DIA PELAKUNYA? EERINESS ....

DIA PELAKUNYA? EERINESS ....
BAB 21


__ADS_3

Berita tentang kematian Gea menjadi perbincangan hangat hari ini. Sejak pagi, yang kudengar dari obrolan semua orang hanyalah tentang kematian Gea. Bahkan sampai istirahat pun sebelah kiri, kanan, depan dan belakang semuanya membicarakan soal Gea.


Bahkan anak-anak cewek banyak yang mengambil kesimpulan bahwa Gea mati bunuh diri. Memang dasar tukang gosip, padahal mereka tidak tahu apa-apa soal kejadian yang sebenarnya. Hanya aku dan Kia yang tahu.


Tentu saja rumor itu meluas begitu cepat. Aku tak bisa membayangkan jika berada di posisi orangtua Gea, mendengar anaknya yang digosipkan mati bunuh diri. Dan lebih parahnya entah siapa yang menambahkan rumor Gea bunuh diri karena cowok. Gila memang manusia zaman sekarang!


"Kenapa mereka pada sok tau, ya?" tanya Kia setengah berbisik padaku.


Aku tersenyum kecut. "Itulah manusia. Padahal mereka tidak melihat kejadiannya dengan mata kepala mereka sendiri. Tapi, berani mengambil kesimpulan hanya untuk jadi bahan gibahan mereka."


"Via!" Seseorang memanggilku dari belakang. Ketika menoleh, aku melihat Raefal yang berjalan ke arahku.


"Apa benar Gea mati bunuh diri?" tanyanya setelah duduk di sampingku.


"Menurut lo?" tanyaku balik.


"Menurut gue sih ..." Ia menempatkan jari telunjuk di pelipisnya. "Ya nggak mungkin lah. Gea bukan tipe orang yang kayak gitu."


"Itu lo tau, masa lo mau ikut-ikutan nuduh temen lo ngelakuin hal bodoh kayak gitu?"


Raefal mengangguk patah-patah. "Tapi, kenapa cewek-cewek bikin gosip kayak gitu?" tanyanya lagi.


Bibir atasku naik sebelah. "Lo tanya aja sama mereka ... yang pasti, kematian Gea itu ada hubungannya dengan kasus Mawar."


"Maksud lo Gea juga korban santet ...?" tanya Raefal perlahan.


Aku mengangguk mengiyakan.


"Terus sekarang kita harus gimana?" tanyanya melayangkan pandangan bergantian padaku dan Kia.


Kami berdua mengedikkan bahu.


***


Matahari mulai bergerak perlahan ke arah barat. Menandakan senja akan segera datang.


Aku berjalan keluar dari kampus sendirian, karena Kia tidak bisa pulan bareng. Ia harus mengikuti kelas bimbingan tambahan untuk memperbaiki nilai latihannya yang buruk. Untung saja nilaiku lumayan bagus, hasil belajar. Begini-begini juga aku tak pernah melupakan kewajibanku untuk belajar.

__ADS_1


Cowok genit--maksudku Raefal. Sepertinya aku harus berhenti memanggilnya cowok genit, lantaran kenyataannya cowok itu tidak semenyebalkan waktu pertama bertemu. Akhir-akhir ini ia juga jarang menggodaku. Entah sudah menyerah atau menunggu waktu yang tepat.


Raefal berjalan di sampingku. Yeah, aku akan pulang bersamanya--lebih tepatnya terpaksa pulang bersamanya. Dengan dalih untuk melindungiku, takut ada para algojo jahat itu lagi. Begitu ucapnya.


Aku tersentak dan refleks memeluk pinggang Raefal saat ia menyalakan motor sambil mengoper gigi. Tentu saja kaget. Kupikir motor ini akan terbang. Oke, khayalanku terlalu tinggi. Mana ada motor bisa terbang.


"Cie ... curi-curi kesempatan nih, ya," ejeknya setengah menengok ke belakang sambil cengengesan.


Aku pun langsung menjauhkan tanganku darinya.


"Loh, kenapa dilepas?" Nada suaranya seperti orang kecewa. "Padahal gue suka kok dipeluk sama lo," godanya disertai cengiran.


Dasar cowok genit, baru beberapa menit yang lalu aku memujinya. Eh ternyata dia masih sama saja. "Ternyata lo nggak berubah, ya. Sama aja kayak waktu pertama ketemu. Tetap jadi Raefal si cowok genit," cibirku sembari memasang wajah bete.


"Gue genit juga cuma ke lo doang kok," terangnya.


"Bodo amat!" sewotku. "Ya udah, cepetan jalan. Nanti keburu sore, nih." Aku mengalihkan pembicaraan.


Tak banyak bicara lagi, Raefal pun melajukan motornya.


Cepat-cepat aku menjawabnya, "Katanya hal itu udah nggak penting lagi? Katanya sekarang mau fokus bantuin gue cari tahu kasus Mawar?"


"Yah, siapa tau kan elo berubah pikiran. Sayang aja cewek secantik lo jomblo," kekehnya.


Ucapan Raefal membuatku menahan senyum. Tunggu! Seketika ekspresiku berubah. Kenapa aku senang dipuji oleh cowok genit ini? OMG, sadar Livia! Aku menggeleng-gelengkan kepala, berusaha untuk menghilangkan perasaan aneh itu. Sepertinya Raefal merasakan motornya yang sedikit oleng karena gerakanku.


"Elo kena-" Sebelum ucapannya selesai. Tiba-tiba saja motor yang kami tumpangi terjatuh entah apa penyebabnya. Dan sialnya kaki kananku tertimpa motor. Sakit sekali. Aku menjerit kesakitan.


Raefal yang menyadari keadaanku, ia langsung bangun dan menyingkirkan motornya dariku.


"Elo nggak pa-pa, kan?" suaranya terdengar panik sembari berkali-kali memeriksaku.


"Elo gimana sih nggak becus banget bawa motor!" bentakku.


"Sori." Raefal membantuku berdiri dan membawaku ke tepi jalan. Aku berjalan sedikit pincang. Lututku terluka lecet dan berdarah.


"Sial banget sih gue. Mana tangan masih sakit. Eh, sekarang nambah lagi kaki," gerutuku kesal sambil menahan rasa sakit.

__ADS_1


"Sori, Via. Gue benar-benar nggak tau kalau kita bakalan jatoh." Raefal memandangku dengan sendu. Lalu ia mengedarkan pandangan ke sekeliling jalan. Matanya berhenti di satu titik, ia pun bangkit dan menghampiri tempat itu.


Aku lihat Raefal berjongkok dan sedang memegang sesuatu di tanah, entah apa. Aku tak dapat melihatnya dari sini. Setelah itu ia balik lagi ke arahku.


"Gue nemuin benang nilon putih yang kayaknya tadi kelilit ban depan motor gue. Sepertinya ada orang yang sengaja pasang jebakan itu untuk buat kita celaka."


"Jebakan?" Aku mengulang perkataannya.


Raefal mengangguk.


"Kayaknya orang itu sudah tau kita akan lewat sini. Makanya dia bikin jebakan. Ditambah jalanan ini sedang sepi," imbuhnya lagi.


Aku masih belum mencerna ucapannya. Lagi pula, siapa sih orang sinting yang pasang jebakan untuk mencelakai orang lain. Pikiranku buyar ketika mataku melihat ujung siku Raefal yang berdarah.


"Elo juga berdarah."


Spontan Raefal langsung menutupi lengannya. "Gue nggak pa-pa kok."


Belum sampai di situ, sebuah botol minuman kosong terlempar ke arah kami entah dari mana. Tidak benar-benar kosong, sih. Di dalamnya ada gulungan kertas dan beberapa batu kerikil. Mungkin untuk tambahan beban agar botol itu bisa terlempar jauh.


"Surat apa ini?" tanya Raefal padaku.


Aku mengedikkan bahu. "Coba dibaca."


Di dalam surat kaleng itu berisi satu buah kalimat,


MASIH MAU BERMAIN DENGAN KAMI???


Surat ancaman lagi. Ternyata yang buat jebakan itu si algojo keparat.


Kami melayangkan pandang ke seluruh penjuru arah, namun tak ada siapa pun--atau mereka sedang bersembunyi di balik salah satu pohon yang ada di sekitar jalanan ini. Memang dasar pengecut. Apakah mereka takut melakukan aksinya di jalanan umum.


"Kayaknya kita harus segera pergi dari sini," ujar Raefal. Matanya awas sambil celingak-celinguk.


Ia membantuku berdiri. Kami pun pulang menuju kosanku. Untung saja tak ada kejadian yang lebih mengerikan lagi.


Memang benar, pulang bersama Raefal adalah pilihan yang sangat tepat. Coba kalau aku pulang sendiri, mungkin kejadiannya akan lain lagi. Karena pelakunya salah satu mahasiswa di kampus--menurut perkiraanku. Makanya mereka tau gerak-gerik kami. Bahkan jalan yang biasa kulewati pun mereka tau. Benar-benar tak bisa dianggap remeh.

__ADS_1


__ADS_2