DIA PELAKUNYA? EERINESS ....

DIA PELAKUNYA? EERINESS ....
BAB 6


__ADS_3

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Malam telah datang. Dewi malam memancarkan sinarnya yang terang di nabastala tanpa bintang.


Malam ini aku sedang mengerjakan PR dari dosen. Lumayan membuat otakku sedikit mumet. Kau bayangkan saja, masa kami harus membuat sebuah konsep, pola dan saluran komunikasi bisnis menggunakan verbal atau nonverbal. Untuk hanya sekedar berbicara saja harus pakai teknik segala. Dikira kita sedang berhadapan dengan sebuah game mematikan yang jika sampai salah ucap, bisa kena eksekusi.


Beberapa kali aku menguap lebar, rasa kantuk terus menyerangku. Mata mengajakku untuk tidur, tapi otak mengajakku untuk begadang menyelesaikan tugas yang susahnya minta ampun. Yeah, meskipun aku tergolong murid pinter waktu masih SMA--bukan maksudku sombong. Tapi, sungguh saat itu aku ini termasuk jenis murid jenius. Namun sayang semenjak insiden yang sempat membuatku putus asa itu, kemampuan berpikirku sedikit menurun. Bahkan minat belajar pun tidak ada. Makanya nilaiku sedikit anjlok. Untung saja aku masih bisa memperbaikinya.


Oke, kita balik lagi ke topik. Arghhh ... sial, rasanya ingin kubanting saja laptop yang ada di hadapanku ini.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku dari luar. Aku pun langsung bergegas membukanya dengan tangan kanan yang masih memegang bolpoin.


Hening. Tak ada siapa pun. Aku celinguk ke kiri dan kanan. Benar-benar tak ada orang. Siapa sih malam-malam gini usil banget. Hmmm ... aku tahu. Ini pasti kerjaan Kia. Aku pun pergi menuju kamar Kia. Berkali-kali aku mengetuk, namun tak ada jawaban sampai pada ketukan kelima akhirnya Kia membuka pintu. Ia menguap lebar sambil menggosok-gosok matanya, rambutnya berantakan.


"Via, lo ngapain sih ganggu orang tidur aja?" tanyanya sambil menguap.


"Elo udah tidur?" tanyaku balik.


"Iya tadinya. Tapi sekarang jadi bangun gara-gara lo ketok pintu malam-malam gini." Kia menggaruk-garuk kepalanya. "Emang ada apa, sih?"


"Nggak, gue cuma ..." Aku memutar otak untuk mencari alasan. Mana mungkin aku berkata jujur bahwa tadi ada yang mengetuk pintu kamarku dan kupikir Kia yang melakukannaya. Itu hanya akan membuat Kia ketakutan. "Gue cuma mau nanya lo udah ngerjain tugas dari Pak Kumis?" Oke, panggilan dosen-dosen yang mengajar di kampusku memang sedikit aneh. Ada yang namanya Pak Gendut, Pak Kumis, Pak Botak--entah itu nama asli mereka atau bukan. Pastinya dari yang kudengar nama panggilan itu sesuai dengan ciri khas mereka masing-masing.


Kia mendengus bete. "Hmmm ... gue pikir apaan. Kalau tugas itu sih udah gue kerjain dari tempo hari juga. Kenapa emang? Lo mau nyontek?"


Aku menggerak-gerakkan tangan. "Nggak usah. Gue cuma mau ingetin doang kok. Takutnya lo lupa."

__ADS_1


"Gue masih muda kali. Nggak mungkin secepat itu jadi pikun. Lo tuh ganggu gue tau nggak, gue lagi mimpi indah sama si Mas Kekar." Seketika ekspresinya berubah riang.


"Mas Kekar?" Aku mengucap ulang kata terakhirnya dengan bingung.


"Iya, itu loh Mas Radit," jelasnya.


"Sebegitu sukanya lo sama om-om begitu nyampe kebawa mimpi?" ejekku.


"Yeh, terserah gue dong. Lagian umur segitu mah belum bisa dikategorikan sebagai om-om. Orang masih 30-an kok umurnya."


"Emang lo tahu dari mana? Jangan sotoy deh."


"Udah sana ah lo ganggu gue aja." Kia mendorong-dorong pelan tubuhku. Tentu saja hanya candaan.


"Seleranya om-om nih, ye," ejekku lagi sebelum akhirnya pergi menuju kamar kembali dan sesaat melupakan kejadian horor tadi.


Kuputuskan untuk menghampirinya.


Aku berdeham. "Hai," sapaku.


Ia menengok sekilas padaku, wajahnya yang datar dan pucat dengan tatapan mata kosong. Lalu memalingkan kembali wajahnya ke depan.


Aku mengernyit. "Kamu penghuni kosan kamar nomor 1, ya?" tanyaku.

__ADS_1


Perempuan itu menganggukkan kepala dengan pelan.


"Namamu siapa?"


Alih-alih menjawab pertanyaanku. Perempuan itu terbangun dari duduknya, lalu berlari keluar gerbang kosan yang entah sejak kapan terbuka. Biasanya jam segini Tante Sumi sudah mengunci gerbang yang melintangi kos-kosan dan rumahnya.


Perempuan itu berlari ke sebelah kanan, jalan yang belum pernah kulalui selama beberapa hari tinggal di sini. Tanpa sadar kakiku melangkah begitu saja mengejar perempuan itu tanpa memedulikan gelapnya malam karena rembulan telah tertutup awan.


Aku diam mematung saat sampai di sebuah gerbang yang di atasnya terdapat papan besar terpampang bertuliskan ... TEMPAT PEMAKAMAN UMUM.


Deg ...


Jadi di belakang kosanku itu ternyata sebuah tempat pemakaman umum?


Tak jauh dari tempatku berdiri, dari kejauhan aku melihat perempuan itu sedang berlari sambil meloncati satu makam ke makam yang lain.


"Hei, tunggu," teriakku. Entah apa yang telah merasuki otakku, tanpa berpikir aku masuk ke area pemakaman itu dan mengejar kembali perempuan yang tadi.


Sesampainya di tempat terakhir aku melihatnya, sosok perempuan itu justru tidak ada. Kemana dia? Kenapa bisa menghilang secepat itu. Aku celingak-celinguk. Astaga, semuanya yang terlihat hanya ada beberapa kuburan--bahkan sepertinya ratusan. Aku memang sudah tidak waras, untuk apa aku mengejar perempuan itu sampai ke pemakaman umum?


Tiba-tiba suara burung hantu terdengar keras. Ia seperti bertengger di pohon yang dekat dengan tempatku berdiri. Ini pertama kalinya aku mendengar suara seekor burung hantu secara langsung. Karena tempat tinggalku jauh dari pemakaman dan jarang ada pohon-pohon besar yang menjulang.


Sempat terpikir, kalau ada burung hantu berbunyi terus, di situ ada sosok yang tengah bersama sang burung. Entah mitos atau memang benar adanya, akan tetapi tidak ada rasa takut sedikit pun dengan burung itu. Mataku langsung mengarah ke pohon tinggi.

__ADS_1


Terlihat seperti sebuah kaki berayun di atas sana. Aku mengucek mata, memperjelas pandangan apakah benar adanya itu sepasang kaki yang berayun. Saat itu juga mendadak mereka yang tak terlihat, bermunculan dari segala arah.


OMG, sekarang aku harus apa? Tentu saja kabur, dasar Livia bodoh! Aku mundur pelan untuk mengambil ancang-ancang. Lalu langsung berbalik dan mengambil langkah seribu, namun sialnya kakiku tersandung salah satu batu nisan yang entah sejak kapan ada di situ. Dasar nisan keparat. Udah jatuh, tertimpa tangga pula. Begitulah kata pepatah. Udah kesandung, kepalaku juga membentur keras ke tanah. Sesaat kurasakan pusing yang teramat sangat. Sampai akhirnya semua jadi gelap.


__ADS_2