DIA PELAKUNYA? EERINESS ....

DIA PELAKUNYA? EERINESS ....
BAB 24


__ADS_3

Aku terbangun dalam keadaan pusing luar biasa. Kepalaku berat, serasa ada ribuan kilo benda yang diletakkan di atas kepalaku.


Aku mengejap-ngejapkan mata, bau obat-obatan memenuhi indra penciumanku.


Kudapatkan diriku tengah berbaring di kasur. Di mana ini? Pikirku dalam hati.


"Elo udah sadar?" Suara seseorang terdengar di sampingku. Aku menoleh, mendapati Raefal memandangiku dengan kecemasan.


"Gue ada di mana?" tanyaku.


"Elo ada di ruang kesehatan. Tadi ada yang nemuin lo pingsan di toilet cewek," jelasnya.


"Pingsan?" ucapku ulang.


Raefal menjawab pertanyaanku dengan sekali anggukan. "Emang lo kenapa, sih? Apa ada masalah?"


Astaga, bukankah tadi aku ketemu Tara di toilet cewek? Itu beneran Tara atau memang cuma halusinasiku saja?


"Woy." Raefal mengagetkanku. "Ditanya kok malah diem, sih?"


"Gue ... gue cuma agak sedikit pusing."


"Elo beneran nggak ada masalah, kan?" tanyanya penuh selidik.


"Gue mau balik ke kelas."


Raefal menahanku. "Jangan dulu, lo harus banyak istirahat."


Tapi aku tetap bersikukuh untuk bangun. Sialnya, tubuhku mendadak lemas dan pada akhirnya terjatuh ke pelukan Raefal.


Sesaat kami saling pandang dalam diam. Saat menatap matanya, aku seperti merasa bahwa Leo sedang bersamaku. Kenapa harus si Raefal yang mendapatkan donor mata dari Leo ....


"Lo nggak pa-pa, kan?" tanyanya. Sesaat pegangan Raefal melonggar. Menggunakan kesempatan itu, aku pun melepaskan diri darinya.


"Elo ngeyel banget, sih," geramnya. "Kan udah gue bilang, jangan dulu ikut kelas. Lo istirahat aja kalau masih pusing."


Pada akhirnya aku absen dari kelas, kuputuskan untuk pulang saja. Awalnya Raefal menawarkan diri untuk mengantarku pulang, namun aku menolaknya. Karena aku tak ingin Raefal bolos hanya demi aku.


Entah mengapa langkah kakiku terasa berat, lebih berat dari biasanya. Mungkin gara-gara aku terlalu mikir keras tentang semua kasus itu.


Saat melewati kamar Nilam, aku tak sengaja mendengar bunyi sesuatu. Bunyi apa, tuh? Kan ini masih jam kuliah. Masa Nilam bolos kuliah? Atau jangan-jangan ada orang yang masuk ke kamarnya? Batinku.


Aku menghentikan langkah tepat di depan pintu. Dan merapatkan kupingku pada pintunya. Bunyi desahan terdengar dari dalam.

__ADS_1


Deg!


Bunyi desahan siapa itu? Mataku yang tak tahu diri ini mengintip di celah-celah tirai jendela yang sedikit terbuka. Astaga, betapa terkejutnya aku mendapati Nilam sedang melakukan ... sesuatu yang menjijikkan.


OMG, aku tak menyangka cewek rese itu ternyata bukan hanya sifatnya yang rese. Tapi, sikapnya pun tak kalah buruk. Bisa-bisanya ia melakukan hubungan suami istri di siang hari bersama cowok di luar pernikahan. Di kosan ini pula. Aku harus mengadukan hal ini pada tante Sumi.


Buru-buru aku bergegas ke rumah tante Sumi dengan setengah berlari.


Beberapa kali aku mengetuk pintu, tak lama tante Sumi membukanya.


"Ada apa, Via? Kok kamu jam segini udah pulang? Kamu nggak kuliah?" tanyanya.


"Saya izin pulang karena sakit, Tante. Tapi, bukan itu yang mau saya sampaikan. Ada hal lain ... saya ... saya nggak sengaja Nilam melakukan hubungan ... mmmm ..." Aku sedikit ragu mengatakannya.


"Hubungan apa?"


"Nilam bawa cowok ke kamarnya. Dan mereka melakukan itu tuh, Tante. Itu ... kayak gitu, deh. Mesum," jelasku terbata-bata.


"Masa, sih?" tanya Tante Sumi tak percaya. "Nilam itu anak baik-baik mana mungkin dia melakukan hal begituan. Lagi pula ini kan jam kuliah dia. Kamu salah lihat kali."


"Kalau Tante nggak percaya, kita lihat aja ke kamarnya."


Tante Sumi diam sejenak. "Kalau begitu ayo kita ke sana. Tapi, saya mau matikan kompor dulu. Soalnya tadi saya lagi masak." Ia pamit pergi ke dalam.


Akhirnya datang juga. Tante Sumi langsung mengajakku menuju kamar Nilam. "Ayo."


***


Tante Sumi mengetuk kamar Nilam dengan keras.


Selang beberapa menit Nilam keluar mengenakan piama, sambil mengucek-ngucek matanya, dan sesekali menguap ia bertanya, "Ada apa, Bu? Saya lagi istirahat."


"Apa benar kamu bawa anak lelaki ke kosan?"


"Maksudnya, Bu? Saya baru aja bangun tidur."


"Elo nggak kuliah?" tanyaku dengan tatapan curiga.


"Gue lagi sakit, makanya absen. Emang kenapa?"


"Tadi Livia bilang, dia lihat kamu di dalam kamar sama cowok."


"Ya ampun, Via. Kenapa lo fitnah gue kayak gitu? Maksud lo apa? Gue tau lo nggak suka sama gue. Tapi, nggak gitu juga caranya," gerutunya.

__ADS_1


"Tapi, tadi gue jelas banget liat lo lagi begituan sama cowok."


"Astaga, Via. Elo kok jahat banget, sih!" omelnya. "Gue nggak mungkin ngelakuin hal kayak gitu. Emang lo pikir gue cewek apaan?" bentaknya.


"Sudah, sudah. Kalian berdua jangan berantem. Livia, tadi kan kamu bilang kalau kamu lagi nggak enak badan. Mungkin kamu salah lihat atau lagi berhalusinasi."


"Tapi, Tante. Saya beneran lihat dengan jelas-"


"Cukup, Livia," potong tante Sumi. "Lebih baik sekarang kamu masuk ke kamar dan beristirahat."


Aku mendengus kesal, lalu pergi meninggalkan mereka.


Aku tahu mataku tak salah lihat. Kalau tadi itu cuma halusinasi, mana mungkin telingaku juga ikut berhalusinasi.


"Loh, Via. Kok elo jam segini udah pulang?" tanya Kia yang sedang berbaring sambil memainkan ponselnya.


"Gue lagi nggak enak badan. Makanya gue absen dan minta pulang."


"Elo sakit juga? Pasti ketularan gue, ya?"


"Nggak kok. Gue emang lagi nggak enak badan aja."


"Oooo, itu di luar kenapa berisik banget tadi? Elo berantem sama Nilam? Emang dia juga nggak kuliah?"


"Tau ah, gue juga pusing," dengusku. "Pokoknya hari ini gue mau istirahat aja. Nggak mau mikirin hal-hal lain dulu. Lama-lama kepala gue bisa meledak mikirin masalah kalian semua," keluhku.


Kia hanya melongo mendengar keluhanku.


***


"Via, elo kenapa kayak dulu lagi ... selalu menghindar dari gue?" Raefal menghadangku di kantin.


"Sori, Fal. Gue udah lapar banget, elo minggir sana jangan halang-halangi pandangan gue," ketusku.


"Kenapa sikap lo berubah lagi? Bukannya kemarin-kemarin kita udah jadi teman baik?" tanyanya sambil menundukkan kepala untuk menatapku.


Aku menghela napas. "Cowok yang donorin mata ke elo namanya Leo, kan?"


Raefal mengerutkan keningnya. "Elo tau dari mana?" tanyanya pelan.


Aku menatapnya tajam. "Karena gue adalah cewek yang digosipkan bunuh cowok gue sendiri." Suaraku lembut namun menusuk.


Raefal diam tak bergeming.

__ADS_1


Dapat kupastikan, setelah kejadian ini dia pasti tak akan mengejarku lagi.


__ADS_2