
Perjalanan dari kosan Tante Sumi ke kampus kami hanya sekitar 15 menit saja. Perjalanan yang cukup singkat hanya dengan berjalan kaki bukan? Untung saja letak kosannya dekat dengan kampus. Sehingga uang jajanku sedikit lebih hemat tak perlu mengeluarkan uang untuk biaya ongkos ke kampus. Selain itu, selama perjalanan aku tak merasa bosan karena ada Kia yang bisa kuajak bercerita.
Hari ini raut wajah Kia terlihat aneh, tidak ceria seperti biasanya. Tentu saja itu membuatku bertanya-tanya. Apa yang telah terjadi padanya. Padahal saat sore hari, ia masih ceria.
"Lo kenapa, Kia? Apa ada sesuatu?" tanyaku sambil mengiringi langkah kakinya.
"Via, gua semalam ... semalam gue ..." Ada keraguan dalam nada suaranya.
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Semalam gue dengar suara tangisan di kamar nomor lima yang paling ujung," jelasnya sambil menatapku.
"Lo yakin?"
Kia menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Gue yakin! Suaranya itu jelas banget."
"Tapi, kamar nomor lima kan kosong."
"Itu dia yang bikin gue kepikiran. Jangan-jangan itu suara ... hantu ..." Ia bergidik ngeri.
"Ah, itu mungkin cuma perasaan lo aja kali," sanggahku berusaha agar Kia tidak berpikiran macam-macam. Padahal semalam, aku pun mendengar suara seorang perempuan minta tolong. Dan melihat sekelebat bayangan. Tapi, aku tak ingin menceritakan semua itu. Karena bisa membuatnya semakin ketakutan.
Sesampainya di depan fakultas, aku langsung disambut oleh Raefal. Aku merengus, untuk apa lagi dia mendekatiku?
"Lo mau apa?" tanyaku dengan ketus.
"Santai dong, nggak usah masam gitu mukanya."
"Bukannya kemarin lo udah berenti gangguin gue, ya?"
"Itu karena kemarin gue taunya lo udah punya pacar. Sekarang gue tau kalau lo ternyata bohong. Padahal nggak punya pacar," serunya.
__ADS_1
Aku menahan napas marah. "Jadi, kemarin yang ngikutin gue sama Kia itu elo?" dengusku.
Raefal diam sejenak. Lalu berkata, "Sori, gue nggak ada maksud buat menguntit kalian. Serius, deh."
"Nggak pa-pa kok, Kak. Kalau emang Kak Raefal mau tahu kosan kita, boleh nanti main."
Aku memelototi Kia. "Nggak perlu. Elo mau gue dimarahi sama pemilik kosan gara-gara bawa cowok ke sana?"
Dengan polosnya Kia menjawab, "Loh, bukannya boleh bawa cowok ke kosan? Asal izin dulu?"
"Kia, lo tahu kan gue nggak suka sama cowok ini," bisikku dengan suara tertekan.
"Tapi, apa salahnya lo buka hati buat cowok lain. Kasih kesempatan kek. Emang lo mau jadi jomblo seumur hidup gara-gara nggak bisa move on?"
Aku memelototi Kia. Padahal kemarin sudah dibahas. Nggak segampang itu bagiku membuka hati untuk orang lain. Karena aku masih belum bisa melupakan Leo.
"Mmmm ... pulang kuliah nanti gue antar, ya?"
Setelah memasuki gedung fakultas, aku bertatap muka dengan kating cewek yang selalu mengekori Raefal. Ia memandangku dengan sinis dari bawah ke atas. Tatapan matanya itu sangat menggangguku. Seolah aku ini makhluk yang menjijikkan. Aku pun balik menatapnya dengan tajam.
"Ngapain lo liat-liat gue sampai segitunya?" cetusnya.
Aku mengangkat alis, "Seharusnya kan itu dialog gue! Kenapa lo liatin gue sampai segitunya?" timpalku. Kia menunjukkan ekspresi terkejut melihatku bicara seperti itu pada kating. Yeah, kalian tahu kan aku bukannya bersikap songong pada senior. Aku akan bersikap baik jika mereka baik padaku. Begitu pun sebaliknya. Dilihat dari tatapan matanya saja cewek judes itu tidak menyukaiku.
Cewek yang kuketahui bernama Nilam saat perkenalan ospek di fakultas manajemen itu membulatkan matanya. "Bisa lebih sopan dikit nggak ngomongnya?"
"Emang kenapa? Karena lo senior?"
"Jangan mentang-mentang masa ospek udah lewat, terus elo jadi songong gitu sama kating?" ujarnya sambil melipat tangan di dada.
"Sori, gue bukannya songong. Gue akan baik sama senior kalau senior itu juga bersikap baik sama gue."
__ADS_1
"Terserah lo aja. Yang pasti gue mau tanya satu hal sama lo ... elo siapanya Raefal?"
"Bukan siapa-siapa tuh," jawabku santai.
"Jangan bohong lo! Kalau bukan siapa-siapa nggak mungkin Raefal ngejar-ngejar lo terus."
"Kalau nggak percaya tanya aja sama orangnya."
"Oke, tapi gue ingetin satu hal sama lo ... jangan pernah lo berani dekat-dekat sama Raefal kalau lo masih mau hidup tenang," ancamnya sambil menunjuk ke arahku.
Aku menjauhkan jari telunjuknya dari hadapan wajahku. "Wow ... santai, girl. Elo tenang aja, Raefal itu bukan tipe gue."
Tanpa menggubris ucapanku, Nilam pergi dengan wajah ketusnya.
"Serem juga, ya. Masih awal semester aja udah punya musuh," sindir Kia setelah kepergian Nilam. "Pake ngancam segala lagi," sambungnya.
Aku memalingkan wajah padanya. "Gue nggak takut, karena gue emang ngerasa nggak lakuin kesalahan kok. Kan si Raefal itu yang ngejar-ngejar, bukan gue."
"Iya, sih. Tapi, tetap aja serem. Kira-kira kak Raefal tahu sifat senior itu nggak, ya? Terus hubungan mereka apa? Karena selama ini gue lihat di mana ada kak Raefal, di situ ada kak Nilam."
Aku mengedikkan bahu. "Mana gue tau, yang jelas bukan urusan gue," kataku sambil menggerakkan kaki berjalan menuju kelas. Disusul Kia dari belakang yang sibuk dengan pikirannya--yang menurutku tidak penting. Yeah, tentu saja. Untuk apa memikirkan hal yang dapat membuang waktu dengan sia-sia.
***
Sekarang kami akan belajar di lab komputer, semester pertama ini yang dipelajari hanya tentang dasar-dasar manajemen saja.
Aku duduk di depan layar monitor berbentuk persegi itu. Kutekan tombol power pada CPU untuk menyalakan monitor. Layar monitor itu pun menyala. Kami semua disuruh mencatat hal-hal yang diajarkan oleh dosen yang sedang membimbing di depan. Namun, saat aku membuka salah satu perangkat lunak untuk mengetik, tiba-tiba keyboard komputer itu mengetik sendiri huruf satu persatu sampai menjadi sebuah kalimat,
KAMU HARUS MENOLONGKU!!! JIKA TIDAK, AKU AKAN TERUS MENERORMU!!!
Tulisan berukuran besar sampai menghiasi layar dengan penuh. Aku menelan ludah. Menengok ke kiri dan ke kanan, melihat keadaan sekitar. Namun, tak menemukan satu pun makhluk di ruangan ini. Teman-temanku juga tengah sibuk menatap layar monitor masing-masing. Siapa yang telah mengetik tulisan ini? Dan apa yang diinginkan makhluk itu? Entahlah ... aku pun segera menghapus tulisan itu, dan lanjut mengerjakan tugas.
__ADS_1