DIA PELAKUNYA? EERINESS ....

DIA PELAKUNYA? EERINESS ....
BAB 23


__ADS_3

Tak! Tak! Tak


Terdengar suara benturan pisau di atas talenan dari arah dapur. Aku menggosok-gosok mata, tumen Kia jam segini masak. Mungkin lapar kali, ya. Tapi kan baru tadi sore dia makan, masa sudah lapar lagi? Lagian kalaupun lapar juga masih ada makanan sisa masak-masak tadi siang.


Aku pun beranjak bangkit dan melangkah perlahan, menuju ke arah dapur sambil garuk-garuk kepala yang lumayan terasa gatal. Sudah berapa hari aku belum keramas?


Masih terdengar jelas suara pisau yang bergerak di atas talenan. Sampai akhirnya, aku mendengar pisau terjatuh. Dasar Kia, teledor banget. Bagaimana jika pisau itu mengenai kakinya. Untung saja pisau itu jatuh di samping kakinya.


"Hati-hati, dong. Nanti kalau kena kaki lo gimana? Bahaya tuh." Aku memperingatkan sambil mengambil segelas air galon yang letaknya tak jauh dari Kia berdiri.


Hening. Tak ada sahutan apa pun.


Aku menoleh ke arahnya, Kia masih diam mematung dan pisau itu masih ada di bawah belum dipungutnya. Ada yang aneh.


"Kia, lo nggak pa-pa, kan?" tanyaku hati-hati. Lalu menepuk pundaknya.


KEPALANYA BERPUTAR 180 DERAJAT ....


Aku memekik tertahan karena mungkin jeritanku akan mengganggu orang-orang di sekelilingku yang tengah tertidur lelap. Mata itu, bukan tatapan mata Kia. Tatapan mata itu milik gadis yang selalu merasuki Gea. Ia menyeringai dan berkata, "Gadis ini akan jadi korban selanjutnya." Setelah berkata begitu, kepalanya kembali seperti semula. Tiba-tiba dirinya bergerak sempoyongan, sampai akhirnya tumbang ke arahku. Untung saja aku sigap menahannya. Sial, ternyata Kia berat juga, ya. Padahal tubuhnya mungil. Dengan sekuat tenaga aku membopongnya ke kasur.


Ia tersentak saat tubuhnya tak sengaja terbanting ke kasur. Soalnya dia berat banget sih. Napasku saja sampai ngos-ngosan.


"Via, gue kenapa?" tanyanya linglung.


Aku harus bilang apa? Aku nggak tega jika harus mengatakan bahwa Kia akan jadi korban selanjutnya. Dengan berat hati aku pun berbohong padanya. "Tadi lo pingsan deket pintu kamar mandi."


"Masa sih gue pingsan? Seumur-umur gue belum pernah ngerasain yang namanya pingsan."


"Iya beneran, gue udah coba bangunin lo berkali-kali, tapi lo nggak bangun-bangun. Ya udah gue gotong lo ke kasur. Tapi sori deh tadi lo nggak sengaja gue banting. Abisnya lo berat banget , sih. Pasti sakit ya, elo nyampe kebangun gitu?"


"Gue nggak pa-pa kok. Cuma agak kaget aja. Thank's, ya."

__ADS_1


Aku tersenyum sambil duduk di sampingnya. "Elo kenapa bisa sampai pingsan gitu?"


"Gue juga nggak tau, kayaknya kecapean."


"Ya udah, istirahat sana."


Malam ini aku tak langsung tidur, banyak hal yang kupikirkan. Salah satunya kejadian tadi yang menimpa Kia. Sebenarnya siapa makhluk itu, mengapa ia juga mengincar Kia sekarang?


Bukankah mereka tak saling kenal? Atau memang ada sesuatu ....


***


Hari ini Kia tidak masuk sekolah, karena ia sedang sakit. Sebenarnya aku tahu penyebab sakitnya, namun aku memilih untuk diam. Aku masih belum siap jika harus mengatakannya pada Kia. Yang ada ia nanti justru ketakutan dan stress.


Tapi aku juga tak boleh diam saja setelah tahu Kia akan jadi korban selanjutnya. Arrgghhh ... semuanya benar-benar membuatku pusing.


"Kenapa lo mukanya kusut gitu?" tanya Raefal yang sedang duduk makan bersamaku di kantin kampus.


"Nggak pa-pa."


Tapi, aku memilih untuk memendam semuanya sendiri.


"Oh ya. Elo cukup populer di kampus ini, ya?" Aku mengalihkan pembicaraan.


"Nggak juga, tuh. Gue nggak ngerasa kayak gitu." Ia merendahkan diri. "Tampang biasa kayak gue mana bisa jadi cowok populer di kampus." Dasar cowok genit, merendah untuk meroket. Bilang saja kalau dia ingin disebut si tampan yang rendah hati.


"Tapi, banyak tuh yang ngejar-ngejar lo," cibirku.


"Masa? Kalaupun emang benar. Berarti mereka cuma suka sama tampang gue doang dong. Soalnya ..." Ia menghentikan ucapannya.


"Soalnya apa?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Soalnya waktu gue buta, mereka semua justru jauhi gue. Bahkan tak ada seorang cewek pun yang jenguk gue ke rumah sakit waktu itu," jelasnya sambil tersenyum padaku.


"Apa? lo pernah buta?" Aku sedikit terkejut.


"Iya karena kecelakaan, dan untung aja ada orang yang donorin matanya buat gue. Ya ... walaupun mata orang yang udah mati, sih. Apalagi mati dibunuh."


"Dibunuh?" Aku mengulang kata terakhir.


"Iya, dibunuh sama pacarnya lagi. Kurang serem gimana coba?"


"Masa, sih?" Aku tak percaya.


"Kalau lo nggak percaya, lo datengin aja rumah sakit Harapan Kita. Yeah, walaupun kejadiannya udah setahunan yang lalu-"


Uhukkkk ... Uhukkkk ... Uhukkkk ....


Aku tersedak mendengar cerita Raefal.


"Elo kenapa?" tanya Raefal panik.


"Gue nggak pa-pa kok." Sial, tenggorokanku terasa sakit dan perih. Bahkan mataku pun berair.


"Tapi, menurut gosipnya cewek itu juga ikutan terjun ke bawah. Nggak ada yang tau nasib dia masih hidup atau sudah mati, menyusul cowoknya."


"Sori, Fal. Gue kayaknya harus ke- ke kamar mandi, deh." Aku gelagapan sambil bangun dari duduk.


Tanpa menunggu jawaban Raefal, aku langsung mengambil langkah seribu. Astaga, jadi Raefal mendapat donor darah dari Leo? Pantas saja tatapan matanya tak asing bagiku.


Aku menatap bayangan seseorang wanita di cermin kamar mandi. Bayangan seorang pembunuh ... Tidak! Bukan aku pembunuhnya. Aku tidak membunuh Leo! Tara yang membunuhnya. Itu sebabnya aku terbebas dari hukum. Karena di kamar Leo ada cctv. Tapi, mengapa orang-orang tetap bergosip bahwa aku pembunuhnya?


Saat itu juga, tiba-tiba aku melihat pantulan bayangan sosok itu di cermin. Sosok perempuan yang sangat aku benci. Ia berdiri di belakangku. Tersenyum miring.

__ADS_1


Tara berdiri di belakangku. Aku tahu saat ini aku sedang berhalusinasi. Namun aku salah. Ketika ia mencengkeram pundakku sambil berkata, "Lama tidak berjumpa. Apa kabar, Via?" Ia menyeringai. Wajahnya terlihat berbeda, sedikit lebih menakutkan dari sebelumnya.


Astaga, Ternyata sosok itu benar-benar Tara!


__ADS_2