Dia Yang Mancintaiku

Dia Yang Mancintaiku
Perjodohan


__ADS_3

Aku menghampiri Bibiku yang sedang menyiapkan makanan,


"Ada yang Reina bisa bantu ga Bi? ",


"Ga usah sayang, kamu kan cape baru sampai, kamu duduk dulu ya, sebentar lagi kita makan",


Aku narik kursi meja makan, di sana sudah ada pamanku,


"Gimana kerjaan kamu Rei, lancar?", tanya Pamanku",


" Lancar Paman ",


" Lalu mengenai masalah yang Paman sama Bibi mu tanyakan bagaimana menurut mu? "


" Hmmm... maafin Reina ya Paman, Reina ga bisa nerima perjodohan ini", jawabku sambil menunduk,


" Boleh Paman tau alasan nya? ",


" Reina udah punya pacar Paman, dan dia juga udah minta Reina buat jadi istrinya, Sekarang Reina lagi nunggu dia dateng ke sini buat ketemu Paman sama Bibi",


" Sudah berapa lama kamu berpacaran dengannya setelah putus sama Rio? "


" Reina kenal dia udah hampir 2 tahun Paman, karena dia sebenarnya teman Rio juga, tapi dia minta Reina buat jadi istri nya baru kemarin, trus Reina terima, karena setelah putus dari Rio, dia yang selalu nemenin Reina Paman, dia yang sembuhin sakit hati Reina", Paman terlihat menganguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasanku,


" Baiklah Nak, Paman akan selalu dukung keputusan kamu, selama itu membuat kamu bahagia, dan Paman tidak akan memaksa kamu, karena memang Paman blm membicarakan masalah perjodohan ini dengan Pak Kades, Paman mau menanyakannya dulu padamu, jadi tidak akan ada masalah",


" Beneran Paman, Paman setuju Reina nikah dengan laki-laki pilihan Reina",


" Iya Sayang, selama dia laki-laki yang baik buat kamu Paman dan Bibi menyetujui nya",


Aku sangat bahagia Paman dan Bibi ku setuju dengan hubungan ku dan Hadi, aku langsung berdiri dan memeluk Paman ku,


" Terima kasih banyak ya Paman, Reina bahagia banget dengernya",


" Udah-udah pelukan nya, sekarang kita makan dulu", potong Bibiku,

__ADS_1


aku melepas pelukan ku lalu berbalik memeluk Bibiku,


" Ada yang cemburu nih kaya nya", ledek ku


" Udah lama banget Bibi ga meluk kamu Rei", Bibi membalas pelukan ku,


" Ayo, kita makan dulu ", ucap Bibi sambil melepas pelukan ku, aku menarik kursi untuk Bibi, lalu kami makan bersama,


Setelah selesai makan, dan membereskan dapur aku masuk ke kamar ku di rumah Bibi, biarpun rumah ku ada di sebelah, tetapi aku lebih nyaman tidur di rumah Bibiku, kalau di rumah, aku merasa kesepian dan selalu teringat kedua orang tuaku. Jam sudah menujukkan pukul 8 malam saat ponsel ku berdering, ku lihat nama Dina yang menghubungi ku lewat video call,


" Halo Din ",


" Halo Rei, lo udah mau tidur blm? " tanya Dina,


" Belum Din, sory ya gue tadi ga ngabarin kalo gue udah sampe ", sesal ku sambil tersenyum,


" Emang ya lo Rei, lupaan kalo ada yang lagi khawatir nunggu kabar dari lo, untung Hadi ngabarin kita di grup kalo lo udah sampe ", protes Dina,


" uwwuu... sweet banget sih calon suami gue, jadi tambah cinta deh", celoteh ku, tanpa aku sadari sebenernya di situ ada teman-teman yang lain termasuk Hadi, dan Dia terlihat tersenyum malu mendengar ku bicara seperti itu,


" he.. he.. he... " jawabku sambil tertawa.


" oh iya Rei, gimana tuh anak nya pak Kades, ganteng ga? ", tanya Dina yang langsung mendapat tatapan tajam dari Aldo,


" Apaan sih Din, ketemu juga engga, Paman emang mau jodohin gw, tapi belum di omongin juga sama Pak Kades, Paman mau tanya dulu sama gue, mau apa engga, baru habis itu di sampein ke sana ", jelas ku


" trus lo jawab apa Rei? ", selidik Dina, Teman-teman termasuk Hadi langsung mendekat kan telinga mereka meskipun sudah di loudspeaker,


" gue jawab mau lah... ",


" Apa Rei?? ", Hadi langsung merebut ponsel Dina dan dengan tatapan yang terkejut bertanya padaku, aku yang melihat wajah Hadipun jadi ikut terkejut,


" L-loh.. Mas Hadi ngapain di situ? " tanyaku,


" Maksud kamu tadi apa Rei? kamu terima perjodohan itu? ", belum sempat aku menjawab, Dina langsung merebut kembali ponsel nya,

__ADS_1


" Lo ngapain sih Rei, ngomong kaya gitu, tuh laki lo jadi semaput gara-gara omongan lo ",


" Mas Hadi sejak kapan loh ada di situ? ", tanyaku penasaran,


" Bukan cuma Hadi Rei yang ada di sini, ada kita semua, dan kita denger apa yang lo omongin dari tadi ", Sahut Reni mengarahkan ponsel Dina ke arahnya. .


" What.. ? " sahut ku tidak percaya,


" Jawab pertanyaan aku Rei, kamu terima perjodohan itu? ", sambar Hadi dengan nada yang sedih,


" ya engga lah Mas, aku cuma bercanda tadi, Paman sama sekali belum membicarakan perjodohan ini sama Pak Kades, jadi Aman, ga akan terjadi sesuatu apapun kedepan nya", jelas ku membuat Hadi menghela nafasnya lega,


" Syukurlah Rei, aku lega banget denger nya ", kata Hadi,


" Di, balikin dong ponsel gue, lo kalo mau ngobrol sama Reina pake ponsel sendiri sih? ", Protes Dina,


" Oh iya Din, gue lupa kalo ini ponsel lo, ya udah Sayang, nanti aku hub kamu lagi ya", ucap Hadi,


" iya Mas.. ", jawabku


" Rei, udah dulu ya, lo pasti capek kan mau istirahat, besok-besok kita sambung lagi", kata Dina,


" oke deh Din, gue juga udah ngantuk nih, salam buat yang lain ya, bye Dina ",


" Bye Rei ", Dina pun mematikan sambungan telpon nya, tanpa sadar akupun akhirnya tertidur dengan posisi masih memegang ponsel di tangan ku,


Ke esokan harinya aku bangun pagi-pagi karena aku ingin ziarah ke makam ayah dan ibuku bersama Paman dan Bibi ku, letak pemakaman kedua orang tau ku tidak jauh dari rumah, hanya dengan berjalan kaki sekitar 10 menit kami sudah sampai.


Setibanya di area pemakaman aku membeli dua buket bunga, lalu aku menuju letak makam kedua orang tuaku, terlihat makam kedua orang tua ku sangat rapi, Paman sering membersihkan rumput liar yang tumbuh di sana, orang tuaku meninggal karena kecelakaan ketika berboncengan naik motor, ada seorang supir Bis yang ugal-ugalan dan menyebabkan mereka tertabrak dari belakang dan meninggal di tempat, mereka dimakamkan berdampingan.


Aku tak kuasa menahan air mataku melihat batu nisan bertuliskan nama Ayah dan ibu ku, aku sangat rindu dengan mereka, terasa baru kemarin Ayahku bilang akan mengajak ku jalan-jalan kepantai, karena aku sangat menyukainya, tapi belum sempat terwujud, mereka sudah di panggil Tuhan, Bibi merangkul pundak ku agar aku tetap tegar,


Setelah memanjatkan do'a, aku meletakkan kedua buket bunga untuk makam ayah dan ibuku, lalu Paman dan Bibiku mengajak ku Pulang karena sudah cukup lama kami di sana.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2