DIA PELAKUNYA? EERINESS ....

DIA PELAKUNYA? EERINESS ....
BAB 12


__ADS_3

Aku membersihkan diri di toilet, noda di kulitku memang gampang hilang. Tapi, noda di bajuku? Susah sekali menghilangkannya. Harus dicuci dengan sabun.


Mawar menatapku dengan tatapan sendu. "Maafkan aku karena telah melibatkanmu dengan situasi yang berbahaya," ujarnya.


"No problem. Gue udah biasa ada di situasi kayak gini. Gue juga udah ngalamin rasanya diteror. Walaupun pada akhirnya gue hampir mati terbunuh." Aku menjelaskan dengan santai. Setelah wajahku bersih dari noda merah sialan itu.


"Kamu harus berhati-hati, bisa saja orang itu akan melakukan hal yang lebih nekat lagi."


"Iya, lo nggak usah khawatir. Yang penting kasus lo selesai. Kita cuma cari tahu siapa pelakunya doang, kan?" Mawar hanya menganggukkan kepalanya. "Kalau gitu gue balik dulu, ya."


Yeah, gara-gara insiden itu aku disuruh untuk pulang. Karena bau darah yang begitu menyengat, dan aku tak membawa baju ganti. Dan sialnya di sepanjang jalan, aku menjadi pusat perhatian orang-orang yang memandangku dengan perasaan curiga--bagai melayangkan pandangan pada seorang penjahat yang baru melakukan pembunuhan sadis sampai darahnya muncrat ke seluruh tubuh. Untung saja mereka hanya menatap saja, tanpa melakukan tindakan seperti, melapor pada polisi. Bisa panjang nanti urusannya. Jangan sampai, deh!


Nasib baik masih bersamaku, kebetulan kosan kosong. Jam segini sih memang pasti mereka masih disibukkan jadwal kuliah dan kerja. Dan untung saja rumah Tante Sumi pintunya tertutup rapat. Sepertinya ia sedang tidak ada di rumah. Jadi, aku tak perlu mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang aku sendiri bingung menjawabnya.


Sudah kuputuskan, setelah Gea pulang dari kuliahnya. Aku akan langsung mempertanyakan semua kejadian itu.


***


Sambil menunggu kepulangan Gea, aku duduk santai di balkon depan kamar sambil memainkan ponsel. Mengirim pesan whatsapp pada Kia untuk menanyakan ada tugas apa saja yang harus dikerjakan. Tak lupa di sampingku terletak cemilan yang baru kubeli kemarin di warung dekat kampus.


Saat tengah asyik memainkan ponsel, aku mendengar pintu gerbang terbuka. Aku menjulurkan setengah kepala untuk melihat ke bawah, mataku melihat Mas Radit yang masuk ke dalam. Yang membuatku bingung, Mas Radit tidak masuk ke dalam kamarnya. Melainkan ... ia berjalan menuju rumah Tante Sumi. Bahkan masuk ke dalam rumahnya tanpa permisi. Aneh, mana ada anak kos yang berani masuk ke dalam rumah pemilik kosan? Kecuali, kalau orang itu ada hubungan khusus dengan pemilik kosan. Ah, sudahlah. Apa urusannya denganku. Bisa saja kan kalau ternyata Mas Radit itu kerabatnya Tante Sumi. Aku pun kembali duduk dan memainkan ponsel.


Tak terasa hari sudah sore, Kia sampai lebih dulu di kosan. Ia sempat bertanya apakah aku baik-baik saja setelah insiden tadi pagi di kampus. Aku cukup meyakinkannya bahwa aku tidak apa-apa.


"Tapi, kira-kira siapa yang udah lakuin itu ke elo, ya? Apalagi itu darah beneran," ujarnya sambil mengingat kembali kejadian tadi pagi sambil bergidik ngeri. "Atau lo punya salah sama orang, terus dia balas dendam ke elo?"


Aku menepis terkaannya. "Jangan ngaco, deh. Gue nggak punya musuh. Mungkin itu ulah orang iseng atau orang yang sirik sama gue."


"Tapi, motif apa sampai orang itu ngelakuin hal begitu ke elo? Kalau udah diteror pake darah tuh udah bukan main-main lagi, Via. Gue suka liat di film-film."

__ADS_1


Aku hanya meresponnya dengan diam. Yang dikatakan Kia memang benar. Jika ada orang yang meneror kita dengan darah, itu bukanlah hal main-main. Lagi pula aku pun sudah pernah mengalaminya saat masa SMA.


Tak lama kemudian, orang yang kutunggu akhirnya datang juga. Gea dan Nilam terlihat cekikikan, entah apa yang dibicarakan oleh mereka. Aku langsung berdiri saat mereka berada di dekatku. Sementara Kia masih fokus dengan ponselnya.


Mereka menghentikan tawanya saat melihatku yang berdiri seolah menunggu kedatangan mereka.


"Via, kamu nggak pa-pa, kan?" tanya Gea. "Tadi di kampus ramai membicarakan soal kamu," tuturnya.


"Apa elo yang ngelakuin itu?" tanyaku langsung tanpa memedulikan pertanyaannya.


Gea menyipitkan matanya. "Maksud kamu?"


"Elo nggak usah pura-pura nggak tau! Jawab jujur, Gea. Apa lo yang nulis surat ancaman itu?" tuduhku.


Gea gelagapan. "Maksud kamu ... kamu nuduh aku?"


"Siapa Mawar?" taya Kia tiba-tiba ikut nimbrung. Sial, aku lupa bahwa ada Kia di sini. "Siapa Mawar, Via?" tanyanya ulang.


"Maksud lo apa? Lo nuduh Gea yang udah lakuin itu ke lo?" Kini Nilam ikut campur.


"Kenapa bisa kamu nuduh aku, Via?" tanya Gea dengan suara sendu.


"Kan tadi udah gue bilang. Yang tau tentang Mawar dan gue itu cuma elo!"


"Iya tapi, aku nggak mungkin ngelakuin hal itu. Justru aku ingin membantu, agar aku juga tahu penyebab kematian sahabatku."


"Jangan karena muka lo polos dan lugu, terus gue percaya gitu? Gue udah pengalaman diteror orang. Dan gue langsung tau orang jahat yang sebenarnya-" Sebelum aku melanjutkan kalimatku. Nilam memotongnya.


"Cukup, anak rese! Elo itu beneran nggak sadar diri, ya. Lo itu nyebelin tau nggak? Harusnya lo sadar karena sikap lo yang kurang ajar itu jadi penyebab lo punya musuh, dan diteror sama musuh lo." Nilam membentakku sambil menunjuk-nujuk ke arah mukaku.

__ADS_1


"Aku nggak nyangka, Via. Kamu bisa nuduh aku begitu." Gea menatapku dengan sedih. "Aku akan buktikan kalau bukan aku pelakunya!" Setelah berkata begitu, Gea masuk ke kamarnya.


"Nggak seharusnya lo nuduh Gea. Gue tahu Gea itu anak baik. Nggak kayak lo yang rese. Seperti kata lo, kalau lo pernah diteror waktu dulu. Nggak menutup kemungkinan dong kalau lo diteror lagi sama peneror. Karena emang lo itu nyebelin!" cemooh Nilam sambil menekan pundakku. Ia pun langsung masuk ke dalam kamarnya.


Setelah mereka masuk ke dalam kamar masing-masing, kini hanya ada aku dan Kia. Sial, aku benar-benar melupakan Kia. Entah aku harus bilang apa. Mungkinkah ini saat yang tepat untuk menceritakan kemampuanku padanya? Tetapi, aku bingung harus di mulai dengan apa dan dari mana?


***


Akhirnya aku menceritakan semuanya pada Kia. Di mulai dari kisahku saat SMA.


Kisah yang begitu panjang sampai memakan waktu berjam-jam. Dan tak terasa hari sudah berganti malam. Di luar dugaanku, ternyata respon Kia biasa saja. Tak seperti yang aku takutkan. Ia masih mau berteman denganku. Dan tidak menganggapku aneh. Justru ia berpesan bahwa aku harus tetap menjaga rahasia kemampuanku agar tak banyak orang yang tahu. Bisa saja mereka memperalatku untuk hal negatif.


"Kalau menurut gue, mending lo berhenti menyelidiki kasus si Mawar itu. Daripada nyawa lo yang jadi taruhannya." Kia menatapku dengan tajam. "Siapa pun pelakunya, yang pasti dia nggak main-main sama ancamannya. Dulu lo terjerat kasus teror juga, kan? Dan karena itu nyawa lo hampir melayang. Kan lo sendiri yang mau kehidupan yang normal."


"Gue nggak bisa berhenti. Kalau berhenti pun mungkin emang gue nggak bakal diteror sama pelakunya, tapi gue bakal diteror sama Mawar," jelasku.


"Susah juga kalau begitu. Intinya lo harus hati-hati Via. Jangan pernah bermain-main dengan hal gaib. Tapi, kalau lo butuh bantuan gue. Lo bilang aja, gue siap kok bantu lo."


"Lo serius?" tanyaku tak percaya bahwa Kia mau melibatkan dirinya dalam penyelidikanku.


Kia mengangguk sambil tersenyum. Namun, tiba-tiba saja aku ragu. "Tapi, lo tulus bantu gue, kan?" tanyaku pelan.


"Lo takut dikhianati sama sahabat lo lagi?"


"Iya, gue masih trauma percaya sama orang."


Kia memegang tanganku. Dan meyakinkanku bahwa ia berbeda dengan teman-teman di masa laluku. Ia benar-benar tulus berteman denganku. Bahkan Kia juga bersumpah bahwa dirinya tidak ada hubungan dengan kasus teror itu. Karena ia pun baru menginjakkan kakinya ke kota ini.


Kami pun akhirnya menutup obrolan dan masuk ke dalam kamar masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2