DIA PELAKUNYA? EERINESS ....

DIA PELAKUNYA? EERINESS ....
BAB 25


__ADS_3

"Mawar lo di mana, sih?" Aku memanggilnya dalam hati, berharap Mawar menjawab panggilanku. Namun, semua itu sia-sia.


"Via, kok rasanya tubuh gue lemes banget, ya," keluh Kia yang duduk di sampingku. Sambil menutup buku yang tadi sempat dibacanya. Yeah, jam istirahat ini kami luangkan sedikit untuk singgah ke perpustakaan di kampus.


"Elo udah sarapan?" tanyaku tanpa mengalihkan perhatian dari buku yang sedang kubaca.


"Udah, kan tadi sarapan bareng sama lo. Gimana, sih?"


Aku berhenti membaca sebentar, lalu tersenyum. "Oh iya, ya. Gue lupa."


Kia hanya memanyunkan bibirnya.


Tiba-tiba bel masuk berbunyi, tanda berakhirnya istirahat pertama. "Astaga, saking keasyikan kita sampai lupa waktu. Ayo cepetan di beresin." Dengan tergesa-gesa kami membereskan buku-buku yang berserakan di atas meja.


Namun, saat keluar kami dikejutkan oleh suara teriakan seseorang. Dalam hitungan detik, semua orang berhamburan menuju arah sumber suara. Termasuk aku dan Kia.


Setelah ditelusuri ternyata suara teriakan itu dari Raefal, ia tergeletak di lantai dengan kondisi seperti orang yang terkena ayan. Semua orang pun panik.


"Astaga, Fal. Apa yang terjadi sama lo." Aku mendekat ke arahnya dengan perasaan takut. Di sisi lain, kulihat nenek-nenek tua yang ternyata neneknya itu sedang mengamuk. Ia terlihat sedang bertarung dengan sebuah bayangan hitam yang melesat ke sana ke mari dengan cepat. Tubuh nenek tua itu dipenuhi darah hitam dan banyak bekas cakaran di wajahnya. Orang-orang menjerit saat kaca jendela tiba-tiba pecah--padahal yang kulihat kaca jendela itu pecah karena sosok nenek tua itu terlempar ke situ. Sehingga angin kencang mampu masuk menerobos ke arah kami. Astaga, apa yang sedang terjadi. Akal sehatku masih belum bisa mencerna semuanya. Karena aku terlalu sibuk memikirkan keadaan Raefal. Kondisinya benar-benar seperti orang sekarat.


Tiba-tiba suasana berubah mencekam, cuaca cerah kini menjadi gelap. Awan hitam datang menambah suasana terlihat menyeramkan bersamaan dengan hilangnya sosok nenek dan bayangan hitam itu. Mungkin mereka sedang bertarung di dimensi lain. Para dosen pun berdatangan. Mereka langsung menggotong tubuh Raefal dan membawanya ke rumah sakit.


"Via, kenapa gue tiba-tiba jadi merinding, ya." Kia merapatkan tubuhnya padaku. "Duh, Kak Raefal kenapa sih jadi kayak orang kesurupan gitu."


"Dia juga kena santet," ujarku datar.


Kia langsung menoleh padaku. "Elo tau dari mana?"


"Tadi, gue liat neneknya sedang bertarung melawan sosok bayangan hitam ... dan jendela yang pecah itu akibat dari pertarungan mereka."


"Ya ampun, Via. Gue jadi takut banget, nih," kata Kia dengan suara gemetar.


***

__ADS_1


Satu hal yang membuatku bingung, kenapa Raefal yang jadi korban berikutnya? Bukankah harusnya Kia--aku tak bermaksud mendoakan Kia jadi korban santet selanjutnya. Maksudku ... Waktu itu kan makhluk itu bilang bahwa korban selanjutnya adalah Kia. Semua kejadian itu membuatku gila.


Aku menatap Raefal yang terbaring lemah di kasur, dengan hiasan selang infus yang menempel di beberapa bagian tubuhnya. Kasihan si cowok genit, harus jadi korban juga.


"Via, kita pulang, yuk. Ini udah sore banget." Kia memegang pundakku.


"Tapi, nanti nggak ada yang jagain si Raefal. Gue nggak nyangka ternyata dia seorang yatim piatu."


"Mau gimana lagi? Kita kan juga punya kesibukan. Kita harus ngerjain tugas dari dosen yang waktu itu kita absen kelas. Dan harus dikumpulkan besok."


"Iya, sih. Tapi, nggak tega ninggalin Raefal sendirian."


"Cieeee ... elo udah mulai perhatian sama kak Raefal, nih," godanya.


"Apa, sih. Orang lagi serius juga. Gue cuma kasihan sama dia," celetukku dengan nada rendah.


Tiba-tiba pintu ruangan Raefal di rawat terbuka, sosok Nilam muncul dari balik pintu.


"Elo sendiri mau ngapain?"


"Gue ya mau jagain Raefal, lah."


"Bagus, deh. Karena sekarang ada lo yang mau jagain Raefal, berarti kita bisa pulang dengan tenang. Ayo, Kia. Kita cabut."


Entah dari mana datangnya, sosok nenek tua itu datang dengan kondisi yang mengerikan. Ia menggertakkan giginya dan menghalangi pintu jalan kami keluar. Sontak aku pun menghentikan langkahku.


"Ada apa, Via? Kok berenti?" tanya Kia yang tak bisa melihat sosok nenek tua itu.


Tak tahu kenapa mata menyeramkan itu seolah berkata bahwa aku tidak boleh pulang. Tapi, aku takut jika nenek tua itu bertindak yang membahayakan nyawaku.


"Ng-nggak pa-pa kok." Aku pun melangkahkan kaki dengan berat menembus sosok nenek tua itu.


***

__ADS_1


Malam kembali merayap dengan cepat. Matahari tenggelam diganti oleh bulan.


Aku meraba-raba ke arah samping, lalu terjaga dari tidur saat tahu Kia tak ada di sampingku. Ke mana anak itu malam-malam begini. Karena takut terjadi sesuatu--mengingat ia jadi incaran makhluk jahat itu. Aku pun bergegas mencarinya ke dapur dan kamar mandi. Namun, tak kutemukan.


Aku melihat pintu kamar terbuka sedikit. Astaga, jangan-jangan ....


Kecemasanku jadi kenyataan saat melihat Kia sedang bermain ayunan di bawah. Jangan lagi, deh. Kumohon.


Apa yang harus kulakukan? Apa pun resikonya, bagaimanapun juga Kia adalah sahabatku. Maka dari itu, aku harus menyelamatkannya.


"Hei!" panggilku.


Gadis itu tidak menoleh, matanya terus menatap lurus ke depan.


"Sebenarnya mau lo apa? Kenapa lo incar sahabat gue juga?" tanyaku dengan suara gemetar.


"Kamu tidak perlu ikut campur urusan kami, jika kamu ingin selamat," jawabnya dengan nada pelan tapi menusuk.


"Kalau gue nggak mau gimana? Karena elo mau celakai sahabat gue," protesku gusar.


Kia--maksudku makhluk itu menoleh ke arahku. Ia menelengkan kepalanya dan menyeringai. "Memangnya apa yang bisa kamu lakukan untuk menyelamatkan teman kamu? Nyawamu sendiri pun tidak bisa kamu selamatkan."


Aku diam mematung, melihat wajah Kia yang seperti itu membuatku ingin lari terbirit-birit.


Namun, aku mengurungkan niat pengecut itu. "A-apa aja akan gue lakuin, sebisa gue," jawabku lantang.


"Benarkah? Kalau begitu ..." Ia melesat melayang cepat ke atas. "Bisakah kamu menyelamatkan temanmu seperti ini." Tiba-tiba ia keluar dari tubuh Kia. Otomatis itu membuat tubuh asli Kia terjatuh dari atas ke bawah dengan keras.


Aku menjerit saat tubuh Kia terkapar di atas tanah. "Kiaaa!!!!!"


Makhluk mengerikan itu tertawa keras di atas sana. Lambat laun tawanya menghilang bersama dengan desiran angin.


Seluruh penghuni kos keluar karena teriakanku. Mereka bertanya-tanya apa yang sudah terjadi. Aku hanya menangis tersedu-sedu. Lalu pandanganku buram, hingga akhirnya semua jadi gelap.

__ADS_1


__ADS_2