DIA PELAKUNYA? EERINESS ....

DIA PELAKUNYA? EERINESS ....
BAB 27


__ADS_3

"Kalian mau ngapain?" tanyaku sedikit panik saat mereka berjalan mendekatiku.


"Kamu nggak usah takut, Via." Mas Radit menyeringai. "Bukannya kamu sendiri yang ingin menyelidiki kasus kematian Mawar, kan? Makanya kamu harus ikut dengan kami supaya kamu tahu. Tapi ..." Ia menghentikan ucapannya. Lalu menoleh pada tante Sumi. "Kita nggak bisa ngejamin kalau kamu bisa kembali dengan selamat, loh."


Sial, apa yang harus kulakukan? Mengapa aku selalu terpojok pada situasi yang seperti ini, sih!


"Memangnya apa kaitannya kalian dengan kematian Mawar?" Sebisa mungkin aku mengulur waktu sambil memutar otak bagaimana caranya keluar dari gudang ini.


"Kan sudah saya katakan, kalau mau tahu ikutlah dengan kita."


Aku tak menggubris ucapannya, karena mataku melihat sebuah pintu terbuka yang mengarah langsung ke dalam rumah tante Sumi. Beruntungnya aku pintu itu terbuka, ini kesempatan.


Aku pun langsung berlari menuju pintu itu.


"Mau ke mana kamu!" teriak Mas Radit sambil berlari mengejarku. Tapi, aku berhasil kabur. Setidaknya hanya sementara karena di balik pintu sudah berdiri seorang wanita yang kubenci.


Nilam ... dia berdiri dengan tangan memegang sebongkah kayu. Sudah kuduga, dia juga termasuk salah satu pelakunya.


Tanpa diduga gadis itu melayangkan kayu itu tepat mengenai kepalaku.


Arrrggghhh ... aku memekik kesakitan, perlahan pandanganku mulai buram dan akhirnya hilang.


***


PERLAHAN-LAHAN aku tersadar. Dan mendapati diriku sedang diseret.


Bukan diseret sebenarnya. Mereka--ya benar, ada dua orang--mengangkat kedua tanganku di atas bahu mereka, dan kakiku dibiarkan terseret-seret di lantai.


Aku berusaha membuka mata, tapi sepertinya, meski kesadaranku mulai pulih, tubuhku masih tidak mau menerima perintah dari otakku. Aku tidak bisa bergerak, mataku bahkan tidak bisa kubuka. Sial, mungkin karena efek pukulan tadi yang masih terasa sakit. Jadi, yang bisa kulakukan hanyalah mendengarkan, merasakan, dan berpikir.


Setidaknya otakku sudah mulai bisa berfungsi.


Kami menuruni beberapa anak tangga. Ternyata rumah ini mempunyai ruangan bawah tanah.


Mereka berhenti, lalu membanting tubuhku ke lantai. Itu membuatku tersentak dan membuka mata.


Aku mengedarkan pandangan. Ruangan ini agak gelap karena minimnya cahaya lampu. Di depanku berdiri seseorang yang selama ini mengganggu pikiranku. Tara. Ia tersenyum miring. Apalagi ini? Apa hubungannya Tara dengan mereka?


"Kalian berdua, cepat ikat dia!" perintah tante Sumi pada Tara dan Nilam.

__ADS_1


Aku mencoba berontak, tapi sepertinya tenagaku terlalu lemah untuk melawan mereka berdua sampai akhirnya tanganku berhasil diikat.


"Tara, bukannya lo udah mati?" tanyaku kemudian.


"Aku memang sudah mati," senyumnya. "Tapi, berkat tante Sumi aku bisa hidup lagi. Orang tuaku membawaku pada tante Sumi, mereka mau melakukan apa saja asal aku bisa hidup lagi. Dan sebagai gantinya, aku jadi pengikut tante Sumi."


Aku menganga tak percaya dengan apa yang kudengar. Bagaimana mungkin orang yang sudah mati bisa hidup lagi? Itu tak masuk akal!


"Mustahil!"


"Sebentar lagi juga kamu akan percaya, setelah melihat ia membangkitkan anaknya, yang kamu bilang mustahil."


"Apa?"


"Sudah cukup basa-basinya, Tara. Sekarang biar saya yang akan menjelaskan padanya." Tante Sumi menghampiriku. "Sebenarnya saya tak ingin kamu terlibat, Via. Karena kamu anak dari sahabat saya. Tapi, kamu sendiri yang bersikeras mau bantuin Mawar menguak kematiannya. Kalau kamu berhasil, kamu juga bisa membongkar rahasia kami. Padahal kami sudah beberapa kali memperingatimu, tapi kamu tak peduli."


"Berarti semua teror yang terjadi itu ulah tante Sumi?"


Ia mengangguk. "Dan yang ngelakuin itu semua adalah Nilam dan Tara. Mereka saya tugaskan untuk memperingati kamu."


"Tapi, kenapa kalian membunuh Mawar dan Gea?"


"Gea adalah tumbal kami yang ke-6. Seorang gadis yang lahir di hari selasa kliwon. Totalnya ada tujuh. Awalnya kami bingung harus mencari tumbal terakhir ke mana. Lalu teman kamu berulang tahun dan merayakannya di kosan, kami jadi tahu bahwa dia lahir pada selasa kliwon. Makanya Kia jadi korban berikutnya." Mas Radit melanjutkan cerita tante Sumi.


"Jangan-jangan kalian juga yang udah nyulik Kia dari rumah sakit?" tebakku.


"Betul, memang kami. Karena Kia tumbal terakhir, jadi kami harus membunuhnya secara langsung saat ritual kebangkitan sedang dilaksanakan. Dan dia ada di sana." Ia menunjuk ke sisi gelap ruangan ini, perlahan muncul Nilam yang mendorong brankar. Di atasnya terbaring seorang gadis yang kukenali sebagai Kia. Wajahnya sangat pucat, ia terlihat sekarat.


Lalu disusul oleh Tara yang mendorong brankar, di atasnya terbaring jasad anak tante Sumi yang sudah membiru bibirnya. Namun, kulitnya masih mulus. Sepertinya mereka menggunakan pengawet pada mayat itu.


Mereka berdua menghentikan dorongannya tepat di depan wajahku.


Bersamaan dengan itu, tiba-tiba sebuah kurungan besar berwarna kuning menyala yang terletak tak jauh dari mereka. Kurungan besi itu terdapat seseorang yang tergeletak, aku menajamkan mata. Betapa terkejutnya saat tahu bahwa orang yang terkurung di dalam itu adalah Mawar. Jadi, selama ini mereka sudah mengurung arwah Mawar di sini?


Tante Sumi dan Mas Radit sibuk menyiapkan perlengkapan ritual mereka. Sementara Nilam dan Tara berjaga di sampingku.


"Gue nggak nyangka, kenapa lo sejahat itu sama sahabat lo sendiri?" tanyaku pada Nilam.


Ia menoleh padaku dan berjongkok. "Siapa suruh dia rebut Raefal dari gue? Kan gue kesal, apa kurangnya sih gue? Cantikan juga gue daripada si Mawar, tapi si Raefal malah milih Mawar," katanya dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


"Tapi, setelah lo bunuh Mawar juga lo nggak dapat apa-apa. Karena Raefal emang nggak suka sama lo."


"Iya seharusnya sih ... si Raefal udah tergila-gila sama gue. Tapi ... gara-gara tuh nenek-nenek jelek yang selalu menjaga Raefal dari sihir tante Sumi. Nenek tua itu terlalu kuat. Jadi, pelet yang tante Sumi kirim ke dia nggak pernah mempan. Tapi, untungnya nenek tua itu nggak bisa ngelukain gue karena gue udah dikasih jimat pelindung. Tapi, gue tetap kesal." Ia mengepalkan tangannya. "Gue masih belum relain si Raefal. Makanya gue sampai berani berhubungan sama cowok-cowok yang nggak gue suka untuk memperkuat mantra pengasihan itu. Tapi, tetap aja gagal. Justru malah melukai Raefal."


"Elo sadar nggak? Yang elo lakuin itu justru membahayakan nyawa orang yang lo sayang."


"Elo nggak usah sok peduli, deh. Lagian juga bagus sih ... kalau emang gue nggak bisa dapetin si Raefal, mending dia mati aja."


"Lo emang udah gila, ya," cibirku.


Nilam hanya tertawa kecil. "Kali ini gue nggak mau ladenin lo. Toh, sebentar lagi juga lo bakal mati, ikut sama temen lo itu." Ia menunjuk ke arah Kia dengan dagunya


Aku mendesis kesal, menatapnya tajam. Beberapa kali mencoba untuk melepaskan diri dari jeratan tali keparat ini. Namun, sia-sia semua usahaku.


Tante Sumi memegang sebuah bola kecil berwarna biru. Bau dupa dan kemenyan menyebar ke seluruh ruangan. Suasana lebih terlihat mencekam dan menegangkan.


Ia mulai berkomat-kamit membacakan sebuah mantra,


Wahai panguasa iblis


Panguasa setan sareng roh jahat


Nampi pujian urang


Teras nyegerkeun jiwana


Naekkeun!


Naekkeun!


Pasihkeun anjeunna anu kadua tina kahirupan ....


Bersamaan dengan itu, tiba-tiba angin kencang masuk entah dari mana. Padahal di sini tak ada jendela, hanya ventilasi udara yang kecil.


Tante Sumi mengangkat tangan kanannya yang memegang sebuah pisau, siap menancapkan ujungnya yang tajam itu di dada Kia. Tetapi, tiba-tiba pisau itu terlempar, ada orang yang menangkisnya.


Kami mencari-cari sosok misterius itu, ia melesat ke sana ke mari menyerang Tante Sumi.


Bug! Bug!

__ADS_1


Seketika tubuh Nilam dan Tara tumbang, seseorang telah memukulnya dari belakang. Aku menoleh untuk melihat siapa yang telah melakukan itu. Aku membulatkan mata saat tahu orang itu adalah Raefal.


__ADS_2