
Motor melaju dengan kecepatan sedang, berhubung dua makhluk itu tidak mengejar kami.
Aku dan Raefal menikmati perjalanan dalam kebisuan. Hanya suara deru kendaraan dan hembusan angin yang terdengar.
"Gila! tadi itu benar-benar gila! Pertama kalinya gue berhadapan sama penjahat beneran yang kayak di film-film." Raefal membuka obrolan dengan suara sedikit keras, mengalahkan suara motor dan angin.
Aku hanya meresponnya dengan senyum miring. Bukan karena tak ingin mendengarkan ocehannya, tetapi aku sedang menahan rasa sakit di tangan akibat sayatan tadi. Sambil memegangnya dengan tangan yang lain, berharap bisa menahan rasa sakitnya.
"Lo kenapa?" tanya Raefal sambil sesekali menengok ke spion motor yang di arahkan padaku. "Elo terluka?" Ia setengah menegok ke arahku. Lalu menepi dan mematikan motornya.
Setelah itu ia berbalik ke arahku. Dengan posisi seperti itu membuat jarak kami sangat dekat.
"Ya ampun, tangan lo berdarah," katanya dengan mata membulat sembari memegang lenganku yang luka.
Aku mengerang pelan saat luka itu tak sengaja tersentuh olehnya. "Gue nggak pa-pa kok."
Raefal merogoh sesuatu dari dalam ranselnya. Sebuah handuk kecil berwarna biru muda keluar.
"Pake ini." Ia menyodorkannya padaku. "Biar darahnya nggak keluar banyak."
Aku meraih handuk kecil itu tanpa bicara. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kembali.
Sampai akhirnya tiba di depan kosan.
"Makasih, ya," ujarku setelah turun dari motor.
Raefal menyunggingkan senyumannya. "Sama-sama." Namun, senyumannya hilang saat pandangan matanya menatap ke arah belakangku.
"Astaga, Gea!" teriaknya. Raefal langsung turun dari motor, dan berlari ke arah seseorang yang tergeletak di bawah tangga. Aku pun tak kalah terkejutnya saat tahu bahwa sosok perempuan itu benar-benar Gea.
Raefal segera membalikkan tubuh Gea yang tersungkur. Astaga, wajahnya pucat sekali. Lebih pucat dari seorang mayat.
"Gea, bangun! Apa yang terjadi sama lo?" Raefal menepuk pipi Gea beberapa kali yang kini berada di pangkuannya, berharap Gea sadar.
"Hahahaha ..." Tiba-tiba suara seseorang tertawa melengking terdengar sangat memekikkan telinga.
Telingaku terasa sakit sekali. Suara itu terasa menusuk sampai ke jantung.
__ADS_1
"Siapa lo?" teriakku sambil menutup kedua telinga dengan tangan. Berharap mengurangi kebisingan cekikikan jahat itu. Namun, aku salah. Tawa itu justru terdengar semakin nyaring.
"Aaaa ...!" Aku menjerit dan meringis kesakitan.
"Via, lo kenapa?" Kini Raefal mengalihkan perhatiannya padaku. Ia sangat panik dan bingung melihatku yang seperti orang kesetanan. "Via, ada apa?" Ia kembali bertanya, kali ini sambil mengguncangkan tubuhku berkali-kali.
Aku tak dapat mendengar ucapan Raefal setelahnya. Karena tiba-tiba saja semuanya berubah menjadi gelap.
***
Aku mengerjap-ngerjap mata yg perlahan terbuka. Mendapati diri sudah terbaring di kasur.
Kulihat Kia yang sedang duduk memainkan ponselnya sambil bersandar pada tembok. Sementara Raefal duduk di sampingku, dengan sebelah lengan menopang pipi. Matanya terpejam. Ia sedang tidur?
Aku mendesis pelan, karena kepala yang masih terasa sakit. Kia yang mendengar rintihanku langsung berbalik dan menghampiri. Lalu bertanya, "Lo udah sadar?"
Raefal pun ikut terbangun. Dan langsung menegakkan posisi duduknya.
Aku mengangguk pelan. "Gimana keadaan Gea?" tanyaku tiba-tiba teringat pada Gea. Terlintas bayangan tubuhnya yang kaku.
"Elo nggak usah khawatir. Gea udah dibawa ke rumah sakit kok. Dan sekarang dia lagi dirawat," tutur Raefal halus.
"Tapi, kenapa dia bisa tergeletak gitu?" tanyaku penasaran. "Tadi elo udah nyampe duluan ke kosan, kan?" Aku mengalihkan pandang pada Kia.
"Iya, tapi gue dari tadi di dalam kamar terus. Jadi, nggak tau deh apa yang terjadi sama kak Gea ... kayaknya sih penyakitnya nambah parah. Dia lagi sakit, kan?" Kia menatapku dan Raefal secara bergantian.
Raefal hanya menganggukkan kepala. Sedangkan aku ... tak ada kata yang terucap dari bibirku.
"Ngomong-ngomong tadi lo kenapa?" tanya Kia setelah aku meminum segelas air putih yang dikasihnya.
Aku pun menjelaskan semua yang kurasakan tadi. Dan sesakit apa rasanya, sampai Raefal dan Kia tercengang mendengarnya.
Hening. Mereka tak ada komentar apa pun. Mungkin mereka bingung harus bicara apa. Karena kejadian itu berada di luar nalar mereka.
***
Semakin waktu cepat berlalu, aku merasa semakin dekat dengan kematian. Bagaimana bisa, aku harus berurusan dengan algojo dan makhluk gaib secara sekaligus. Apalagi makhluk itu selalu menampakkan dirinya di malam hari. Di kosan ini pula.
__ADS_1
Aku hanya takut kalau tiba-tiba ia menyerang. Kalau di serang algojo sih, masih bisa melawan. Kalau makhluk gaib? Jangan kan untuk melawan, menyentuh pun tidak bisa. Tetapi, kenapa mereka punya kekuatan untuk menyakiti manusia? Nggak adil, kan?
Saat tengah sibuk dengan pikiranku. Tiba-tiba ponselku berdering tanda panggilan masuk. Layar putih putih itu menyala, menampilkan nama Ibu yang terpampang.
"Halo, Sayang," sapanya di seberang sana.
"Halo juga, Bu," jawabku senang.
"Gimana kabar kamu baik-baik aja, kan?" tanyanya. "Nggak tau kenapa, Ibu merasa ada sesuatu yang terjadi sama kamu. Ibu cuma takut ..." Beliau tak melanjutkan ucapannya. Meskilun begitu, aku sudah tahu apa yang ingin dikatakannya.
Ternyata felling seorang Ibu benar-benar kuat. Tahu aja kalau anaknya lagi ada masalah. Namun, aku tak mungkin mengatakan yang sejujurnya. Takut bahwa itu akan mengganggu kesehatan Ibu. Aku pun terpaksa berbohong.
Kami mengobrol cukup lama di balik telepon. Melepas rindu. Padahal baru beberapa minggu aku di sini.
Setelah rasa rindu terobati, Ibu menutup panggilannya.
Hoaammmm ....
Aku meregangkan otot tubuh, dan akan beranjak tidur. Ketika mataku sudah terpejam, ponselku kembali berdering. Kali ini dering tanda pesan masuk.
Aku meraih benda mungil itu, dan membuka pesan yang berisi,
[Gimana keadaan lo? Udah enakan?]. Pesan singkat itu dari Raefal.
[Udah kok], balasku.
[Syukur, deh. Udah malam nih. Tidur sana].
[Tadi juga gue mau tidur. Eh elo sms]. Aku menekan tombol 'kirim'.
Tak ada satu menit, pesan itu kembali dibalas.
[Iya, sori. Ya udah... Good night >,<].
Aku tak membalasnya. Yeah, kalau terus-terusan dibalas kapan aku akan tidur? Akhirnya aku mengakhiri percakapan singkat itu dengan tidak membalasnya. Sebelum kembali berbaring, aku melihat handuk kecil berwarna biru yang tergeletak di meja kecil milikku. Aku pun meraihnya. Ini kan handuk milik Raefal. pikirku dalam hati. Handuk yang tadi kugunakan untuk membalut luka agar darahnya tidak terus-terusan menetes.
Mungkinkah aku harus membuka hati kembali, dan menerima Raefal? Karena kemarin-kemarin cowok genit itu selalu ada untukku. Dan dia benar-benar terlihat tulus mencintaiku. Apakah ini saatnya aku melupakan Leo?
__ADS_1
Entahlah, aku tak mau terlalu memusingkannya.