
Malam ini aku kembali mendengar bunyi decitan ayunan yang terletak di halaman kosan. Siapa sih malam-malam begini main ayunan? Astaga, gadis itu lagi. Sebenarnya dia siapa, sih? Kenapa sering sekali main ayunan di situ pada saat bulan purnama begini.
Haruskah aku menghampiri dan menegur bahwa suara decitannya sangat menggangguku. Tapi, bagaimana jika dia ternyata anak Tante Sumi? Karena kan setahuku kosan yang dihuni oleh perempuan hanya di lantai atas. Sedangkan di bawah laki-laki semua. Dan kosan di lantai atas penghuninya cuma aku, Kia, Gea, dan Nilam. Nomor lima masih kosong.
Sepertinya memang benar dia anak Tante Sumi. Aku pun memutuskan untuk menghampiri dirinya.
Sesampainya di depan ayunan. Aku memberanikan diri untuk menyapanya. "Hei, kamu anaknya Tante Sumi, ya?"
Gadis itu tak menjawab. Pandangannya masih terus menatap ke depan. Tatapan mata yang terlihat kosong. Ada yang aneh dengan dirinya. Tiba-tiba ia bangun dan berjalan ke arahku dengan cepat--lebih tepatnya melayang ke arahku. Aku pun menjerit dan menutup mata saat wajah itu semakin dekat dan menabrakku, kemudian menghilang.
Astaga, ternyata dia bukan manusia. Jantungku berdegup kencang. Aku harus segera masuk ke kamar. Namun saat menaiki tangga, aku melihat Gea sedang duduk menunduk sambil tangan melingkar memegang lututnya.
"Gea? Ngapain di luar malam-malam?" tanyaku sambil memicingkan mata.
Ia mendongak. Matanya yang merah menatap tajam ke arahku. Astaga, mata itu bukan milik Gea. Lalu ia terbangun perlahan mendekat ke arahku.
"Gea sadar! Ini gue Livia," teriakku dengan harapan Gea mendengar dan tersadar. Tubuhnya telah dirasuki!
Tanpa diduga tangannya mencekik leherku. "Gea apa yang lo lakuin. Lepasin!" Aku berusaha untuk berontak dan melepaskan cengkeraman yang membuatku kesulitan bernapas.
"JANGAN GANGGU AKU!!!!" teriaknya sambil terus mencekikku semakin erat.
"Gea berh-enti." Suaraku terbata-bata. "Tolong!!!" Aku berusaha untuk berteriak, meskipun itu sedikit menghabiskan tenaga. Berharap orang-orang terbangun dan menolongku.
Yang pertama muncul tentu saja Kia. Ia sangat terkejut melihatku hampir kehabisan napas karena cekikan Gea.
"Kak Gea kenapa? Lepasin Livia, Kak." Kia berusaha melepaskan tangan Gea. Namun, tenaganya sangat kuat sampai ia pun terpental ke belakang. "Tolong ... tolong ..." Kia berteriak meminta pertolongan siapa saja. Sepertinya kegaduhan kami berhasil membangunkan para penghuni kosan. Mereka pun keluar dengan wajah tak kalah terkejutnya. Orang-orang berusaha melepaskan Gea dariku, termasuk Mas Radit. Sampai akhirnya tenaga Gea kalau oleh 4 orang tenaga laki-laki. Bersamaan dengan itu tubuhnya terjatuh, Gea pingsan tak sadarkan diri. Sementara aku terus terbatuk-batuk karena hampir saja aku bertemu ajalku yang kedua kalinya.
"Via lo nggak pa-pa?" tanya Kia sambil merangkul bahuku.
Aku menggeleng lemah.
"Apa yang terjadi dengan Gea?" tanya Nilam padaku.
Yang bisa kulakukan hanya menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Lebih baik kamu bawa teman kamu ke dalam," ujar Mas Radit tiba-tiba pada Kia. "Masalah Gea, biar Nilam yang urus."
Kami pun menuruti perintahnya. Kia memboyong masuk tubuhku ke dalam kamar.
Setelah masuk, aku langsung diberi air putih olehnya. "Sebenarnya apa yang terjadi, Via?" tanyanya.
"Gue juga nggak tau. Tiba-tiba aja Gea nyerang gue," jelasku dengan napas tersengal-sengal.
"Kayaknya itu bukan Gea, deh. Tatapan matanya beda."
"Gue tau kok. Gea kerasukan."
"Apa? Kerasukan?" Kia merapatkan tubuhnya padaku. "Kok tiba-tiba gue merinding, ya," katanya sambil mengelus-elus pundaknya.
"Lo tenang aja. Di kamar gue nggak ada makhluk kayak gitu kok."
Desahan napas lega keluar dari mulutnya. "Syukur, deh. Tapi, kenapa kak Gea bisa kerasukan, ya?"
"Sebenarnya ... ini bukan yang pertama kalinya gue liat Gea kayak gitu."
"Lo ingat nggak waktu gue pagi-pagi tiduran di depan kamarnya?"
Kia mengangguk cepat. "Sebenarnya malam harinya gue sempat ketemu sama Gea dengan kondisi kayak gitu juga. Tapi, bedanya malam itu dia nggak nyerang gue. Malah dia lari, karena penasaran gue pun ngikutin dia. Nggak taunya dia bawa gue ke makam belakang kosan ini."
"Hah? Apa? Jadi di belakang kosan ini makam? Pantesan gue sering dengar suara burung hantu," celetuknya.
"Dan ternyata makhluk yang merasuki Gea itu seorang perempuan yang sering gue liat main ayunan di depan kosan."
"Jadi, selama ini lo tau kosan ini ada angker, tapi lo diam aja?"
"Iya," jawabku singkat.
"Kenapa lo nggak ngomong dari awal sih kalau kosan ini angker?" pekiknya tiba-tiba menjadi kesal.
"Ya mana gue tau kalau makhluk itu berbahaya. Gue kira dia nggak akan ganggu penghuni di kosan ini."
__ADS_1
Kia hanya mendengus.
"Tapi, yang bikin gue bingung. Tadi makhluk itu bilang jangan ganggu dirinya. Emangnya apa yang udah gue perbuat sampai mengusik dia?" tanyaku pada Kia.
"Mana gue tau. Kan yang punya kemampuan itu elo," balasnya sambil memelankan suaranya.
Kini hanya ada keheningan di antara kami. Malam ini Kia memutuskan untuk menginap di kamarku. Karena kejadian itu, ia juga masih takut untuk tidur sendirian. Dasar penakut.
***
Hari ini Gea tidak masuk kuliah. Karena kondisinya semakin melemah. Sebenarnya ada satu hal yang selalu kupikirkan, ucapan dari makhluk itu yang terus terngiang di kepalaku. Kenapa bisa tepat setelah aku berusaha menyelidiki kasus kematian Mawar, dan teror di lokerku. Apakah semua itu saling berkaitan.
Aku tersentak dari lamunan saat Kia menyikut lenganku.
"Jangan ngelamun. Nanti lo bisa kerasukan kayak kak Gea!"
"Masuk akal nggak sih kalau Gea bukan sakit biasa? Melainkan karena energinya sering diserap sama makhluk itu?" tebakku.
Kia memanyunkan bibirnya. "Bisa jadi, sih. Tapi gue nggak mau asal mendiagnosis penyakit orang. Karena gue nggak ahli dalam dunia gaib maupun dunia kedokteran," candanya.
"Gue serius, Kia!"
"Iya tau. Tapi kenapa makhluk itu mau menyerap energi kak Gea?"
Aku mengedikkan bahu. "Gue juga nggak tau. Kalau mau tau, kita harus cari tau," bisikku.
"Gila lo! Kasus si Mawar aja belum selesai. Sekarang mau ditambah sama kasus Kak Gea. Nggak sekalian aja tuh lo buka praktek dukun karena kemampuan lo it-"
Aku langsung membungkam mulut Kia. Anak ini benar-benar deh mulutnya kurang bisa dijaga. "Jangan keras-keras. Nanti kalau ada yang dengar gimana?" bisikku yang disambut anggukan Kia.
"Iya sori," cicitnya setelah melepaskan tanganku dari mulutnya.
"Yang pasti kalau menurut gue kasus ini saling berkaitan. Karena sebelum gue menyelidiki kasus Mawar. Makhluk itu nggak nyerang gue. Tapi, setelah gue mau menyelidiki kasus Mawar. Dia nyerang gue, kan. Bilang kalau gue jangan ganggu dia. Gimana, masuk akal nggak?"
Kia menatapku dengan ragu. "Nggak tau sih. Soalnya gue belum pernah menyelidiki kasus-kasus kayak gini. Tapi ... gue ingetin lagi, Via. Lo harus hati-hati. Bahkan makhluk gaib pun ikut nyerang lo," himbaunya menatapku tajam.
__ADS_1