihat temannya itu. "Dia tersenyum tuh."


"Apa kamu punya indra keenam?" tebaknya tiba-tiba. Ternyata Gea punya tingkat kepekaan yang tinggi.


"Tapi, lo jangan bilang siapa-siapa ya, termasuk Nilam," pintaku. Gea hanya menganggukkan kepala sekali. "Tebakan lo benar. Gue emang punya indra keenam," terangku.


"Kamu tenang aja. Aku tahu sifat Nilam seperti apa. Jadi nggak usah khawatirkan soal itu. Aku cuma mau tahu, apa yang Mawar pinta dari kamu."

__ADS_1


Aku duduk kembali bersandar ke dinding keramik toilet dengan posisi yang tadi. Karena sepertinya aku akan memakan waktu lama saat menceritakan semuanya. Gea ikut duduk di sampingku. Begitu pun Mawar yang duduk di sampingnya tanpa sepengetahuan Gea. Tentu saja Gea tak tahu, dia kan tak bisa melihat Mawar.


__ADS_2