
Setelah Hadi menjelaskan keadaan nya kepada Paman, terlihat raut wajah Paman yang terlihat prihatin dan mengerti, lalu Paman ku melanjutkan omongan nya,
" Sudah berapa lama Nak Hadi kenal Reina? ", selidik Pamanku, sebenarnya Paman sudah tau kisahku dengan Hadi karena aku sudah menceritakan semuanya, Paman hanya ingin mendengar langsung dari Hadi,
" Saya kenal Reina sudah hampir dua tahun Paman, memang awal saya kenal Reina hanya sekedar sahabat saja, karena waktu itu Reina sudah punya pacar, kami semua dekat, jadi kurang lebih saya tau sifat, karakter dan perjalanan hidup Reina, karena dari semua itu yang akhirnya membuat saya yakin untuk memilih Reina sebagai pendamping hidup saya Paman ", jelas Hadi
" Paman sebagai wali dari Reina, cuma bisa mendukung apapun yang Reina pilih dan Reina inginkan selama itu Baik dan bisa membuatnya bahagia Nak Hadi, jadi di sini Paman akan menyerahkan semua keputusan lamaran Nak Hadi di terima atau tidak itu tergantung Reina sendiri ", jawab Paman ku yang otomatis membuat jantungku berdetak lebih cepat, antara bahagia dan kaget menjadi satu, bukan aku meragukan Mas Hadi, dan bukan karena aku tidak mencintainya melainkan karena aku masih belum percaya ini nyata atau tidak.
" Jadi gimana Rei, apa kamu menerima lamaran Nak Hadi ", tanya Bibi mengagetkan ku. Aku pun terhentak dari lamunan ku, dan aku melihat wajah teman-temanku dan juga Mas Hadi yang tersenyum kaku menunggu jawabanku,
" Hmmmm.... Reina terima lamaran Mas Hadi Paman, Bibi, asal Paman dan Bibi juga setuju, Reina ga mau egois demi kebahagiaan Reina sendiri, Reina sesuka hati nentuin yang Reina mau tanpa mikirin perasaan Paman dan Bibi, karena Paman dan Bibi satu-satunya orang tua buat Reina setelah ayah dan ibu meninggal ", jawabku sendu, dadaku terasa sesak mengatakan itu semua, teringat akan kedua orang tuaku yang sudah tiada. Hadi yang melihat ku bersedih langsung memelukku, sedangkan Paman dan Bibi ku saling bertukar pandang dan saling mengangguk,
" Reina... Paman dan Bibi akan mendukung semua keputusan yang kamu ambil selama itu bisa membuat kamu bahagia Rei, kamu jangan berfikir yang tidak-tidak.. kebahagian Paman dan Bibi itu hanya ingin melihat kamu bahagia Nak ", jawab Paman ku, setelah aku mendengar Paman bicara seperti itu, aku langsung bangun dari duduk ku dan menghampiri mereka, aku bersimpuh di hadapan Paman dan Bibiku lalu memeluk mereka sambil menangis harus sekaligus bahagia, Paman dan Bibi ku membalas pelukan ku, dan mereka pun ikut menagis,
" Terima kasih banyak Paman, Bibi, udah mau terima keputusan Reina, Reina ga tau kalo ga ada Paman sama Bibi Reina itu jadi gimana ", ucapku sambil terisak, Paman dan Bibiku mengusap punggungku bersamaan,
" Ada atau tidak nya Paman dan Bibi, kamu tetap akan menjadi Reina yang seperti sekarang Rei, karena kamu anak yang baik ", jawab Pamanku, Hadi dan teman-temanku pun ikut terharu, Dina dan Reni ikut menangis dalam pelukan Devan dan Aldo, Hadi menghampiri ku, aku melepas pelukan ku pada Paman dan Bibi dan mengusap air mataku, Hadi pun memeluk Paman dan Bibi bergantian, dia juga mengucapkan terima kasih karena Paman dan Bibi ku menerimanya sebagai menantu, suasana rumah Paman ku terasa begitu sendu, setelah beberapa lama kami terhanyut dalam suasana haru, Paman melepas pelukan kami,
__ADS_1
" Sudah-sudah, hari ini hari bahagia, jangan sedih-sedih terus, Hadi sama Reina ayo duduk lagi di kursi kalian ", kata Pamanku mencairkan suasana,
" Owh iya Men, nih, hampir aja lupa ", sahut Devan sambil memberikan satu kotak kepada Hadi, Hadi pun mengambil kotak itu dan membuka nya di hadapanku,
" Syareina Putri, sekarang kamu resmi jadi calon istri aku, aku janji akan selalu membuat kamu bahagia selama hidup aku ", ucap Hadi sambil memakaikan gelang yang sangat cantik, dan aku mengangguk tanda setuju, sekilas aku melihat design nya hampir sama dengan kalung pemberian Hadi waktu itu, aku berfikir sejenak apa Hadi sudah mempersiapkan semuanya tanpa aku ketahui dan itu membuatku senang, karena ternyata Hadi benar-benar mempersiapkan nya untuk ku.
Sekarang suasana di rumah Paman ku sudah kembali seperti semula, semua orang terlihat bahagia,
" Jadi Nak Hadi, Reina, kapan rencana kalian akan menikah, jujur saja Paman ingin kalian menikah secepatnya, jangan berpacaran terlalu lama karena itu tidak baik ", ucap Paman,
" Ya ga bisa buru-buru gitu juga Mas, mana ada loh ngurus surat nikah secepat itu, rencana aku kan besok lusa aku udah balik ke Jakarta ", sahut ku merasa permintaan Hadi terlalu aneh,
" Sebenarnya bisa saja Rei, kalian menikah dulu, sambil mengurus surat-surat nya, yang penting kalian resmi dulu menjadi suami istri, kalo kalian mau, lusa kalian bisa menikah dulu", Hadi yang mendengar itu langsung menyunggingkan senyum nya,
" Hadi setuju Paman, nanti Hadi sama Reina siapin berkas-berkas yang di perlukan, jadi kita balik ke Jakarta setelah peresmian pernikahan kita Sayang ", jawab Hadi antusias.
Akhirnya kami sudah sepakat Lusa aku dan Hadi akan menikah, dan balik ke Jakarta setelah nya, hari sudah semakin malam, Bibi ku sudah menyiapkan makan malam, dan setelah makan malam, Paman menyuruhku mengantar Hadi dan teman-temanku untuk tidur di rumah ku, karena di rumah Paman hanya memiliki 2 kamar tidur, satu untuk mereka dan satu lagi yang aku pakai tidur, sedangkan di rumah ku ada 4 kamar, sesampainya aku di dalam rumahku aku langsung mempersilahkan teman-temanku untuk beristirahat,
__ADS_1
" Guys... kalian pilih aja mau tidur di kamar mana ya, kamarnya bersih2 ko, kemarin gue sama Bibi udah bersihin, kebetulan banget kan pas kalian dateng ", kataku sambil menunjukkan kamar yang ada di rumah ku,
" Din, kita tidur bareng aja ya ", ucap Reni, dan di jawab dengan acungan jempol oleh Dina,
" Kita juga sekamar aja Do ", timpal Devan, dan di jawab anggukan kepala oleh Aldo,
" Lo kenapa jadi ikut2an sih Van, masa iya lo takut tidur sendiri ", ledek ku,
" Bukan nya gue takut Rei, ga enak aja kalo dateng rame-rame tidurnya sendirian, kali aja lo sama Hadi mau tidur sekamar kan biar ga ada yang ganggu ", jawab Devan asal, sambil menyusul Aldo masuk kamar,
" Yang ada malah di gangguin setan Men kalo gue tidur berdua sama Rei ", jawab Hadi ga kalah asal dari Devan, Devan dan teman2 lain hanya tertawa mendengarnya,
"By Rei.. Di.. kita duluan ya, udah ngantuk nih ", Timpal Dina, aku dan Hadi pun menjawab serentak, " Oke ",
Aku mengantar Hadi ke kamarku yang dulu lalu mengambilkan bantal dari dalam lemari, Tiba-tiba saja Hadi memelukku dari belakang dan mengagetkan ku.
Bersambung....
__ADS_1