
Hari ini hari terakhir ku masuk kantor, karena besok aku mulai cuti selama 1 minggu, aku ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan ku, untung saja kemarin aku sempat lembur, jadi pekerjaan hari ini bisa cepat aku selesaikan.
Di sisi lain Hadi sudah menyiapkan cincin yang pernah aku pilih sebelum nya dan satu buket bunga mawar yang cantik, malam ini dia akan melamar ku untuk menjadi istrinya.
Akhirnya aku menyelesaikan pekerjaan ku satu jam sebelum jam pulang kantor, aku sangat senang karena aku bisa bersantai sejenak, aku hendak ke pantry ingin membuat minuman sendiri, Tiba-tiba HPku berdering, aku melihat nama Hadi muncul di sana,
"Halo Mas?"
"ya Halo Rei, kamu udah mau pulang blm?"
"setengah jam lagi mas, emang nya kenapa mas?"
"aku mau jemput kamu Rei"
"mas Hadi udah pulang kantor emang nya? tumben pulang nya cepet"
"iya Rei, kebetulan kerjaan hari ini ga banyak, aku otw kantor kamu ya Rei"
"ya udah, mas Hadi hati-hati ya di jalan"
"oke, makasih ya Rei"
Telpon pun terputus, entah mengapa aku sangat tidak bisa menolak setiap kali Hadi bersikap baik padaku, aku terlalu nyaman dengan suasana seperti ini, seolah aku menutup mata dengan kenyataan bahwa Hadi sudah punya calon istri. Aku membiarkan semuanya mengalir begitu saja, dengan persiapan hati jika suatu saat Hadi akan meninggalkan ku untuk menikah.
Waktu bekerja ku sudah habis lima menit yang lalu, banyak teman-teman kantorku yang pulang, aku sengaja menunggu agak sepi supaya tidak antri di lift.
Bip.. Bip.. notifikasi pesan ku berbunyi, aku melihat pesan itu dari Hadi,
__ADS_1
"aku udah sampe parkiran kantor kamu Rei", katanya,
" oke Mas, aku turun sekarang", balas ku. Sepuluh menit kemudian aku sampai parkiran di basement kantor ku, lalu aku melihat Hadi sedang menungguku sambil bersandar di mobilnya,
"Hai Mas, udah lama nunggu nya?", sapaku,
" engga ko, buat kamu sampe kapan pun aku akan tunggu", gombal Hadi, aku hanya memutar bola mataku malas, dan Hadi tertawa melihatku sambil membuka pintu mobil untukku.
Aku melihat ke jok belakang mobil Hadi, di situ terdapat satu buket mawar dan satu bingkisan hadiah, jiwa ke kepoan ku pun meronta-ronta akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya kepada Hadi.
"hmmm... mas Hadi mau kemana? ko nyiapin bunga sama hadiah?" tanyaku, jantungku berdetak lebih kencang karena aku terfikir Hadi akan melamar calon istrinya malam ini, tetapi jauh dalam hatiku aku berdo'a kalo tebakan ku itu salah,
"oh itu.. malam ini aku akan melamar calon istriku Rei, menurut kamu bagus ga bunganya?", Deg.. jantungnya terasa lepas rasanya, dadaku sesak dan mataku mulai panas, tubuhku terasa tanpa tulang mendengar nya, lidahku tercekat, tak bisa berkata apa-apa, tanpa terasa air mataku menetes tanpa kompromi, sudah susah payah aku menahan nya tetapi mereka tetap keluar, Hadi melihat ku dan terkejut, dia langsung menepikan mobilnya,
"Rei... kamu kenapa Rei, ko kamu nangis?", dia memegang wajahku, dia terlihat sangat khawatir melihat ku menangis, Hadi menghapus air mataku dengan tangan nya,
" Rei... kamu kenapa? jawab Rei, jangan bikin aku khawatir?", aku menggelengkan kepalaku tanpa bisa berkata apapun, Hadi memelukku tapi aku menghindar, sontak membuat nya kaget,
" aku mau pulang Mas, sekarang", pintaku,
"iya Rei aku anter kamu pulang, tapi kamu bilang dulu kenapa kamu nangis, aku khawatir Rei",
"mas.. please, anter aku pulang sekarang", agak sedikit keras aku mengulanginya.
" oke.. oke.. aku anter kamu pulang ya", jawabnya sambil mengusap pipiku. Sepanjang perjalanan pulang tidak ada yg berbicara di antara aku dan Hadi, aku memilih memejamkan mataku, setelah itu aku merasa mobil Hadi berhenti, aku membuka mataku, dan benar saja, Hadi memakirkan mobilnya di dalam garasi rumah kontrakan ku, aku langsung turun dan berlari masuk ke dalam rumah, aku melihat Reni, Dina, Devan dan Aldo di ruang tamu,
"Loh Rei, lo kenapa ko nangis gitu?" tanya Dina, tetapi aku tidak menghiraukannya, aku terus saja berlari menaiki tangga menuju kamarku, lalu kututup pintu, Dina hendak mengejarku, tapi Hadi melarang nya,
__ADS_1
"jangan di kejar Din", ucap Hadi,
" loh emang nya kenapa? gue ga bisa liat Reina nangis gitu Di, Reina itu bukan tipe perempuan yang gampang nangis, jangan bilang ini gara-gara lo ya Di?", selidik Dina,
"iya Din, emang gara-gara gue Reina nangis",
" Wah.. gila lo Men, lo apain Rei sampe nangis kaya gitu?", tanya Devan, Hadi duduk di samping Aldo,
"tadi Reina liat dimobil gue ada bunga sama bingkisan ini, dia tanya ini buat siapa, ya gue jawab buat calon istri gue, trus gue juga bilang malam ini gue mau ngelamar calon istri gue itu", Dina dan yang lainnya tercengang mendengar penjelasan dari Hadi,
" Ya ampun Di.... lo ga bisa bohong dikit apa, lo kan sebenernya tau Reina juga cinta sama lo, lo ga bisa bayangin apa gimana perasaan Reina sekarang?", Reni memarahi Hadi,
"parah lo men, lo tau sakitnya Reina di tinggal Rio gimana, sekarang lo sok-sok an ngeprank Reina, akhirnya lo sendiri yang kena kan?" timpal Devan,
"iya gue tau gue salah, gue nyesel bro, gue takut Reina malah nolak gue nanti", jawab Hadi sambil mengusap wajahnya kasar,
"gue coba keatas bentar deh", usul Dina, tapi Hadi melarang nya,
" ga usah Din, tunggu sebentar lagi, biar gue yang keatas buat nemuin dia",
"bener Sayang, biarin Rei tenang dulu, baru nanti Hadi yang ke atas", sahut Aldo.
Sementara itu, dikamar aku masih menangis di atas tempat tidur, dadaku terasa sangat sesak, Laki-laki yang selama ini menjadi obat luka hatiku akan meninggalkan ku untuk menikahi perempuan lain, sudah hampir satu jam aku menangis dan hanya tersisa isakan ku saja ketika ku dengar ada suara ketukan pintu kamarku.
Tok.. Tok.. Tok...
"Rei, buka Rei, ini aku Hadi", aku kaget mendengar suara Hadi, aku melihat jam menunjukan pukul 10 malam,
__ADS_1
" loh Mas Hadi, bukan nya malam ini dia mau melamar calon istrinya, kenapa jam segini dia masih disini? apa acaranya udah selesai? apa jangan-jangan dia batalin acaranya?", batinku.
Bersambung...