
Kantin kampus saat ini terlihat ramai dipenuhi para mahasiswa. Mereka udah kayak orang yang tiga hari belum makan. Mulai dari nasi uduk sisa jualan tadi pagi, nasi goreng juga, bubur ayam, roti keju, soto, habis dilahap.
Tidak hanya itu, batagor, mi goreng, bacang panas, dan roti bakar juga tak lepas dari sasaran. Salah satu bibi penjaga kantin beserta suami dan anaknya yang berumur 19 tahun--ia juga kuliah di sini. Setiap jam istirahat pasti ikut membantu orangtuanya. Anak yang berbakti bukan? Zaman sekarang sudah langka seorang anak yang mau membantu orangtua.
Belum lagi mereka mesti menyediakan minuman dengan berbagai macam rasa.
Di antara tebaran mahasiswa di kantin ini, Raefal tampak menikmati batagor dengan bumbu kacangnya yang kental, di belakangnya berdiri sosok nenek tua--seperti biasa. Sesekali ia meneguk air mineral atau menyeruput es teh manis. Seorang cewek mendatanginya: Nilam. Cewek itu membawa sepiring goreng pisang dan bakwan udang. Ia duduk di depan Raefal. Raefal sendiri hanya meliriknya sekilas, seperti tak peduli. Ia masih saja asyik menikmati makanannya. Nilam memotong bakwan, lalu memasukannya ke dalam mulut.
Aku duduk di seberang kursi Raefal. Sepertinya ia tak menyadari kehadiranku. Mungkin karena terlalu fokus dengan makanannya.
"Rakus juga lo. Makanan sebanyak itu mau dilahap sendiri?" ujar Raefal, ikut mencomot satu bakwan udang dari piring yang dibawa temannya itu. Tak berapa lama, bakwan udang telah pindah, masuk ke perut Raefal. Beberapa detik kemudian Raefal mencomot sepotong pisang goreng. Nilam cuma memperhatikan dengan dahi mengernyit.
"Elo serakah banget sih, Fal. Sepiring batagor belum cukup, ya?" ledek Nilam. Raefal menanggapi dengan cengiran. Hmmm ... mereka akrab sekali.
Tunggu! Kenapa juga aku memperhatikan mereka? Mau mereka akrab kek, dekat kek. Kan bukan urusanku. Batinku.
"Jadi, kapan lo mau temuin si Mawar itu?" Kia menyadarkan lamunanku. Untunglah ia tak sadar jika aku sedang memperhatikan Raefal, karena dirinya sedari tadi sibuk melahap semangkuk soto.
"Mungkin abis makan ini, karena setelah kejadian itu gue nggak pernah dengar suara Mawar lagi," jelasku mengalihkan perhatian pada semangkok bakso yang ada di depanku.
"Apa gue boleh ikut?"
Aku menganggukkan kepala. "Boleh."
Kami kembali menikmati makanan enak iti, mumpung masih hangat. Tanpa di duga-duga, datang Raefal yang langsung duduk di depan kami.
Loh, bukannya tadi dia sedang duduk dengan Nilam? Aku menengok ke arah Nilam, dan mendapati wajahnya yang cemberut--lebih tepatnya terlihat kesal. Hingga akhirnga ia beranjak pergi dari tempatnya.
"Ngapain lo ke sini?" cetusku.
"Kenapa? Emang nggak boleh?"
"Nggak, bukan gitu. Tapi kan tadi lo lagi duduk bareng Nilam."
"Iya tadinya, sekarang gue udah duduk di sini," ujarnya sembari tersenyum. "Lagian Nilamnya juga nggak mau gue ajak ke sini. Ya udah, gue tinggal aja."
"Elo sih, udah tau Nilam nggak suka sama gue. Malah mau di ajak makan sama gue," cibirku.
__ADS_1
"Tapi," Raefal menggaruk kepalanya yang sudah jelas tak terasa gatal. "Kenapa Nilam nggak suka sama lo?" tanyanya polos atau memang sok polos.
Ujung bibirku naik. "Elo itu bodoh, atau gimana, sih?" ucapku dingin.
"Itu karena dia nggak suka kalau Kak Raefal dekat-dekat sama Livia," timpal Kia tenang.
"Masa, sih?" Matanya berkedip-kedip saking bingungnya. Duh ini cowok tampang oke, tapi otaknya nol. "Emangnya Nilam suka sama gue?" Ia menatapku dan Kia secara bergantian.
"Mana kita tau," jawabku dengan nada tinggi.
"Kalau emang benar, gue cuma anggap dia sebagai teman doang. Nggak lebih ... lagian kan gue juga sukanya sama lo." Mulai lagi deh.
Aku hanya mendengus dan berkata, "Eh, gue udah kenyang, nih. Ayo, katanya mau ikut sama gue," ujarku pada Kia sembari beranjak bangun.
Kia ikut bangun tanpa menjawab.
"Kalian mau ke mana?" tanya Raefal menahan kami.
"Kita mau ketemu Mawar, Kak," jelas Kia singkat.
"Gue ikut, ya." Cowok genit itu ikut bangun.
"Emang kenapa?" tanyanya heran.
"Emang lo mau ikut masuk ke dalam toilet wanita? Nanti kalau lo dikira mau macam-macam gimana?" Ucapanku berhasil membuatnya bungkam.
Kami pun berlalu pergi tanpa menunggu ucapan Raefal lagi.
***
Sebenarnya ada perasaan takut dalam hatiku. Takut jika tiba-tiba aku diserang lagi oleh dua algojo keparat itu. Tali, sepertinya aku tak perlu mengkhawatirkan perasaan itu. Karena suasana kampus masih ramai, bahkan banyak orang-orang yang melewati toilet perempuan. Terlebih lagi sekarang kan aku tidak sendirian.
Ketika membuka pintu, ternyata melebihi dugaanku. Toilet dipenuhi oleh para cewek-cewek yang kebanyakan sedang memperbaiki wajah--maksudku mempoles kembali make up yang sudah pada luntur itu.
Aku bingung, sebenarnya mereka niat ke kampus untuk beneran belajar atau cuma gaya-gayaan?
"Toiletnya penuh, nih. Gimana?" tanya Kia setengah berbisik.
__ADS_1
Aku mengedikkan bahu. "Kayaknya nanti aja kalau pulang."
"Lagian gue juga nggak liat Mawar. Mungkin saja dia masih terkurung," sambungku. "Semenjak kejadian kemarin juga gue udah nggak denger bisikan dia lagi. Apa ada sesuatu yang terjadi sama dia, ya?" gumamku sambil berpikir.
"Ya udah, kita lanjut nanti aja pas pulang. Nunggu toilet sepi. Kalau sekarang nggak bakal sempat, waktunya udah mepet banget," usul Kia.
Aku menganggukkan kepala, lalu kembali keluar dari toilet.
Sepanjang perjalanan menuju kelas, kami hanya berjalan tanpa kata. Lalu tiba-tiba, Kia menghentikan langkahnya dengan mendadak. "Oh iya, dari kemaren gue pengen ngobrolin sesuatu sama lo," ujarnya sambil menjentikkan jarinya.
"Apa?" Aku ikut menghentikan langkah.
Kia berjalan memghampiri salah satu jendela gedung. Lalu ia membusungkan sedikit dadanya sambil tangan menopang tubuhnya di daun jendela yang terbuka. "Kemaren lo diserang di toilet kampus, kan?"
Aku mengikuti langkahnya dan menjawab, "Iya, lalu?" tanyaku.
"Itu berarti pelakunya beneran ada di kampus kita!" katanya setengah berteriak.
Aku mendengus. "Yahh ... kalau itu sih gue dari pertama teror di loker aja gue udah tau."
Kia menegakkan badannya, dan berbalik padaku. "Tau dari mana?"
Aku menepuk pelan keningku yang selebar lapangan golf (yang ini nggak serius, ya).
"Kalau pelakunya dari luar, nggak mungkin kan dia bisa masuk ke dalam fakultas kita?"
"Benar juga, ya," cengirnya sambil garuk-garuk kepala, udah mirip kayak makhluk yang suka bergelantungan di kebun binatang. "Pinter juga lo."
Drttttt ....
Ponsel yang kutaruh di kantong saku bergetar, ada satu pesan masuk. Nomor tak dikenal? Aku pun membuka sebuah pesan gambar. Namun, saat kubuka. Betapa terkejutnya aku melihat si pengirim tak dikenal ini mengirim sebuah foto diriku dengan Kia saat ini.
Aku langsung kenal sudut pengambilan gambar kami. Dan langsung berlari menuju tempat itu. Tapi, tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada segelintir mahasiswa yang tengah asyik mengobrol atau bercanda untuk menghabiskan sisa istirahat mereka. Sial, aku yakin ini nomor pelakunya. Aku menekan tombol panggilan pada nomor itu. Dan nomor sudah tidak aktif.
Kia menyusulku, setelah berada di sampingku ia bertanya, "Ada apa? Kenapa lo tiba-tiba lari, sih?"
"Coba lo liat ini." Aku menyodorkan ponselku padanya.
__ADS_1
Kia membulatkan mata setelah melihat gambar dirinya denganku sedang bersama beberapa menit yang lalu. Dan di tempat yang tadi kami berpijak.