
Aku sangat terkejut dengan apa yang aku lihat, aku masih mematung di posisiku, lalu Hadi berjalan ke arah ku sambil tersenyum dengan membawa satu buket bunga mawar kesukaan ku,
"Apa kabar Sayang, Mas kangen banget sama kamu", ucap Hadi sambil memelukku, aku sendiri belum membalas pelukan nya karena keterkejutanku, sadar belum mendapat balasan dari ku, Hadi lalu melepas kan pelukannya,
" Sayang, ko bengong gitu sih ", ucap Hadi sambil mengusap pipiku,
" Ini beneran Mas Hadi? ", tanyaku bingung,
" Iya Sayang, ini aku, nih coba kamu pegang aku.. ", jawab Hadi sambil memegang tanganku untuk menyentuh pipinya,
Aku pun menyentuh pipi Hadi, dan benar saja, itu benar-benar dia, tanpa terasa air mataku menetes di pipiku, aku langsung memeluk erat Hadi,
" Mas Hadi kemana aja sih Mas, ko ga bisa aku hubungin, pesan aku ga di balas, telp aku ga pernah di angkat, Mas Hadi marah ya sama aku, kalo aku ada salah, Mas Hadi bilang dong sama aku Mas,, jangan diem aja.. ", Cecar ku sambil terisak di pelukan Hadi,
" Mas ga marah sama kamu Sayang, kamu juga ga ada salah sama Mas ko, Mas lakuin itu semua buat bikin kejutan sama kamu ", jelas Hadi,
" Ekhemm... kayanya ada yang lupa nih sama kita-kita, apa kita balik aja ya guys, daripada di sini kita cuma liatin yang lagi kangen-kangenan ", Reni menyela, aku dan Hadi pun melepas pelukan kami dan melihat ke arah teman-temanku, karena jujur saja aku memang tidak menyadari kalo mereka juga ada di sini,
" Ya ampun Reni, Dina, kalian kesini juga? ", tanyaku sambil mengusap air mataku dan berjalan ke arah mereka dan memeluk mereka bergantian,
" Aldo... Devan... ko ga bilang-bilang sih kalo kalian mau kesini ", tanyaku sambil memeluk mereka sekilas,
__ADS_1
" kalo kita bilang dulu ga jadi bikin kejutan dong Rei namanya, gimana sih lo ", jawab Devan, aku mempersilahkan mereka untuk duduk kembali lalu aku menghampiri Hadi dan menarik tangan nya untuk ikut duduk bersama mereka,
" Jadi selama ini lo semua sebenarnya tau Mas Hadi gimana? " selidik ku,
" Bukan cuma tau Rei, tiap hari kita juga ketemu ko, Hadi sering mampir di rumah, Aldo sama Devan malah hampir tiap hari berangkat kerja bareng sama Hadi ", jawab Dina,
" Jahat banget deh kalian, ga tau apa gue disini gimana, lo juga Din, terakhir gue hubungin lo, lo jawab nya ga tau-ga tau aja, bikin gue tambah parno ", kataku sambil Mencebikkan bibirku, Hadi yang melihatku merajuk langsung mengusap ujung kepalaku,
" Mas yang minta tolong sama mereka sayang, buat ga kasih tau keadaan Mas di sana, Dina sama Reni juga udah kasih tau Mas kalo kamu kepikiran Mas terus, makanya Mas buru-buru aja rencanain buat ajak mereka ke sini ", jelas Hadi,
" Iya Rei, tadi nya kita juga ga mau, tapi Hadi maksa benget, katanya mo bikin surprise buat lo, tapi Hadi kepikiran takut kalo kelamaan nyuekin lo trus lo galau, ntar yang ada lo terima di jodohin sama anak nya Pak Kades, makanya kita ikutin aja mau nya Hadi buru-buru kesini ", sambung Aldo, aku langsung mencubit pinggang Hadi, entah apa yang ada di pikiran nya itu sampai memiliki ide seperti itu, jelas-jelas dia tau perasaan ku bagaimana terhadapnya. Hadi hanya meringis sambil tertawa menerima perlakuanku itu.
" Bibi ko ga bilang sama Rei kalo mereka yang dateng tadi ", tanyaku pada Bibi,
" Tadi Bibi di kenalin kalo Hadi ini pacar kamu Rei, dan Bibi juga diminta jangan bilang-bilang dulu sama kamu, biar kamu lihat sendiri siapa yang dateng ", jawab Bibi
" Ish... kan harus nya Reina yang ngenalin Bibi sama Mas Hadi Bi, jadi ga seru deh kalo Bibi udah kenal duluan ", ucapku sambil merajuk,
" Ga apa2 Rei, mau dari kamu atau dari temen-temen kamu yang ngenalin Bibi sama Nak Hadi, sama aja ", jawab Bibi sambil tersenyum,
" Oh iya Bi, Paman blm pulang ya Bi? ", tanyaku,
__ADS_1
" Paling sebentar lagi sampe Rei... ", belum selesai Bibi ku berbicara, terdengar suara motor Paman ku masuk ke dalam garasi,
" Tuh kan panjang umur, baru di omongin, udah sampe Paman kamu Rei ", ucap Bibi ku, setelah memberi salam Pamanku pun masuk ke dalam rumah,
" Wah, ada siapa nih rame-rame ", tanya pamanku sambil tersenyum melihat ada teman-temanku di rumahnya, teman-temanku langsung berdiri dan menyalami Paman ku, setelah saling bertukar kabar, Pamanku terlihat heran dan menatap Hadi, lalu aku mengenal kan Hadi padanya,
" Paman, kenalin, ini Mas Hadi, yang pernah Rei ceritain ke Paman ", Paman terlihat senang dan Hadi pun menghampiri Paman ku dan memperkenalkan diri nya,
" Hadi Paman, calon suami Reina ", ucap Hadi, aku langsung tersentak mendengar Hadi memperkenalkan dirinya seperti itu tanpa berbicara dulu denganku, Paman pun membalas uluran tangan Hadi dan mempersilahkan Hadi duduk kembali, lalu Paman ijin untuk mandi dan berganti pakaian. Selang beberapa menit Paman kembali ke ruang tamu dan ikut bergabung bersama kami.
" Jadi kalian kesini mau liburan saja atau ada kerjaan trus mampir ke sini menjenguk Reina? ", tanya Paman ku di sela-sela obrolan kami,
" kita di sini mau liburan Paman sekalian nganterin Hadi, katanya kangen sama Reina ", jawab Devan asal. Aku dan Hadi langsung menoleh ke arah Devan dan di balas senyuman oleh Devan,
" ekhem... Sebenarnya saya ajak temen-temen kesini itu buat kasih kejutan ke Reina Paman, dan karena saya ingin melamar Reina sama Paman dengan di saksikan oleh teman-terdekat saya dan Reina ", jawab Hadi terus terang dan membuatku sekali lagi terkejut, berbeda dengan Pamanku yang berubah raut wajahnya menjadi serius,
" Apa Nak Hadi yakin dengan keputusan Nak Hadi, karena pasti Nak Hadi sudah tau kisah hidup Reina seperti apa dan Paman ingin Reina bahagia dan tidak ingin Reina menderita ataupun sedih, dan satu lagi yang ingin Paman tanyakan kepada Nak Hadi, kenapa Nak Hadi melamar Reina tanpa di dampingi keluarga Nak Hadi, dan hanya di temani teman-teman? ", Tanya Pamanku,
" Mohon maaf Paman kalo sekiranya saya lancang, tapi kebetulan kedua orang tua saya anak tunggal, dan sejak saya SMA kedua orang tua saya sudah meninggal sama seperti Reina Paman, saya di asuh oleh kakek dan nenek dari pihak ibu yang di Kalimantan, karena kakek dan nenek saya dari pihak Ayah sudah terlebih dulu meninggal, dan sudah hampir 3 dan 2 tahun yang lalu kakek dan nenek yang mengurus saya pun di panggil Tuhan yang Maha Esa Paman, jadi saya benar-benar minta maaf jika saya kurang sopan, karena sekarang hanya teman-teman ini yang paling dekat dengan saya, makanya saya mengajak mereka Paman ", Jelas Hadi, Paman pun terdiam dan mengerti apa yang sudah di jelaskan oleh Hadi.
Bersambung....
__ADS_1