
Sesampainya di rumah Hadi, Devan dan Aldo langsung tidur, beda halnya dengan Hadi yang masih memikirkan omongan Devan mengenai Rio, ada rasa khawatir di hati nya, bagaimana jika aku tau keberadaan Rio dan mengetahui bahwa Rio masih mencintaiku.
Pagi menjelang, akupun terbangun setelah mendengar alarm ponsel ku berbunyi, langsung saja ku melihat ke arah jari tanganku, memastikan kejadian semalam mimpi ataukah kenyataan, aku tersenyum sangat bahagia karena di jari manisku terdapat cincin pemberian Hadi, ternyata semua ini nyata, disaat aku sedang membayang kan kejadian malam tadi, Reni dan Dina mengetuk pintu kamar ku,
Tok.. Tok.. Tok..
"Rei, lo udah bangun belum?", akupun tersadar dari lamunanku, lalu aku berjalan ke arah pintu kamarku, krek..
"udah dong, lo berdua tumben.... ", blm selesai aku berbicara Reni dan Dina langsung menerobos masuk ke kamar ku dan duduk di atas karpet sambil menatapku ingin meminta penjelasan,
"lo berdua kenapa sih? aneh banget, bukan nya siap2 buat ke kantor, malah nenangga di kamar orang pagi-pagi, gue mau beres2 nih, jam 10 gue berangkat ke stasiun", tanya ku,
"lo kalo mau beres-beres, ya beres-beres aja Rei, yang kerja kan tangan lo, jadi sekarang pake mulut lo buat ceritain kejadian semalem sama kita", jawab Reni,
"ayo, lo siapin apa yang mau dibawa, biar gue bantuin beresin, sambil cerita ya", sahut Dina dengan ekspresi puppy eyes nya,
" ish.. lo berdua apaan sih, tanpa gue cerita juga lo berdua uda tau kan, malah lo berdua juga yang paling tau dari pada gue, jangan belaga gila deh", sahut ku sambil mengambil beberapa baju yang akan aku bawa,
"tapi kan beda Rei, kita pengen tau detail nya tuh kek apa", ucap Reni, aku duduk di depan Reni dan Dina sambil memasukkan baju-baju dan peralatan mandi ku ke dalam koper,
"ga ada yang gimana-gimana guys, ya biasa aja, apa yang kalian tau itu yang terjadi, intinya sekarang gue sama Hadi udah mau nikah karena gue ga mau pacaran", jelas ku,
"trus Rei, kapan rencana kalian mau nikah?", tanya Dina,
"jujur gue sebenarnya masih belum yakin sama semua ini guys, semuanya terlalu mendadak buat gue, gue bahagia banget sekarang, cuma masih ada yang ganjel di hati gue, dan gue ga tau itu apa",
"loh, bukan nya selama ini lo juga cinta sama Hadi Rei, trus sekarang kenapa lo jadi ragu, malah Hadi itu udah suka sama lo jauh di saat lo masih sama Rio, dia udah nunggu lama banget kan Rei, dia juga sabar banget nungguin lo, dia juga ga egois kan buat dapetin lo, dia nunggu waktu sampe lo bener-bener sendiri, ga asal rebut lo gitu aja dari Rio", sahut Reni,
"iya sih Ren, gue juga kepikiran kayak gitu",
__ADS_1
"udah Rei, sekarang lo ga udah fikirin yang engga-engga, lo fokus aja sama hubungan lo sama Hadi sekarang, gue yakin Hadi bisa bahagiain lo Rei, kita berdua pengen banget liat lo bahagia kayak sekarang", timpal Dina sambil memegang tangan ku, aku sangat terharu mendengar nya, apalagi itu dari dua sahabat terbaikku, tanpa terasa air mataku menetes, aku langsung mendekati kedua sahabat ku itu lalu memeluk mereka,
"Terima kasih banget ya Ren, Din, terima kasih banyak lo berdua udah mau jadi sahabat terbaik gue, dan selalu bantuin gue, hibur gue kalo gue lagi sedih, terima kasih", Reni dan Dina membalas pelukanku dan kami pun menangis bersama.
Bip.. Bip.. Notifikasi pesan di ponselku berbunyi, akupun melepas pelukan kami,
"udah-udah, ko kita malah jadi melow gini sih, harusnya kita happy-happy, ayo Din kita siap2 ke kantor", kata Reni, Dina pun mengangguk setuju, lalu mereka berdiri
" Rei, kita siap-siap trus berangkat kekantor ya, lo nanti hati-hati di jalan, maaf banget kita ga bisa nganterin lo ke stasiun ya", ucap Dina,
"iya ga apa-apa ko", sahut ku sambil tersenyum,
"lo hati-hati di jalan ya Rei", kata Reni sambil memeluk ku bergantian dengan Dina, akupun mengangguk dan mereka pun keluar dari kamarku, kemudian aku mengambil ponselku di atas meja, aku langsung sumringah melihat pesan itu dari Hadi, cepat-cepat aku buka pesan nya,
"Hai Sayang, kamu udah bangun belum?", aku tersenyum melihat isi pesan tersebut, lalu aku membalas,
"udah ko mas, ini lagi beres-beres baju yang mau dibawa", tak lama kemudian ponsel ku berdering, Hadi langsung menelpon ku, akupun mengangkat nya,
"halo Sayang, kamu jadi nanti jam 10 berangkat ke stasiun?"
aku mendengar ada yang berbeda dari suara Hadi
"jadi Mas, hmmm.. Mas Hadi kenapa, ko suaranya kayak gitu, Mas Hadi sakit?"
"engga ko Sayang, aku ga apa-apa, paling cuma kecapean aja"
"mas Hadi beneran ga apa-apa? apa aku reschedule aja ya mas ke Bandungnya?"
ku dengar Hadi tertawa pelan
__ADS_1
"aduh.. calon istriku baik banget sih, tambah cinta nih aku, jadi pengen peluk"
"ish.. mas Hadi, serius dong mas, aku lagi ga bercanda ih"
"iya-iya Sayang, beneran aku ga apa-apa ko, hari ini aku cuti, nanti aku jemput kamu ya, aku anter kamu sampai Stasiun"
"beneran mas?" jawabku bersemangat
"iya Sayang, ya udah, aku siap-siap dulu ya, skalian mau anter Devan sama Aldo ke rumah kamu, mobil Devan kan di situ"
"oke, love you mas Hadi", tanpa menunggu jawaban Hadi aku langsung menutup telpon ku, entah mengapa jantungku berdegup kencang setelah mengatakannya.
Hadi tercengang mendengar ku mengatakan kata itu, dia terlihat sangat bahagia, lalu menyimpan ponselnya saku celananya.
Pukul 8 pagi bel rumahku berbunyi, aku baru saja selesai berpakaian sehabis mandi, lalu aku bergegas turun untuk membuka pintu.
"Pagi calon istriku", sapa Hadi setelah aku membuka pintu, aku masih merasa malu atas ucapanku saat menutup telpon tadi,
"Pagi Mas Hadi", jawabku kikuk
"Di, Rei, kita berangkat duluan nya", teriak Devan dari dalam mobil.
"oke, kalian hati-hati ya di jalan", sahut ku sambil melambaikan tangan, begitu pulang dengan Hadi. Setelah kepergian Devan dan Aldo aku mempersilahkan Hadi untuk masuk ke dalam rumah.
" Ayo mas Masuk ", aku pun menggandeng tangan Hadi, dan dia mengikuti langkahku.
" mas Hadi udah sarapan belum, mau aku siapin sa...
" belum selesai aku berbicara Hadi sudah menarik tanganku dan memeluk ku, aku terkejut Hadi tiba-tiba memelukku dan berkata
__ADS_1
" jangan pernah tinggalin aku Rei, Kamu adalah duniaku".
Bersambung...