DIA PELAKUNYA? EERINESS ....

DIA PELAKUNYA? EERINESS ....
BAB 11


__ADS_3

Setelah mendengar penjelasan dari Gea. Aku jadi punya beberapa petunjuk.


Dan kau tahu, seseorang yang selama ini selalu ingin kuhindari ternyata juga ikut terlibat. Aku tak menyangka jika Raefal adalah pacar Mawar--yeah, meskipun hubungan mereka hanya berlangsung tiga hari lantaran kematian Mawar yang jadi penyebab perpisahan mereka.


Mereka berdua sih masih beruntung, bisa menikmati masa-masa bersama walaupun cuma tiga hari. Sedangkan aku ... baru mau mulai saja sudah langsung berakhir.


Tapi, kalau benar Raefal pacar Mawar ... kenapa ia bisa secepat itu melupakan kematian Mawar? Memang dasar ya cowok playboy, segampang itukah melupakan kekasihnya. Dalam waktu setahun ia bisa menyukai orang lain.


Ketika sedang asyik melamun, aku dikejutkan oleh teguran Kia. "Via, elo kok dari tadi melamun terus?"


"Gue nggak pa-pa kok," kilahku.


Beberapa detik Kia menatapku curiga. "Oh, ya. Elo istirahat ke mana aja? Kok gue nggak liat lo?"


"Gue ... gue istirahat di taman kampus."


"Tumben banget, nggak kayak biasanya." Kia menatapku semakin curiga.


"Beneran. Serius!" Aku mencoba meyakinkan Kia.


Tentu saja persoalan tentang Mawar cukup aku dan Gea yang tahu. Karena Gea teman dekat Mawar, walaupun Nilam juga termasuk. Tapi, entah mengapa aku malas jika harus berurusan dengan cewek judes itu.


"Via, kalau lo butuh teman untuk curhat atau sekadar mendengarkan keluh kesah lo. Jangan sungkan cerita sama gue, ya." Perkataan Kia sesaat membuatku merasa bersalah. Maaf Kia, bukan maksudku menyembunyikan semua darimu. Aku hanya butuh waktu sejauh mana kamu dekat denganku, agar nanti saat kamu tahu kemampuanku, kamu tidak menganggapku aneh. Aku hanya takut apa yang di alami Tara, terjadi padaku.


***


Tak percaya aku melakukan tindakan yang menurutku--bodoh. Kemarin-kemarin aku berusaha menjauhi Raefal. Dan sekarang, aku justru sedang mencarinya. Jangan berpikiran macam-macam, niatku mencarinya cuma untuk bertanya tentang Mawar. Siapa tahu kan Raefal punya petunjuk.

__ADS_1


Sudah kuduga, cowok genit itu kegirangan saat tahu aku mencarinya. Bahkan ia menggunakan kesempatan itu untuk mengajak jalan setelah pulang dari kampus. Jika saja bukan demi Mawar (yeah, aku mau menyelidiki kematian Mawar agar ia tidak menerorku lagi)--mana mungkin aku mau.


Ia mengajakku ke sebuah taman yang tempatnya tak jauh dari kampus.


Raefal menyodorkan segelas minuman cool drink padaku. Dan terus menyunggingkan senyumnya.


"Jadi, ada urusan apa, nih? Tumben lo cari gue duluan. Udah mulai suka sama gue, ya?" godanya.


Aku bergidik jijik. "Jangan ge'er lo. Gue mau ketemu sama lo karena ada yang mau gue omongin," ucapku setelah menenggak minuman sekali.


"Apa?" jawabnya singkat sambil minum.


"Apa benar lo pacar Mawar?"


Bersamaan dengan itu Raefal menyemburkan minumannya, sehingga tanganku sedikit terkena cipratan airnya. "Ihhhh ... lo apa-apaan, sih. Basah, nih." Aku berdecak kesal.


"Sori, soalnya gue kaget karena tiba-tiba elo nanya tentang Mawar. Sedangkan Mawar kan udah meninggal setahun yang lalu. Dan elo tau Mawar dari siapa? Atau lo keluarga dia?"


Beberapa detik Raefal terdiam sampai akhirnya ia berkata. "Dulu Mawar emang pacar gue, tapi sebenarnya gue belum sempat balas perasaan dia."


Aku mengangkat sebelah alis. "Maksudnya?"


"Mmm ... gimana, ya," gumamnya. "Di antara cewek lain, Mawar yang paling baik dan tulus sama gue. Terus dia nyatain cintanya ke gue. Jadi, ya gue terima aja." Sesekali Raefal bercerita sambil menatapku.


"Berarti lo terpaksa dong terima Mawar?" tebakku.


"Nggak juga. Gue emang suka sama Mawar sebelumnya, tapi sekedar teman. Siapa tau kan kalau gue terima Mawar, nanti juga gue bisa cinta sama dia. Tapi, sebelum perasaan itu datang ..." Ia menghentikan ucapannya. "Mawar justru pergi selamanya," lanjutnya dengan wajah terlihat sedikit murung.

__ADS_1


Aku mendengarkannya dengan saksama. Sambil terus merapikan rambut yang berantakan karena terpaan angin.


"Sebenarnya lo tau tentang Mawar dari siapa, sih?" pertanyaanya membuatku tersentak. Kira-kira jawaban apa yang harus kuberikan? Aku masih belum bisa memberitahukan kemampuanku pada orang lain yang belum sepenuhnya aku percaya.


Maka dari itu, aku langsung bertanya tentang penyebab kematian Mawar. Siapa tahu Raefal mengetahui sesuatu.


"Soal penyebab kematian Mawar juga gue nggak tau. Yang gue tau dari Gea dan Nilam, kalau Mawar tiba-tiba kesakitan kayak orang kesurupan," jawabnya.


"Mmm ..." Aku bergumam. "Ya udah, deh. Kalau lo emang nggak tau. Cuma itu doang sih yang mau gue omongin. Gue pulang dulu, ya." Aku beranjak dari duduk. Namun, Raefal menahanku sebelum pergi.


"Tunggu, Via! Kenapa tiba-tiba lo mau menyelidiki tentang kematian Mawar? Apa hubungan lo sama Mawar? Lo belum jawab pertanyaan gue."


"Untuk saat ini gue belum bisa kasih tau lo ... mungkin nanti kalau gue udah sepenuhnya percaya sama lo. Gue bisa ceritain semuanya." Hanya itulah yang bisa kukatakan padanya. Mungkin ucapanku akan membuatnya penasaran. Karena dari raut wajahnya pun ia terlihat kebingungan, sepertinya ia sedang berpikir apa maksud dari perkataanku.


***


Sepertinya ini bukan pagi yang baik bagiku. Aku dikejutkan oleh kejadian mengerikan. Seseorang dengan sengaja menaruh sebuah jebakan di dalam loker milikku--yang disediakan oleh kampus untuk para mahasiswa. Sesuatu yang berisi cairan berwarna merah itu terlempar keras mengenai wajahku, bersamaan dengan meletusnya cairan itu. Aku sangat syok karena ini bukan cairan merah biasa, melainkan cairan kental seperti ... darah!


"Via, lo nggak pa-pa, kan?" tanya Kia panik. "Astaga, Via. Ini kan darah. Baunya amis banget," ujarnya tak kalah kaget dariku setelah mencium bau menyengat itu. "Siapa yang udah lakuin ini ke elo?"


Aku menggeleng pelan dengan kondisi yang masih syok. Anak-anak yang lain pun mengguratkan ekspresi yang sama sepertiku.


Keterkejutanku belum selesai sampai di situ, aku menemukan secarik kertas yang bukan milikku di dalamnya. Aku pun membacanya, kertas itu bertuliskan ....


Jangan ikut campur urusan kami!


Lagi-lagi aku mendapat surat ancaman. Apa maksud dari pesan singkat ini? Astaga, mungkinkah orang ini pelaku pembunuhan Mawar? Tapi, kenapa ia bisa tahu kalau aku sedang menyelidiki kasus Mawar? Sedangkan aku baru menceritakan kasus Mawar pada dua orang--tunggu! Mungkinkah pelakunya Raefal? Tapi, cowok itu pacar Mawar. Tak mungkin ia melakukan hal itu pada orang yang disukainya. Atau jangan-jangan ... Gea? Namun, wajahnya terlalu baik untuk orang jahat.

__ADS_1


Mmm ... dulu juga kan aku pernah tertipu oleh wajah orang-orang yang terlihat polos dan baik. Tak tahunya justru mereka penjahat yang sesungguhnya. Jika memang benar Gea pelakunya, artinya aku sudah berhasil masuk ke dalam perangkapnya. Sial, aku tetap saja bodoh seperti dulu. Mudah tertipu oleh tampang orang-orang. Entahlah ... siapa pun pelakunya, kupastikan ia pasti sedang mengintaiku saat ini.


Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sampai suara orang-orang yang melontarkan beberapa pertanyaan padaku, tak kudengarkan. Termasuk Kia.


__ADS_2