
Setelah selesai melakukan tugas dari panggilan Alam, perlahan aku menghampiri wanita itu yang sedang berdiri menungguku. Matanya yang sayu itu terus melihatku, sampai akhirnya aku berada di depannya.
"Jadi, mau lo apa?" tanyaku langsung tanpa basa-basi.
"Aku mau, kamu bantu aku," ujarnya tanpa mengalihkan pandangan dariku.
"Soal?"
"Aku mau kamu cari tahu siapa yang udah membunuhku."
Aku melongo. "Kok minta bantuan gue? Masa lo nggak tahu sih siapa yang udah bunuh lo? Lo pasti bertatap muka langsung dong sama orang yang udah bunuh lo itu."
"Aku dibunuh tanpa disentuh," jelasnya.
"Maksudnya?" tanyaku masih belum mengerti.
"Seseorang membunuhku dari jarak jauh ..." Ia diam sejenak. "Apa kamu pernah dengar tentang santet?"
"Jadi maksud lo ada seseorang yang udah nyantet lo? Tapi, kenapa?"
"Itu ... aku juga nggak tahu."
"Kenapa lo nggak cari tau sendiri aja? Lo kan hantu, bisa berkeliaran ke mana-mana."
Wanita itu berjalan--lebih tepatnya melayang ke arah cermin, lalu menatapnya lama. Di sana hanya ada pantulan bayanganku saja. "Maunya sih gitu. Tapi, jiwaku sudah terikat dengan tempat ini. Karena kematianku sebuah misteri, bahkan aku sendiri tidak tahu siapa yang telah melakukannya. Aku tidak bisa pergi dengan tenang sebelum mengetahui siapa dalang di balik pembunuhanku. Jika tidak ..." Raut wajahnya berubah muram. "Aku akan terjebak di sini selamanya."
Jangan-jangan bisikan minta tolong yang selalu kudengar itu miliknya? Gumamku dalam hati.
"Apa selama ini yang sering bisikin gue minta tolong itu elo? Dan juga tulisan di monitor yang gue pake buat belajar di ruang lab? Itu ulah lo?"
Ia mengangguk tanpa menoleh ke arahku. "Iya, hanya itu yang bisa kulakukan."
Aku manggut-manggut. Tapi ... kalau dia tidak bisa keluar dari tempat ini, itu artinya bayangan yang kulihat di jendela malam itu bukan wanita ini.
Ia berbalik lagi ke arahku. "Jadi ... kamu mau menolongku, kan?"
__ADS_1
Aku diam berpikir. Apa yang harus kulakukan. Kalau menolak, dia pasti terus-terusan akan menggangguku.
"Okelah, gue mau bantu lo." Wajah perempuan itu terlihat jauh lebih baik daripada sebelumnya.
"Tapi, lo juga harus kasih tahu gue siapa aja orang-orang yang dekat sama lo. Terus yang suka sama lo, dan yang nggak suka sama lo," sambungku.
"Baiklah-"
"Tapi, jangan sekarang," potongku. "Gue masih ada mata kuliah. Nanti gue ke sini lagi kalau udah selesai, ya."
Wanita itu hanya mengangguk. Syukurlah ia memahaminya.
"Namaku Mawar."
"Gue Livia, panggil Via aja." Perkenalan itu menutup pembicaraan kami. Aku pun langsung pergi menuju kelas. Sudah berapa lama aku di toilet, semoga saja dosenku tidak marah dan masih mengajar agar aku tidak ketinggalan pelajaran.
***
Setelah pulang kuliah, aku segera menuju ke toilet wanita yang berada di gedung fakultas manajemen. Tentu saja untuk menepati janjiku pada mawar.
Pastinya sebelum pergi aku membuat alasan dulu pada Kia, bahwa aku sedang ada urusan dan tidak bisa pulang bersamanya. Untung saja Kia tidak banyak tanya. Ia hanya menganggukkan kepala.
Aku mengempaskan tas ke atas wastafel, dan duduk di samping Mawar.
"Jadi, sebenarnya lo itu siapa?" tanyaku sambil menatapnya. Kali ini perasaanku tak setakut saat pertama ia bisa berkomunikasi denganku.
"Kan tadi aku sudah mengenalkan diri."
"Maksud gue bukan nama lo. Maksud gue lo itu mahasiswa semester berapa kalau misalkan lo masih hidup?"
Ia melihat jari-jari tangan kanannya yang berkuku hitam itu. Dan kupastikan ia tengah menghitungnya.
"Semester tiga," jawabnya.
"Terus lo mati waktu kapan?"
__ADS_1
"Setahun yang lalu."
"Bisa lo ceritain gimana lo bisa mati di sini?"
Mawar turun dari wastafel, atau lebih tepatnya melompat namun kaki tidak menapak ke tanah. "Saat itu kami sedang merayakan prom night yang diadakan setahun sekali di kampus, di tengah acara aku bersama dua temanku pergi ke toilet. Awalnya nggak ada apa-apa. Tapi, tiba-tiba saja leherku terasa panas dan seperti ada orang yang mencekiknya. Teman-temanku juga kebingungan. Setelah itu aku tidak ingat apa pun lagi. Yang kutahu saat membuka mata, ternyata aku sudah mati dan jadi arwah penasaran di toilet ini. Aku mencoba untuk meminta tolong pada siapa pun, namun tidak ada yang bisa mendengarku," jelasnya panjang lebar. "Sampai ... sampai aku menemukanmu yang ternyata bisa melihatku." Mawar mengakhiri ceritanya.
Aku mendengarkannya dengan saksama sambil mengayunkan kakiku yang menggantung di wastafel. Pantas saja pakaian yang dikenakannya sebuah dress.
"Kalau boleh tahu dua teman lo itu namanya siapa?"
"Nilam sama Gea."
Aku membelalakkan mata begitu mendengar dua nama orang yang tak asing bagiku. Jadi Nilam yang rese itu temannya Mawar? Dan Gea yang ... aku belum tahu sifatnya jadi tak bisa mengambil kesimpulan.
Aku menempelkan tangan untuk menopang dagu, melakukan gerakan yang biasa para detektif lakukan. "Sampai saat ini gue masih belum bisa mengambil kesimpulan. Tapi, gue akan coba tanya-tanya sama dua teman lo itu. Siapa tahu nanti dapat petunjuk."
Bersamaan dengan itu, pintu toilet terbuka menampilkan dua sosok perempuan yang sedang kami bicarakan. Spontan aku langsung loncat turun ke bawah. Nilam menatapku dengan tajam. Sementara Gea, justru tersenyum padaku. Sungguh dua kepribadian yang berbeda.
"Nilam, Gea." Mawar tersenyum melihat kedua temannya itu datang. "Ini aku, Mawar ada di sini." Meskipun tahu mereka tidak akan mungkin bisa mendengar dan merasakan kehadiran Mawar, namun ia tetap mendekati dan berusaha memeluk mereka berdua. Sungguh disayangkan, tubuh Mawar justru menembus tubuh mereka.
Nilam yang melihatku terus menatapnya--lebih tepatnya aku menatap Mawar, berhubung dia tidak bisa melihatnya. Jadi, dikiranya aku menatap padanya.
"Ngapain lo liatin gue?" tanyanya dengan ketus.
Aku mengernyit. "Siapa juga yang liatin lo? Ge'er banget jadi orang."
Kulihat wajahnya memerah karena marah.
"Nilam, katanya kamu tadi pengen buang air kecil?" tanya Gea.
"Gue udah nggak mood, kita balik aja." Ia langsung melangkahkan kaki ke luar.
"Kita duluan, ya," pamit Gea padaku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
Kini perhatianku kembali pada Mawar. "Lo kok mau-mau aja sih temenan sama si Nilam? Kalau Gea sih masih mending ada ramah-ramahnya, dia kayaknya baik."
__ADS_1
"Sebenarnya Nilam juga baik kok kalau kamu udah kenal dekat sama dia."
Aku bergidik ngeri membayangkan diriku yang mempunyai teman seperti itu. Jangan sampai, deh!