
"Rei... ayo buka pintunya dong Rei... ada yang mau aku omongin sama kamu", panggil Hadi lembut, aku menggulung rambutku ke atas dan mencuci wajahku dari sisa air mata yang sudah mengering, lalu aku membuka pintu kamarku, tanpa aba-aba Hadi langsung memeluk ku, hampir saja aku terjatuh akibat pelukan Hadi yang sangat tiba-tiba itu,
"maafin aku ya Rei, maafin aku salah sama kamu", aku masih blm sadar sepenuhnya dari keterkejutan ku, di tambah lagi dengan permintaan maaf Hadi padaku,
"minta maaf? Hadi minta maaf untuk apa?" batinku, Hadi melepaskan pelukan nya dan mengajak ku duduk di tepi tempat tidurku. Hadi memegang kedua tangan ku dan berkata
"maafin aku Rei, aku banyak salah sama kamu, banyak omongan aku yang udah bikin kamu nangis kaya gini", aku makin tidak mengerti dengan apa yang di katakan Hadi, dengan berpura-pura tegar, akupun bertanya padanya,
"Mas Hadi kenapa sih Mas, kenapa Mas Hadi minta maaf sama aku, kan mas Hadi ga salah, di sini aku yang salah kenapa tiba-tiba aku nangis kaya gini, harusnya aku yang minta maaf sama mas Hadi, ga seharusnya aku sakit hati denger mas Hadi mau melamar calon istri mas, itu kan haknya mas Hadi, aku juga bukan siapa-siapa nya mas Hadi, harusnya aku malah bantuin mas Hadi buat nyiapin acaranya, bukan malah jadi cemburu kaya gini, harusnya aku..... ", blm selesai aku bicara, Hadi langsung mencium bibirku, mendapat perlakuan seperti itu sontak membuatku kaget dan membuka lebar mataku, dengan segera aku mendorong Hadi agar melepas ciumannya, wajahku langsung memerah,
" mas Hadi apa-apaan sih mas, kenapa mas Hadi cium aku, please jangan mainin perasaan aku lagi Mas, kalo mas Hadi udah punya calon istri jangan pernah perhatian lagi sama aku, nanti aku jadi Baper Mas, nanti aku cemburu, aku mau Mas Hadi jauhin aku aja biar akunya ga baper lagi", air mataku menetes lagi, melihat itu Hadi kembali mencium bibir ku, aku semakin kesal dengan nya,
"Mas....?", kesal ku, tapi di luar dugaan ku Hadi malah tersenyum,
" udah ngomong nya?" tanya Hadi,
"hah?", jawab ku heran,
__ADS_1
"kamu gemesin banget sih kalo lagi bawel gini", ucap Hadi manja sambil mencubit hidungku, aku semakin heran dan kesal,
" Sakit Mas", kataku sambil memegang hidungku yg sudah merah, Hadi tertawa melihatku dan dia menghapus air mataku,
"Rei, aku mau ngenalin seseorang sama kamu?", kata Hadi sambil menarik tanganku bangun dari duduk ku,
"mau ngenalin sama siapa sih mas?, aku ga mau", akupun melepaskan tangan Hadi dari tanganku, tapi Hadi malah memutar badannya dan memelukku dari belakang,
"aku mau kenalin kamu sama calon istriku", kata Hadi sambil mendorong tubuhku kedepan, sontak aku menutup mulut ku tak percaya, aku mencoba melepaskan pelukan nya tetapi tenaga Hadi lebih besar dariku, hingga aku tak dapat melepaskan nya,
"ga mau Mas, aku ga mau kenalan sama calon istri Mas, lepasin Mas...", rengek ku, tetapi Hadi tetap saja mendorong tubuhku ke depan,
"Kenalin Rei, ini calon istri aku, namanya SHAREINA PUTRI, cantik kan? udah lama banget aku mau kenalin dia sama kamu tapi kamu selalu menghindari aku", ucap Hadi dengan nada sedih yang di buat-buat, aku masih terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa,
"Gimana Rei menurut kamu?", tanya Hadi sambil mencium pipiku, akupun terkesiap lalu membalikkan tubuhku dan berhadapan langsung dengan nya,
" Mas... please jelasin sama aku sekarang, apa maksud semua ini?",
__ADS_1
"nanti aku akan jelasin semuanya Rei, tapi... ", Hadi menggantung omongan nya lalu berlutut di depan ku dan mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya,
" Shareina Putri, mau kah kamu menjadi istriku?", aku langsung menutup mulut ku menggunakan tangan, aku sangat tidak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang, Hadi membuka kotak cincin itu dan aku melihat sebuah cincin yang sangat aku kenal, itu cincin yang aku pilihkan dulu, tanpa terasa air mataku menetes lagi, Hadi bangun dari posisi berlutut nya dan mengusap air mataku dengan penuh cinta,
"jangan menangis Sayang, maaf kalo selama ini aku bikin kamu nangis atau sakit hati, aku juga ga bermaksud menutupi semuanya dari kamu, aku takut kamu bakal tolak aku Rei, aku ga sanggup kalo kamu sampe nolak aku, kamu mau kan jadi istri aku? jadi perempuan kedua di dalam hati aku selain ibu aku?", ucap Hadi, aku semakin tak kuasa menahan haru, aku masih tidak percaya, aku hanya bisa menganggukan kepalaku tanpa suara, Hadi yang melihat ku menyetujui lamarannya langsung tersenyum bahagia dan memeluk ku dengan erat, sangat erat sampai membuat ku sesak,
"terima kasih banyak sayang", ucap Hadi,
"mas... aku ga bisa nafas", ucapku terbata, Hadi langsung melepas pelukan nya dan menatap ku,
"maafin aku sayang, aku bahagia banget kamu mau terima lamaran ku", Hadi mengeluarkan cincin itu dari kotaknya dan memasangkannya di jari manisku, aku tersenyum bahagia melihat Hadi memasangkan cincin itu ke jariku, Hadi kembali memelukku,
"mas Hadi kenapa sih jahat banget sama aku, mas Hadi ga tau apa perasaan aku kaya gimana tadi?", Hadi melepaskan pelukan nya dan kembali mengajak ku duduk di tepi tempat tidurku,
" maafin aku Sayang, aku bener-bener ga bermaksud nyakitin hati kamu, kamu inget ga waktu kita kumpul bareng terakhir kali, kamu bilang kamu ga mau pacaran, maunya langsung nikah, kamu kan tau perasaan aku ke kamu gimana, akhirnya aku bilang kalo aku udah punya calon istri, dan calon istri yang aku maksud itu kamu Sayang, tadinya aku mau kasih kejutan buat kamu, tapi setelah aku denger kamu besok mau balik ke Bandung, aku bingung, aku takut kamu di sana nanti di jodohin sama paman dan bibi kamu, makanya aku dadakan kaya gini, tapi Sayang, jujur aku bahagia banget hari ini, sekarang kamu itu calon istri aku Rei", ucap Hadi bahagia sambil memelukku, akupun membalas pelukan nya,
"aku juga bahagia banget Mas, Mas Hadi sekarang calon suami aku", cukup lama kami berpelukan, saling meluapkan perasaan yang lama terpendam.
__ADS_1
Bersambung...