
Aku sangat sedih atas apa yang terjadi pada Kia. Kini bahkan ia sedang mengalami koma. Semoga saja aku bisa menyelamatkan Kia, aku harus segera cari tahu siapa pelaku keparat itu.
Suasana kampus agak aneh hari ini. Aku melirik ke kiri dan ke kanan, semua orang memandangiku dengan tajam. Kenapa rasanya begitu sesak? Mereka juga terlihat saling berbisik. Sial, apalagi ini? Kenapa aku jadi pusat perhatian lagi?
Sampai masuk ke kelas pun, semua mata anak-anak yang satu ruangan dengaku langsung tertuju padaku. Padahal biasanya mereka cuek.
"Gila, ya. Tampangnya doang yang polos, ternyata seorang pembunuh. Apalagi yang dibunuh pacar sendiri. Serem nggak, sih?" Salah satu bisikan mereka terdengar olehku.
"Pantes aja kalau sekarang dia nyelakain teman dekatnya sendiri," timpal yang lain
"Kalau gue jadi dia pasti bakal malu banget, mending ngurung diri di kamar. Lalu bunuh diri, deh."
Astaga, mereka benar-benar keterlaluan. Tak pernahkah mereka berpikir, bahwa kata-kata mereka sangat menyakitkan. Tetapi, dari mana mereka tahu tentang masa laluku? Dan siapa juga yang membuat gosip bahwa aku mencelakai Kia? Hmmm ... aku tahu siapa orangnya. Anak fakultas di sini yang satu kosan denganku kan cuma Nilam. Kenapa sih anak itu selalu cari masalah denganku. Aku harus mencarinya.
***
Aku masuk ke dalam kelas Nilam dengan perasaan penuh amarah. Semua orang yang berada di ruangan itu langsung menghentikan aktivitas mereka saat melihatku. Mendadak suasana hening.
"Eh, anak rese! Ngapain lo masuk ke kelas gue?" tanyanya dengan ketus.
Aku mengepalkan tangan menghampirinya. "Apa benar, elo yang udah nyebar gosip ke seluruh kampus kalau gue penyebab kecelakaan Kia?"
Nilam melipat kedua lengannya di dada. "Kalau iya emang kenapa?"
"Elo kenapa sih jahat banget sama gue?" geramku. "Salah gue apa? Kenapa lo sebarin hal yang nggak pernah gue lakuin?"
Nilam mendekatkan dirinya padaku. Kemudian ia berbisik, "Via, Via ... kemaren elo yang fitnah gue bawa cowok ke kamar. Sekarang lo ngerasain sendiri gimana rasanya difitnah. Nggak enak, kan?"
Hampir saja aku memukulnya, jika akal pikiranku tak menyadari bahwa pandangan mata orang-orang masih tertuju padaku.
Tiba-tiba salah satu senior yang ada di kelas Nilam menghampiriku. "Hei, anak semester satu. Ternyata rumor tentang lo ngebunuh cowok lo sendiri itu benar, ya. Buktinya sekarang lo nggak segan-segan mau nyerang teman kami," katanya sambil mendorongku.
"Iya, apalagi lo abis nyelakain teman di kelas lo sendiri," timpal yang lain.
"Penjahat kayak lo mending di penjara aja!" sahut yang lain.
__ADS_1
Cacian dan makian mereka lontarkan padaku. Kenapa semuanya menyalahkanku? Aku menutup telinga, tak tahan mendengar umpatan dari mulut mereka.
Pada akhirnya aku lari dan pergi keluar dari kampus. Tak peduli jika aku masih ada kelas, tak peduli jika ada yang menanyakanku di mana. Toh, semuanya sudah membenciku. Karena, rumor tentang Leo telah menyebar.
Aku duduk dengan lemas di bawah pohon yang terletak di pinggir jalan. Mengapa aku tak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu.
Saat tengah melamun, ponselku berdering tanda panggilan masuk. Aku melihat layar itu dan terpampang nomor tak dikenal. Aku mendelik, nomor siapa lagi ini? Pikirku.
"Halo," ucapku setelah menekan tombol jawab.
"Ini benar Livia temannya Kia?" tanya suara serak di ujung sana.
"Iya benar. Ini siapa, ya?" tanyaku bingung.
"Ini Ibunya Kia," jelas suara yang terdengar seperti orang menangis sesenggukan. "Kia ... Kia hilang, Nak."
"Apa?" Aku terkejut. "Maksud Ibu apa?"
"Tadi waktu kami sampai ke rumah sakit, tiba-tiba Kia nggak ada. Kami sudah tanya pada perawat dan dokter. Mereka semua nggak ada yang tahu di mana anak kami. Apa kamu tahu di mana Kia?" tanyanya penuh harapan.
"Saya nggak tahu, Bu. Soalnya saya sedang kuliah."
"Baiklah kalau begitu. Nanti kalau tahu informasi keberadaan Kia, tolong beri tahu kami, ya." Setelah berkata begitu, ibunya Kia langsung menutup teleponnya.
Ya ampun, apalagi ini. Masalah satu belum selesai. Muncul lagi masalah baru. Aku mengacak-acak wajahku dengan frustrasi.
Akhirnya aku memutuskan pulang ke kosan. Ke rumah sakit pun percuma, karena Kia tak ada di sana. Sekarang aku juga harus mencari tahu siapa yang sudah menculik Kia.
***
Malam kembali tiba, rasanya suasana kosan ini terlihat lebih mencekam dari biasanya. Terasa hening semenjak kematian Gea, beberapa orang memutuskan untuk pindah dari kosan ini. Bahkan sepertinya kamar yang masih berpenghuni cuma kamarku, Nilam, dan Mas Radit.
Beberapa menit kemudian terdengar suara bising dari arah rumah tante Sumi. Aku menjulurkan kepala untuk melihat ke rumahnya. Sebuah ruang di samping rumah itu terbuka lebar, ruangan yang selama ini selalu tertutup. Sepertinya itu sebuah gudang. Karena rasa penasaran, aku pun berjalan ke arah sana.
Dari ambang pintu, aku dapat melihat bahwa di dalam gudang sedikit berantakan dan berdebu, di setiap sudut ruangannya terdapat sarang laba-laba.
__ADS_1
Apakah tante Sumi sedang membereskan tempat ini, ya? Tetapi, kenapa harus malam-malam begini?
"Permisi ... apa itu Tante Sumi?" Aku memanggil tante Sumi. Namun, tak ada jawaban.
Kulangkahkan kaki masuk ke dalam. "Tante ..." panggilku sekali lagi.
Ketika langkah kaki baru masuk setengah ke dalam, beberapa ekor tikus berlari keluar dari dalam gudang sampai membuatku kaget dan hampir saja menjerit. Dan sialnya aku beneran menjerit saat salah satu ekor tikus meloncat tepat di bahu kananku. Kemudian lenyap di kegelapan malam bersama yang lainnya.
"Tikus sialan," umpatku dengan jantung berdebar. OMG, para tikus itu lebih seram dibandingkan hantu. Sumpah, deh!
Ada satu yang menarik perhatianku. Yaitu, sebuah lemari yang letaknya berada di ujung sudut gudang. Lemari dengan pintu sebelah dipenuhi cermin serta ukiran kayu jati menunjukkan bahwa pemilik rumahnya menyukai seni.
Dan entah mengapa kakiku melangkah begitu saja mendekati lemari itu, lalu tanpa pikir panjang meraih kunci yang menggantung dan memutarnya.
Ceklek ....
Saat baru satu kali memutar kunci, tiba-tiba sudut mataku menangkap sosok perempuan berdiri di pojok gudang dari balik cermin. Namun, aku tak memedulikannya.
Kembali kubuka kunci pintu lemari. Akhirnya, pintu lemari terbuka. Bau debu menerpa indra penciumanku.
Di dalam lemari terdapat beberapa foto yang ditumpuk terbalik, tersusun rapi menjadi dua baris. Tanganku meraih salah satu foto berwarna usang itu.
Sosok anak perempuan berusia sekitar 5 tahun berwajah imut mengenakan kebaya berdiri tersenyum di depan pintu. Sepertinya bukan pintu rumah ini. Lagi, kuambil pigura foto kedua. Kali ini, sosok perempuan berambut panjang model belah tengah digerai, usia sekitar dua puluhan tengah memeluk laki-laki dari belakang. Mereka sepertinya berfoto di sebuah studio. Tunggu ... foto wanita ini sangat mirip dengan tante Sumi. Sepertinya memang benar foto tante Sumi waktu muda. Terus laki-laki ini siapa? Apakah suaminya? Dan anak perempuan tadi bisa saja anaknya. Aku kembali meraih foto anak perempuan tadi, wajahnya seperti tak asing bagiku.
Lalu aku kembali mengambil foto yang ketiga, di belakang foto itu tertulis sebuah kalimat 'aku, Radit, mama'
Ketika melihat foto itu, betapa terkejutnya aku melihat wajah-wajah familiar. Di situ terdapa lt seorang lelaki dan wanita, di belakangnya ada wajah tante Sumi. Sosok laki-laki itu yang tak lain Mas Radit? Dan foto wanita itu adalah sosok hantu yang sudah membunuh Gea dan mencelakai Kia.
Artinya makhluk itu anaknya tante Sumi yang sudah meninggal? Namun, apa hubungannya dengan Mas Radit? Apa kaitannya dengan semua kejadian mengerikan yang kualami?
"LANCANG SEKALI KAU!" Suara keras seseorang mengagetkanku hingga foto yang kupegang terjatuh.
Aku menoleh dan mendapati tante Sumi sedang berdiri di ambang pintu dengan mata merah penuh amarah. Di sampingnya juga berdiri mas Radit.
"Sepertinya kita juga harus membawa dia, dia sudah terlalu ikut campur urusan kita. Di samping itu, sebentar lagi tengah malam. Kita harus segera melaksanakan ritual kita yang terakhir."
__ADS_1
Aku mengerutkan kening mendengar ucapan Mas Radit. Apa maksudnya? Ritual apa?