
Malam semakin larut. Di luar langit membentang kelam. Para kelelawar mengepakkan sayapnya. Perlahan gerimis turun membasahi tanah.
Pukul 23.00 dan aku masih terjaga, untung saja besok hari libur. Jadi tak perlu khawatir kesiangan.
Kulirik Kia yang sudah tidur dengan lelapnya. Yeah, malam ini cewek itu menginap di kamarku. Pokonya semenjak ada kejadian-kejadian yang aneh, ia jadi lebih sering tidur di kamarku. Aku sih tak masalah. Justru bagus kalau aku punya teman sekamar.
Maka dari itu, besok kami akan memutuskan untuk membicarakannya pada tante Sumi, bahwa Kia ingin satu kamar denganku. Tidak masalah jika biaya kamar dinaikkan. Jadi, kami tinggal patungan untuk membayarnya. Lagi pula, barang-barang bawaan Kia juga tak terlalu banyak. paling tambahan kompor dan gas, sama beberapa perlengkapan makan. Kasurnya kecil, bisa di sandingkan dengan kasurku. Pasti cukup untuk ditaruh di sini.
Entah mengapa, meski suasana di luar dingin. Tapi, di dalam sini terasa panas. Gerah. Aku pun beranjak dari tempat tidur, dan pergi keluar kamar sebentar untuk mencari angin segar sambil memainkan handphone. Saat aku membuka pintu, semua makhluk tak kasat mata bermunculan. Ini aneh. Sebelumnya aku tak pernah melihat mereka semua, kecuali seorang gadis yang selalu bermain ayunan itu.
Kali ini ada yang merayap di tembok, melayang, merangkak, bahkan bergelantungan di balkon dan pohon sawo depan kosan. Sudah seperti taman bermain.
Kenapa sekarang mereka semua terlihat olehku?
Sedikit merinding sih, tetapi aku tak terlalu memikirkannya. Aku memakai earphone untuk mengalihkan pandangan dari mereka. Jika aku terus memperhatikan, mereka akan menyadari bahwa aku berbeda dan bisa 'melihat'.
Tak berapa lama tiba-tiba saja mereka berterbangan ke sana ke mari, dan berhamburan lalu menghilang entah ke mana. Loh, kenapa mereka? Pikirku.
Bersamaan dengan itu juga datang seseorang naik tangga menuju ke atas. Sosok itu sangat kukenali. Gea? Ngapain dia malam-malam pulang? Bukankah seharusnya dia masih di rawat di rumah sakit?
Aku memperhatikan langkahnya yang gontai, tatapan matanya terlihat kosong. Sudah kupastikan, dia pasti bukan Gea.
"Hei." Kuberanikan diri untuk memanggilnya. Cewek itu menengok sekilas ke arahku. Lalu mengarahkan kembali pandangannya ke depan. Apa aku harus mendekatinya? Mengingat aku hampir mati gara-gara dicekik oleh makhluk yang merasuki Gea itu membuatku menahan diri.
Sebelum benar-benar masuk ke dalam kamarnya. Gea berkata, "Kalau kamu ingin selamat, jangan pernah ikut campur urusan kami." Aku tahu itu bukan suara Gea.
Setelah berkata demikian, pintu kamarnya perlahan tertutup rapat.
__ADS_1
Aku kembali menatap ke seluruh penjuru, tak ada sisa satu pun para makhluk yang tadi sempat berkeliaran di sini. Sebenarnya makhluk jenis apa yang merasuki Gea, sampai ditakuti oleh makhluk lain. Mungkinkah ia punya kekuatan besar? Entahlah, yang pasti aku punya firasat buruk pada Gea. Semoga saja dia tidak apa-apa. Yeah, semoga begitu ....
***
"Aaaaaa ..." Pagi ini aku tersentak dari tidur karena mendengar suara seseorang berteriak. Begitu pun Kia. Kami saling menatap dengan raut wajah kebingungan dicampur linglung, karena baru bangun tidur.
Aku dan Kia langsung keluar, betapa terkejutnya kami saat melihat ke bawah mendapati tubuh Gea yang tergeletak bersimbah darah di bawah balkon. Tepat di depan kamar nomor 2 di bawah. Kami pun langsung berhamburan ke bawah, begitu juga dengan para penghuni kos yang lain.
"Gea!" teriak Nilam histeris, ia masih mengenakan piyama tidur.
"Apa yang terjadi sama lo?" tangisnya meledak sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya.
"Ada apa ini?" tanya Mas Radit beserta penghuni yang lain. Mereka pun ikut terkejut setelah melihat jasad Gea.
Tante Sumi sang pemilik kos yang saat itu sedang berada di dalam rumahnya, ikut keluar menghampiri.
Ada apa dengan Gea? Kenapa makhluk itu bisa bertindak sejahat ini sampai menghabisi nyawanya? Aku tak habis pikir. Padahal baru saja semalam bertemu dengannya, andai saja tadi malam aku punya keberanian untuk menghentikan makhluk itu. Pasti Gea tak akan jadi korban. Aku juga merasa bersalah karena sempat menuduhnya, padahal dia juga korban.
***
Suasana di bawah kosan sangat ramai, ada garis polisi juga. Bahkan pintu kamar milik Gea juga diberi garis kuning.
Selain polisi, masyarakat sekitar pun ikut melihat. Padahal jasad Gea sudah dibawa ke rumah sakit, kenapa orang-orang berdatangan. Apa yang mau mereka lihat?
Dua orang polisi sedang menginterogasi tante Sumi, awalnya semua penghuni kos juga ingin dimintai keterangan. Namun, tante Sumi menolak dengan alasan bahwa ia tidak ingin melibatkan kami. Karena dirinya pemilik kosan, maka dari itu tante Sumi bertanggung jawab sepenuhnya jika ada sesuatu yang terjadi pada para penghuni di kosannya.
"Gue nggak nyangka kalau kak Gea mati mengenaskan kayak gitu," tutur Kia yang berdiri di sampingku. Ikut menyaksikan keadaan di bawah. "Padahal, bukannya dia lagi dirawat kan, ya?" tanyanya.
__ADS_1
"Sebenarnya semalam gue liat dia pulang." Jawabanku membuat Kia mengalihkan pandangannya ke arahku.
"Apa?"
Aku mengangguk dan menjelaskan kenapa aku bisa tahu.
"Tapi, saat itu dia sedang dirasuki," jelasku lagi.
Hening. Tak ada lagi kata yang terucap dari bibirnya. Hanya ada suara bising orang-orang di bawah.
***
Siang matahari bersinar redup. Ada mendung di sana. Angin mulai terasa dingin.
Keadaan di bawah mulai mereda, para polisi telah pulang. Namun, garis kuning tetap terpasang. Berpesan agar tak ada yang mendekati.
Orang-orang sudah tak kelihatan berdatangan lagi. Aku dan Kia akan menemui tante Sumi untuk membicarakan perihal pindah kamar.
Kuketuk pintu rumah itu, beliau muncul saat pintu terbuka.
"Ada apa, ya? Tumben kalian datang ke mari," tanyanya disertai senyuman.
"Ada hal yang mau kita bicarakan, Tan," jelasku.
Kami pun dipersilakan masuk. Begitu sampai di dalam, bau setanggi yang menyengat tercium oleh hidungku. Dapat kusimpulkan bahwa tante Sumi itu tipe orang yang suka wewangian. Buktinya hampir di setiap sudut rumah bertengger beberapa batang setanggi.
Begitu dipersilakan duduk, aku dan Kia langsung mengutarakan keinginan kami. Tante Sumi pun menyetujuinya. Itu berarti, sekarang tinggal memindahkan barang-barang milik Kia.
__ADS_1