DIA PELAKUNYA? EERINESS ....

DIA PELAKUNYA? EERINESS ....
BAB 13


__ADS_3

Lagi-lagi aku jadi pusat perhatian semua orang. Mereka terlihat saling berbisik saat menatapku, bisikan yang jelas-jelas aku sendiri bisa mendengarnya. Berbagai macam pendapat mereka lontarkan padaku, yang berhubungan dengan insiden teror kemarin.


Dan sialnya aku dipanggil ke ruang dekan. Di sana ada kepala jurusan juga. Mereka melontarkan beberapa pertanyaan yang aku sendiri tak tahu jawabannya. Karena kejadian itu sempat menghebohkan seluruh kampus, aku diharapkan untuk berhati-hati pada setiap tindakanku.


Aku terkejut saat melihat Raefal yang berdiri di depan ruang dekan. Dan aku lebih terkejut lagi saat si nenek tua yang akhir-akhir ini jarang terlihat di sampingnya, muncul kembali.


"Lo nggak pa-pa, kan?" tanyanya dengan cepat. Ada raut wajah khawatir di sana.


"La ngapain di sini? Nguping, ya?" tanyaku balik tanpa memedulikan pertanyaannya.


"Gue khawatir sama lo."


"Nggak usah sok perhatian, deh," desisku sambil berjalan menuju kelas kembali. Raefal mengekor di belakang. OMG, ini cowok maunya apa, sih?


"Soal insiden yang terjadi sama lo kemarin. Apa itu ada hubungannya dengan kasus kematin Mawar?" tebaknya tiba-tiba. Spontan aku pun menghentikan langkahku dan membulatkan mata. Kenapa Raefal bisa langsung menebak bahwa kejadian itu ada kaitannya dengan kematian Mawar? Padahal aku tidak menceritakan tentang surat ancaman itu padanya.


"Kenapa lo bisa nebak kejadian itu ada kaitannya dengan Mawar?" Kini aku yang menatapnya curiga.


"Via, gue tau kematian Mawar itu nggak wajar. Lagi pula kan pas banget lo tanya-tanya tentang kematian Mawar. Besoknya tiba-tiba lo diteror orang. Dari kesimpulan yang gue tarik sih. Emang ada kaitannya dengan Mawar, kan?"


Aku tak percaya, karena akhirnya aku menjelaskan semuanya pada Raefal. Termasuk pertemuanku dengan Mawar. Meskipun tidak kuceritakan seluruhnya, seperti soal nenek tua yang selalu mengekorinya. Kalau Raefal tahu, ia pasti akan ketakutan diikuti oleh nenek-nenek.


Raefal sedikit tercengang saat tahu bahwa aku bisa melihat makhluk gaib. "Lo serius?" tanyanya seolah meragukan kemampuanku.


Aku berdecak kesal. "Ini alasannya kenapa gue nggak mau cerita soal kemampuan gue. Pasti lo nggak percaya, kan?"


"Nggak, bukan yang itu. Maksud gue ... lo serius kalau jiwa Mawar terjebak di toilet cewek?" sergahnya.


Aku mengangguk.


"Benar kan kata gue. Kematian Mawar itu emang nggak wajar. Pantesan aja ... ternyata dia disantet."


"Apa gue boleh bantu untuk menyelidiki kasus Mawar?" imbuhnya.


Gimana, nih? Apakah aku harus menerima tawarannya. Aku hanya takut dikhianati lagi oleh orang-orang yang dari depan ingin membantu, tapi di belakang justru menusuk. "Nanti gue pikir-pikir dulu, ya." Karena sepanjang koridor aku ngobrol dengannya, hingga tak terasa akhirnya sampai di depan kelasku. Mata kuliah pertama sepertinya baru berakhir. Dilihat dari anak-anak di dalam kelas yang berisik.

__ADS_1


"Gue masuk dulu." Namun saat hendak melangkahkan kaki, tanganku diraih olehnya.


"Tunggu, elo nggak ngadu ke Mawar kan soal perasaan gue?" tanyanya ragu.


"Elo tenang aja. Rahasia lo aman sama gue. Gue juga nggak tega buat ngomongin kenyataan bahwa ternyata lo nggak ada perasaan apa-apa sama dia." Aku menatap tangannya yang masih menggenggam lenganku. "Sekarang lo lepasin tangan gue. Gue nggak mau ada yang liat, terus bikin gosip yang macam-macam antara kita."


Raefal pun buru-buru melepaskan genggamannya. "Sori."


"Oh, ya. Satu lagi."


Lagi-lagi Raefal menghentikan langkahku. Aku berbalik dengan malas. "Ada apa lagi, sih?" jawabku ketus. "Gue takut keburu ada dosen datang. Gue nggak mau ketinggalan lagi."


"Kenapa sih lo nggak suka sama gue? Dan kenapa lo nggak mau terima gue jadi pacar lo?"


"Nggak punya pacar bukan berarti nggak ada orang yang kita sayang."


"Apa lo masih belum bisa lupain pacar lo yang udah meninggal itu?"


Aku memelototi Raefal. Bukanya takut, cowok itu justru menatapku lebih dalam.


"Gimana mungkin lo bisa sayang sama gue, di saat lo belum benar-benar kenal gue?"


"Gue nggak tau. Yang pasti waktu pertama kali liat lo. Gue ngerasa kayak yang udah sering ketemu lo gitu," jawab Raefal cepat.


Aku mengerutkan dahi. "Alasan lo itu basi tau nggak. Udah banyak tuh cowok-cowok playboy pake jurus kata-kata gombalan kayak gitu."


"Tapi, gue seriussss ..." Raefal menatapku tajam. Dan entah kenapa tatapan mata itu benar-benas tak asing bagiku. Astaga, sebenarnya ada apa denganku?


"Untuk saat ini gue masih belum bisa buka hati buat orang lain. Gue harap jawaban itu bisa menghentikan niat lo yang masih tetap mau jadiin gue pacar lo. Tapi, kalau lo mau kita berteman. Gue nggak keberatan," jelasku pelan.


Aku meninggalkannya yang diam membisu. Sesuai dugaan, saat masuk ke dalam aku langsung dihampiri teman-teman sekelas. Mereka bertanya bahwa aku ditanyai apa saja. Astaga, kenapa mereka semua mendadak berubah jadi seorang wartawan? Untung saja ada Kia yang bisa mengontrol mereka agar tidak menggangguku dulu.


***


Saat istirahat aku dan Kia memutuskan untuk bergabung dengan Raefal dan Gea--sebenarnya itu usulan Kia. Katanya biar lebih gampang untuk kita merundingkan kasus itu, dan rencana apa yang akan kita susun untuk mencari pelakunya. Padahal aku masih menaruh curiga pada Gea.

__ADS_1


"Karena lo dibolehin gabung. Bukan berarti kecurigaan gue ke elo hilang, ya." Aku mengingatkan.


"Kenapa sih kamu masih menuduhku. Padahal sudah kubilang, bukan aku pelakunya," protes Gea gusar.


"Udah jangan berantem! Kita fokus ke tujuan utama. Kita harus susun rencana biar pelakunya segera ketangkap. Supaya Livia bisa menjalani kehidupannya dengan normal. Dan supaya kalian berdua nggak penasaran lagi penyebab kematian sahabat kalian," jelas Kia melerai kami agar tidak membuang waktu istirahat dengan berdebat tak jelas.


Kami berkumpul tanpa Nilam--tentu saja. Gea sendiri yang bilang bahwa Nilam tidak mau ikut gabung karena ada aku. Memang susah sih berhadapan dengan perempuan yang sedang cemburu buta. Padahal kami semua sedang ingin menyelidiki kasus kematian sahabatnya. Tunggu, untuk apa aku memikirkannya? Justru lebih bagus tanpa ada si cewek judes itu.


"Sekarang rencana awal kita apa?" sambung Raefal.


"Gimana kalau kita datang ke rumah Mawar? Siapa tahu di sana ada petunjuk," usulku.


"Nggak bisa. Orang tua Mawar udah pindah. Rumahnya udah kosong dari semenjak kematian Mawar. Mereka sangat terpukul sampai memutuskan untuk pergi dari kota ini," jelas Gea.


"Susah dong kalau gitu," timpal Kia pula.


Kami berempat saling pandang dalam diam. Aku menopang dagu dengan satu tangan. Sepertinya rapat kali ini tidak membuahkan hasil.


Bukannya bantu mikir, Raefal justru sedari tadi memandang terus ke arah Gea. Memang dasar cowok genit, jelalatan!


Sepertinya Gea menyadari mata Raefal yang terus memandanginya. Ia pun menyingkap rambutnya yang tergerai ke belakang telinga.


"Ada apa? Kenapa kamu dari tadi melihatku terus?" tanya Gea dengan wajah yang merona.


"Nggak, cuma perasaan gue doang atau emang muka lo makin pucat, ya?" tanyanya tanpa dosa. Aku berusaha menahan tawa karena melihat muka Gea yang merah karena malu. Dasar si cowok genit, sudah jelas-jelas dari tadi ia membuat perempuan itu senyam-senyum kege'eran.


Tapi, benar juga apa yang dikatakannya. Aku baru menyadari bahwa wajah Gea memang pucat.


Ia berusaha membuat dirinya agar tetap terlihat santai. "Iya, nggak tahu kenapa akhir-akhir ini aku merasa semakin lemas dan letih."


"Hati-hati darah rendah, loh." Raefal mengingatkan.


"Tapi, tiap diperiksa ke dokter pasti mereka bilang bahwa aku baik-baik saja." Gea menghentikan ucapannya. Ia memandangi kami satu persatu. "Tak ada penyakit apa pun. Kan aku juga jadi bingung," imbuhnya lagi.


Kami hanya merespon dalam diam. Tak tahu apa yang bisa kami katakan. Medis saja tidak tahu penyakit Gea. Apalagi kami yang cuma kaum awam, tak tahu menahu soal dunia kedokteran.

__ADS_1


__ADS_2