
Untung saja aku membawa kotak P3K di dalam tas. Aku mengobati luka Raefal. Ia meringis saat aku melakukan penekanan pada lukanya agar pendarahan cepat terhenti.
Awalnya kami ingin membawanya ke rumah sakit, namun ia menolak. Makanya aku yang mengobati lukanya. Meskipun nggak ahli-ahli amat, sih.
Setelah pendarahan berhenti, aku meraba-raba kepalanya dan menyibak rambutnya agar kulit yang luka bisa terlihat. Aku pun memberinya beberapa tetes obat luka.
"Kenapa lo sampai segitunya ngelindungi gue?" tanyaku setelah selesai mengobati lukanya.
Raefal menggeser posisi duduknya kini menghadap ke arahku. Yeah, sedari tadi ia membelakangiku karena lukanya terletak di belakang kepala. "Bukannya gue udah sering mengutarakan isi hati gue, ya?"
"Iya, sih. Tapi, gue kan udah berkali-kali nolak lo. Kenapa lo masih terus maju?" imbuhku lagi.
Raefal diam sejenak. "Gue juga nggak tau. Yang jelas, lo itu mirip sama cewek yang selalu terbayang di mata gue," jawabnya. "Tapi, kayaknya sekarang masalah itu udah nggak penting lagi, deh."
Aku mengerutkan kening. "Maksudnya?"
"Maksud gue sekarang yang paling penting adalah keselamatan elo. Elo lupa? Ini udah kedua kalinya ada orang yang neror lo." Raefal mengingatkanku pada teror yang terjadi di loker tempo dulu.
"Mungkin pelakunya benar-benar tau tentang penyelidikan lo. Makanya dia jadi neror lo, supaya lo menghentikan penyelidikan lo itu," paparnya dengan suara pelan.
Saat itu juga datang Kia dengan dua tangan sambil memegang kantong plastik yang berisi sebuah minuman.
"Ini minuman buat kalian berdua." Ia menyodorkan satu untukku dan satu untuk Raefal. "Gimana, Kak. Lukanya parah nggak?" sambungnya sembari duduk di sampingku.
"Nggak pa-pa kok. Kan udah di obati sama Via, langsung sembuh," godanya sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.
Aku mendelik menatapnya. Tapi, tak terlalu menganggap serius. Sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan candaan Raefal.
"Kayaknya gue harus nganterin kalian berdua sampai depan kosan, deh." Raefal melayangkan pandangannya secara bergantian pada kami.
"Naik motor bertiga maksudnya?" tanyaku sambil menunjuk ke arahku, Kia dan Raefal bergantian.
Raefal mengangkat kedua bahunya dan mengangguk secara bersamaan. "Yah, mau gimana lagi? Gue nggak mungkin ngebiarin kalian berdua pulang sendiri."
"Aku nggak usah deh, Kak." Kia memotong. "Kak Raefal pulang bareng Livia aja. Biar aku naik ojek."
__ADS_1
"Tapi, nanti kalau lo dalam bahaya gimana?" tanyaku khawatir.
"LIVIA." Ia menekankan setiap huruf namaku. "Yang di incar sama pelakunya itu elo. Bukan gue. Jadi, yang berada dalam bahaya itu elo. Ada baiknya kalau lo pulang bareng Kak Raefal. Biar ada yang jagain," ujarnya lembut. "Lo nggak usah khawatirin gue." Ia mengelus-elus pelan bahuku sambil tersenyum.
Aku diam sejenak. Melayangkan pandangan pada Kia dan Raefal secara bergantian. Mereka menunggu jawabanku.
Pada akhirnya aku pun mengiyakannya. Kami berpisah setelah Kia mendapatkan tumpangan. Ia sudah melaju terlebih dahulu.
Weekend yang harusnya diisi dengan kesenangan, justru malah sebaliknya. Sepertinya aku tak diizinkan untuk bersenang-senang, walaupun hanya sebentar.
***
Aku membuka mata dan mendapati diriku sudah berada di dalam kamar kosan. Masih dengan pakaian yang kukenakan saat pergi jalan-jalan tadi.
Aku mengusap-ngusap wajah untuk memulihkan kesadaranku. Sepertinya aku ketiduran sampai malam. Mana pintu tak dikunci. Untung saja tak ada orang jahat yang masuk.
Tiba-tiba hidungku mencium aroma sesuatu yang terbakar.
Siapa orang sehat malam-malam begini bakar sampah? Sampai asapnya pun masuk melalui ventilasi udara di kosanku. Namun, semakin lama asap itu semakin pekat dan menyesakkan dada.
Aku berusaha bangun dari tempat tidur, namun entah mengapa tubuhku terasa berat sekali. Seperti ada sesuatu yang menindihnya. Sambil terus terbatuk-batuk aku meraih apa saja yang bisa menopang tubuhku sampai akhirnya tanganku menyenggol gelas yang berada di atas meja kecil samping tempat tidur, dan pecah.
"To-long ..." Aku merangkak dengan susah payah.
Tetapi, aku sudah tak kuat lagi menghirup asap tebal itu yang sangat menyesakkan dada. Saat mataku akan terpejam karena pusing. Tiba-tiba Kia menghampiriku, yang ada di pikiranku saat ini, bagaimana Kia bisa masuk melewati kobaran api yang sudah setinggi manusia dewasa?
"Via ... Livia ... lo kenapa?" tanyanya panik menyadarkanku.
"Kebakaran ... ada kebakaran," teriakku dengan suara parau.
"Kebakaran? Di mana?" tanyanya bingung.
Saat aku hendak menunjuk ke luar, kulihat tidak ada kebakaran. Bahkan sepercik api pun tidak ada. Dadaku sudah tak terasa sesak dan normal kembali.
"Tadi beneran ada kebakaran!" Aku menegaskan ucapanku.
__ADS_1
Saat itu juga datang para penghuni kos yang lain karena mendengar teriakanku.
"Ada apa ini?" tanya Mas Radit yang berada paling depan di antara yang lain.
"Tadi ada kebakaran, Mas," lirihku pelan.
Mas Radit memasang ekspresi kebingungan. "Kebakaran? Di mana?"
"Iya, kebakaran di mana, sih? Lo bikin orang panik aja!" cibir Nilam.
"Tapi, tadi beneran kok ada kebakaran," tegasku.
"Elo pasti kecapean, deh. Makanya elo jadi halu gitu. Mending sekarang lo istirahat aja, ya. Biar gue yang beresin pecahan gelas ini." Kia memegang lembut tanganku. Dan itu membuatku sedikit tenang.
"Emang dasar anak aneh. Malam-malam gini malah bikin keributan!" cemooh Nilam. Setelah berkata begitu ia langsung pergi kembali ke kamarnya.
Aku ingin memprotes ucapannya. Namun, apa daya faktanya memang tidak ada kebakaran. Atau mungkin benar yang dikatakan Kia, itu cuma halusinasiku saja.
Entah perasaanku atau memang benar, sudut mataku menangkap sosok Gea yang sekilas tersenyum miring--atau lebih tepatnya menyeringai sebelum ia berbalik pergi. Disusul dengan yang lain. Sampai suasana kembali hening.
Setelah selesai membereskan pecahan kaca, Kia membawakanku segelas air putih.
"Thank's, ya."
"Via, kayaknya yang neror lo bukan cuma manusia, deh," ujarnya ragu padaku.
Aku melebarkan mata. "Maksudnya?"
"Gue juga nggak tau. Tapi, yang pasti lo juga diteror sama sosok hantu yang sering lo liat di kosan ini." Ia menegaskan opininya.
Aku diam untuk beberapa detik. Sebelum akhirnya berkata, "Kayaknya semua kejadian ini memang ada sangkutannya dengan kematian Mawar, deh. Mau nggak mau gue juga harus cari tahu siapa makhluk itu dan kenapa makhluk itu menginginkan Gea. Dan apa hubungannya dengan pelaku pembunuhan Mawar," gumamku menatap lurus ke depan.
Percakapan kami terhenti oleh suara bising burung gagak yang terdengar jelas dan tepat di atas kamarku. Makhluk itu terdengar memutari kosan ini. Aku dan Kia menatap ke atas, dan saling melayangkan pandangan satu sama lain setelah suara-suara itu berhenti, Kia merapatkan tubuhnya padaku.
Lalu dengan suara pelan ia berbisik, "Kayaknya malam ini gue tidur sama lo lagi, deh."
__ADS_1