
Aku duduk di ruang tunggu toko perhiasan itu dengan rasa kesal dan sedih, aku benar-benar menyesal telah menerima ajakan Hadi untuk menemaninya mencari hadiah, apalagi itu untuk calon istrinya, sekilas aku melihat Hadi membayar cincin yang sudah aku pilihkan. Biarpun rasanya tidak rela kalo cincin itu untuk calon istrinya namun aku tidak bisa berbuat apa-apa, Hadi tersenyum melihat wajahku yang cemberut,
"Rei, apa ada yang kamu suka? kamu pilih aja, anggap itu ucapan Terima kasih aku karena kamu udah pilihin hadiah buat calon istri aku", entah kenapa tiap kali Hadi menyebutkan kata calon istri sukses membuat ku sangat kesal,
"ga usah Mas", jawab ku singkat dengan muka yg di tekuk,
"beneran Rei kamu ga mau?",
"engga", jawabku sambil berjalan keluar dari toko perhiasan itu, Hadi tersenyum melihat kelakuan ku sambil mengikuti langkahku,
"Mas Hadi mau makan apa? ayo aku temenin habis itu pulang", tanyaku tanpa melihat Hadi,
" hmm... kita makan Bakso itu aja yuk Rei, calon istri aku suka banget makan bakso itu", jawab Hadi sambil menunjuk satu Restoran Bakso dalam Mall tersebut, aku tercekat sesaat,
"ish... kenapa makanan kesukaan nya sama kaya gue sih", batin ku, ingin rasanya aku cepat-cepat pulang dari sini,
" ayo Rei, ko malah bengong", ucap Hadi sambil menarik tangan ku, dan akhirnya aku dan Hadi masuk ke restoran Bakso itu, setelah memesan aku memilih duduk di sudut restoran kebetulan itu adalah tempat favorit ku jika aku berkunjung. Setelah beberapa menit Hadi membawa nampan berisi dua mangkok Bakso dan dua gelas jus jeruk lalu meletakkan satu di depan ku,
"di makan Rei",
"iya mas, Terima kasih", jawabku singkat. Hadi melihat tingkah ku hanya tersenyum, di saat aku dan Hadi sedang menikmati makanannya, Hadi pun berkata padaku,
__ADS_1
"Rei, kamu tau ga calon istri aku itu...", blm sempat Hadi bicara langsung aku potong,
"aku ga tau", jawabku tanpa melihat nya, Lagi-lagi Hadi tersenyum, dia tambah senang dan bersemangat menggoda ku,
"Rei, kamu kenapa, ko tiap kali aku sebut Calon istriku kamu kaya ga suka gitu, kamu lagi ga Cemburu kan Rei?", tanya Hadi, aku langsung tersedak mendengar pertanyaan itu,
" uhuk..uhuk..", lalu Hadi langsung mengambilkan aku minum,
" pelan-pelan Rei makan nya, nih minum dulu", aku melihat wajah nya yang sedang tersenyum, namun tidak dengan ku, aku sangat kesal melihat nya selalu tersenyum padahal sebenarnya dia tau kalo aku sedang cemburu di saat dia menyebutkan kata calon istriku, tetapi dia pura-pura tidak menyadari nya.
"ish.. siapa yang cemburu, ga usah halu ya Mas, mana ada aku cemburu?", jawabku berbohong,
" tapi ko aku yakin ya Rei kalo kamu lagi cemburu", kata Hadi sambil tersenyum devil kepadaku, aku merasa terpojok lalu aku berdiri,
"aku juga udah mau pulang Rei, jadi aku yang anter kamu pulang ya", aku tak menjawab, aku berusaha melepaskan genggaman tangan Hadi namun Hadi malah tambah mengeratkan genggaman tangan nya tanpa melihatku, akhirnya aku pasrah dan diam saja ketika Hadi menggenggam tangan ku, sampai di parkiran Mall Hadi membukakan pintu mobilnya untuk ku, karena aku masih merasa kesal maka aku diam saja dan langsung masuk ke dalam mobil.
Selama perjalanan pulang aku tidak berbicara sama sekali pada Hadi, aku memilih memalingkan wajahku melihat kelap kalip lampu jalanan. Hadi pun diam saja karena dia tidak mau membuatku tambah marah, dia takut hubungannya denganku malah tambah jauh. Selang beberapa menit aku sampai di rumah kontrakan ku, Hadi membukakan pintu mobilnya untukku dan akupun turun, kami jalan beriringan menuju pintu rumah,
" Makasih ya Rei, udah mau temenin aku hari ini", kata Hadi,
"iya Mas, Terima kasih juga tadi makan nya", jawabku.
__ADS_1
" ya udah, aku pulang dulu ya Rei, kamu kan capek, istirahat ya",
"iya Mas", jawabku singkat, di saat aku hendak membuka pintu Hadi memanggilku,
" Rei, tunggu", akupun menoleh kebelakang, tanpa aba-aba Hadi langsung mencium keningku, aku sangat terkejut saat itu, dengan tiba-tiba dan tanpa persiapan apa-apa Hadi menciumku, aku masih dalam keadaan syok, lalu Hadi berkata
"goodnight Rei, mimpi indah ya", tanpa menunggu jawabanku Hadi langsung naik ke mobilnya dan pergi meninggalkan ku yang masih setia berdiri di depan pintu.
" Hei... ", suara Dina mengagetkan ku,
" ngapain sih lo Rei, bukan nya masuk, tar kesambet lo malem2 bengong di sini",
"Hah.... i-iya, gue ga bengong kali, cuma ngelamun",
"itu sama aja Dodol", jawab Dina sambil tertawa.
Di dalam mobil Hadi tersenyum bahagia karena dia berhasil membuat ku cemburu, itu menandakan bahwa dia tidak bertepuk sebelah tangan,
" tunggu sebentar lagi Rei, aku akan membuat kamu bahagia", batin nya.
Di dalam kamar aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, aku terus saja memegang keningku yang di cium Hadi tadi, aku merasa bingung dengan apa yg di lakukannya, dia sudah mempunyai calon istri, tetapi kenapa dia masih mendekatiku dan seolah-olah memberikan harapan buat ku, jelas-jelas dia sudah mempersiapkan cincin untuk calon istrinya, tetapi dia memperlakukan aku dengan sangat manis dan romantis, akh... aku tidak bisa tidur memikirkan nya, lalu aku menuju meja rias ku dan berkata
__ADS_1
" Oke Rei, jangan baper, dia udah nyerah sama lo, selama ini dia udah ngejar-ngejar lo tapi lo nya yang ga mau, inget, sekarang dia udah punya calon istri dan lo udah ga punya harapan lagi sama dia, jangan baper sekali lagi jangan baper Rei, mungkin dia nganggap lo adik nya makanya dia kaya gitu", aku menyemangati diri sendiri, lalu akupun kembali ke tempat tidurku dan akhirnya aku tertidur.
Bersambung....