
Dengan langkah ringan dan ceria, aku melangkah menuju kamar Kia. Karena Minggu ini ia mengajakku menonton film.
Lagi pula, sudah lama sekali aku tidak pergi ke bioskop. Selain itu, aku juga bisa melupakan sejenak kasus-kasus yang membuatku pusing. Aku ingin bersenang-senang sebentar tak apa, kan?
Kia menyambut dari balik pintun. Ia mengenakan gaun yang tak berlengan. Sehingga menyebabkan kedua lengannya jadi terlihat panjang-sementara pendeknya gaun itu membuat kakinya terlihat jenjang. Tambahan lagi, motif kotak-kotaknya berhasil membuatnya terlihat begitu manis.
Kami memilih bioskop yang berada di dalam mal yang letaknya tak jauh dari kosan.
Sesampainya di depan gedung tingkat berkaca itu, kami langsung memasukinya dan menuju lantai tiga. Yeah, bioskop terletak di lantai paling atas. Aku pun langsung bergegas menuju komputer yang dikhususkan untuk pembelian tiket lewat aplikasi online. Aku pun langsung memasukkan kode pemesanan yang ada di halaman tiket, lalu mencetak tiketnya.
"Via, bentar ya. Gue mau terima telepon dulu." Tiba-tiba Kia angkat bicara sambil menunjukkan ponsel miliknya. Dan pergi menjauh dariku, seolah tak ingin siapa pun ada yang mendengar percakapannya. Tetapi aku tak memedulikan itu. Karena dalam beberapa menit saja, ia kembali lagi ke arahku.
"Siapa?" tanyaku.
"Ini ... biasa nyokap nanyain kabar."
Aku hanya membulatkan mulut membentuk huruf 'O'.
"Ya udah, ayo kita masuk. Tiketnya udah lo cetak, kan?" tanyanya.
"Udah kok. Nih." Aku menunjukkan dua tiket yang ada di genggaman tanganku. Kami pun memasuki pintu teater 3 yang sudah dibuka 5 menit yang lalu. Masih terlalu awal, karena film tidak akan langsung di mulai. Pasti ada iklan terlebih dahulu.
Aku memilih kursi yang letaknya di tengah-tengah. Tak terlalu depan, dan tak terlalu belakang.
Seorang molling mulai berkeliling menawarkan barang dagangannya. Aku dan Kia membeli masing-masing popcorn dan minuman, yang akan menemani kami saat menonton film.
Lima menit lagi film akan di mulai. Ruangan studio mulai penuh. Sebagian banyak remaja yang menghabiskan weekend mereka di sini. Tapi, kursi di samping kiriku masih kosong. Sedangkan kursi yang lain sudah penuh. Mungkinkah tak ada orang yang memesan kursi ini?
Pandangan mataku tiba-tiba tertuju pada seorang cowok yang perawakannya tak asing bagiku. Saat jaraknya mulai dekat, betapa terkejutnya aku. Kenapa si cowok genit itu bisa ada di sini? Ia berjalan menuju ke arahku sambil menyunggingkan senyuman. Aku lebih terkejut lagi saat ia mengempaskan pantatnya pada kursi di sampingku.
"Hai," sapanya padaku. Tapi tak kuhiraukan.
"Hai, Kia." Kini ia melambai pada Kia.
"Hai, juga, Kak," sahutnya.
"Wah, kebetulan ya kita bisa ketemu di sini? Duduk bersebelahan lagi," ujarnya padaku.
__ADS_1
Aku hanya menatapnya sekilas. Lalu fokus kembali ke depan.
"Mungkin ini kali yang dinamakan jodoh," godanya padaku.
"Tolong diam, ya. Filmnya bentar lagi mulai," pintaku datar.
Lampu studio mulai dimatikan pertanda beberapa detik lagi film akan di mulai. Raefal pun terdiam.
Syukurlah di sepanjang pemutaran film, Raefal tak banyak menggangguku. Jadi, aku bisa menikmati filmnya dengan tenang.
***
Aku mendengus kesal karena sedari tadi Raefal mengikuti kami terus, setelah keluar dari bioskop.
"Elo kenapa sih dari tadi ngikutin kita?" tanyaku pada akhirnya.
"Emang kenapa? Nggak boleh?" tanyanya balik.
Aku berdecak. "Elo kan tadi datang sendiri. Pulang juga harus sendiri dong!"
"Siapa yang bikin peraturan kayak gitu?"
"Gue cuma pengen nongkrong, emang nggak boleh?"
"Ya udah, nongkrong sana sama teman-teman lo. Jangan sama kita."
"Kalian juga kan teman gue ... mmm ... lo sendiri kan yang bilang kalau kita temenan," gumamnya.
OMG, ini cowok nggak mau ngalah banget, sih.
Aku melipat kedua tangan di dada. "Tapi, gue bingung, deh. Kenapa lo bisa tau kalau gue lagi nonton di sini? Dan kenapa juga kursi lo bisa bersebelahan sama kursi gue? Itu terlalu aneh untuk hal yang kebetulan."
Raefal mendadak kikuk. Matanya bergerak ke mana-mana, seolah sedang mencari alasan.
"Atau jangan-jangan lo-" Ucapanku terhenti saat mataku menangkap sosok yang berjalan tak jauh dari tempat kami berdiri. Sosok seorang perempuan yang pernah mengganggu pikiranku. Astaga, benarkah itu dia? Aku pun langsung berlari mengejarnya. Tanpa menghiraukan panggilan dari Kia dan Raefal yang kebingungan melihatku tiba-tiba berlari.
Sial, aku tak bisa mengejar sosok itu. Oh Tuhan, tolong pertemukan aku dengan perempuan itu. Aku hanya ingin memastikan bahwa perempuan itu bukan Tara!
__ADS_1
"Via, lo kenapa sih tiba-tiba lari? Ada apa?" tanya Kia dengan napas terengah-engah.
"Gue nggak pa-pa kok. Kita pulang, yuk. Tiba-tiba aja gue nggak enak badan," gumamku.
"Lo sakit? Gue anterin, ya?" tawar Raefal yang entah sejak kapan ada di sampingku.
"Nggak usah," tolakku. "Gue bisa pulang sama Kia."
"Kayaknya lo lebih baik di antar sama Kak Raefal, deh." Aku langsung membulatkan mata pada Kia.
"Ya udah kalau lo emang nggak mau. Gue nggak maksa kok." Syukur deh kalau cowok genit ini ngarti.
"Tapi, gue anterin sampai kalian berdua naik ojek, ya," tambahnya.
Yeah, mau tak mau aku mengiyakan permintaannya. Daripada ia memaksaku untuk ikut dengannya.
"Kalian mau nunggu ojek di sini?" tanyanya setelah kami sudah berada di luar.
Aku dan Kia mengangguk bersamaan.
"Iya, Kak. Makasih udah anterin kita," seru Kia.
"Ya udah, sekarang lo pulang sa-" Ucapanku terpotong oleh teriakan Raefal.
"Via, awas!" teriaknya sambil memelukku seolah melindungi dari sesuatu.
Plak ...
Sesuatu terlempar ke arahnya. Ia meringis kesakitan saat benda itu mengenai kepalanya. Sebuah batu yang berukuran kepalan tangan orang dewasa jatuh di dekat kakiku. Astaga, siapa orang yang berusaha melempar batu sebesar itu ke arahku? Aku celingak-celinguk untuk memastikan orang yang telah melakukan itu.
Tetapi, aku terlalu fokus dengan keadaan kepala Raefal yang sepertinya berdarah. Segelintir orang menghampiri ke arah kami. Dan bertanya apa yang telah terjadi. Kami hanya menggeleng tak tahu.
"Elo nggak pa-pa, kan?" tanyaku khawatir. Yeah, meskipun aku tak menyukai cowok genit itu, aku juga masih punya rasa empati melihatnya kesakitan. Apalagi ia terluka karena melindungiku.
"Kak Raefal nggak pa-pa, kan?" sambung Kia.
"Gue nggak pa-pa kok. Kalian tenang aja," tandasnya sambil memegangi bagian kepala yang kena lemparan batu itu.
__ADS_1
Aku meraba kepalanya. Kurasakan beberapa tetes darah keluar dan membasahi tanganku.
"Kepala lo berdarah!" tuturku. Bersamaan dengan itu, sosok nenek tua yang selalu mengekori Raefal tiba-tiba muncul. Raut wajahnya terlihat sangat menakutkan dari biasanya. Namun, aku tak menghiraukannya. Karena sekarang yang paling penting Raefal harus segera dibawa ke rumah sakit.