Dia Yang Mancintaiku

Dia Yang Mancintaiku
Kecemasan


__ADS_3

" Sayang, sakit lagi apa engga? " tanya Hadi masih di atasku,


" Sedikit Mas, tapi ga sakit banget ", jawabku sambil mengelap keringat di keningnya, lalu Hadi tersenyum dan mencium ku, kami memakai pakaian kami, Hadi pun mengangkat tubuhku dan menidurkanku di atas tempat tidur,


" Kamu istirahat dulu ya Sayang, aku mau mandi dulu trus lanjutin kerjaan di bawah", pinta Hadi, aku pun hanya tersenyum dan mengangguk karena merasa sangat lelah. Hadi pun meninggalkan ku di kamar, tak lama setelah itu ponselku berdering, kulihat nama Reni di layar,


" Ya Hallo Ren? " Jawabku,


" Hallo Rei ", balas Reni,


" Suara lo kenapa Rei? ko lemes banget? lo sakit apa gimana Rei? dari kemaren ga ada kabar sama sekali? ", cecar Reni,


" Ga apa-apa Ren, gue cuma kecapean aja, badan gue lemes banget rasanya ", jawabku,


" Widihhh... yang penganten baru, semangat amat program bikin anak nya, sampe kecapean begitu ", goda Reni, wajahku terasa panas mendengar ledekan dari Reni, karena memang Hadi telah membuatku sangat lelah,


" Apaan sih lo Ren, emangnya lo tau kalo bikin anak itu cape? hayooo... ? ", balas ku,


" Yeee... hari gini Rei, anak kemaren sore juga udah tau kali, hahaha ", jawab Reni,


" dih kan Pe'a lo ", sungut ku, lalu ikut tertawa,


" Kalian ga kangen apa sama gue? main ke' kesini Ren? ", ajak ku,


" ish.. ga kangen tuh, malah gue sama Dina bebas sekarang di rumah, ga ada yang bawelin " jawab Reni menggoda ku,


" Ya Tuhan... kalian ini bener-bener deh, gue aja loh kangen sama kalian biarpun baru dua hari ga ketemu ", ucapku kesal, ku dengar Reni tertawa di sana,

__ADS_1


" Ulu.. Ulu... ada yang ngambek nih, penganten baru ga boleh ngambek-ngambek Rei, ga boleh marah-marah Pamali loh, lagian gue sama Dina juga kangen ko Rei sama lo, biasanya rumah kan Rame kalo ada lo, biasa ada yang marah-marah ada yang bawel, udah seminggu ini sepi Rei, makanya anak-anak lain termasuk Hadi sering main kesini ", jawab Reni,


" Oh iya Rei, Besok lo udah masuk kerja kan ya, emang Hadi masih bolehin lo kerja Rei? " sambung Reni,


" iya besok gue mulai kerja Ren, Mas Hadi belum bilang apa-apa sih, jadi gue kerja aja dulu, kalo Mas Hadi minta gue di rumah aja, baru gue resign, kalo sempet besok makan siang bareng yuk ", ajak ku


" Boleh.. boleh.. besok lo hub kita aja di grup Rei, siapa tau cowok-cowok juga pada bisa ", jawab Reni antusias,


" Siipp.. ", balas ku


" Ya udah Rei, gue lanjut kerja dulu ya, jangan lupa besok kabarin, Bye Rei..? ", ucap Reni langsung mematikan telpon nya sebelum aku sempat menjawab, aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku sambil tersenyum, lalu aku pun tertidur.


Hadi telah selesai dengan pekerjaan nya dan masuk ke dalam kamar, dia melihatku tertidur dengan posisi masih memegang ponsel, Hadi pun mengambil ponsel ku, lalu menaruhnya di atas meja, Hadi merapikan rambut yang menutupi wajahku lalu mencium ku, namun di saat Hadi akan merebahkan tubuhnya di sebelahku, suara Ponsel ku berdering, karena aku tidak bergeming dari tidurku Hadi pun mengambil ponselku lalu melihat siapa yang menelpon, Hadi terkejut dan langsung terduduk melihat di layar ponselku tertera nama Rio yang menelpon ku, Hadi hanya diam terpaku tanpa mengangkat telp Rio, tidak pula mematikan ponselku, dia hanya mengecilkan volume nya agar aku tidak terbangun, mungkin karena sudah 5 kali tak terjawab Rio tak lagi menelpon ku, Hadi pun terlihat khawatir apalagi dia langsung teringat cerita Devan mengenai Rio, akhirnya dia membuka ponselku, dia melihat riwayat pesan, riwayat panggilan dan melihat galeri di ponselku, namun terlihat Hadi menaikkan sudut bibirnya, dia tersenyum karena tidak menemukan apapun yang berhubungan dengan Rio, Hadi meletakkan kembali ponselku di atas meja, dia melihat ke arahku sambil merebahkan tubuhnya di sampingku, lalu memeluk ku dari belakang menenggelamkan wajahnya di punggungku penuh kekhawatiran,


" Apapun yang terjadi jangan tinggalin aku Sayang ", ucapnya lirih, dia masih takut apa yang di ceritakan Devan menjadi kenyataan, dan masih banyak fikiran-fikiran jelek lainnya.


Hari sudah mulai sore, aku mengerjapkan mataku, Hadi masih tertidur, aku tersenyum melihat nya, aku membelai pipinya, lalu mencium bibirnya, Hadi tidak bergeming membuat ide jahil ku muncul, aku terus menciumi bibirnya berkali-kali, namun aku tidak sadar kalau sebenarnya Hadi sudah bangun dan balik mengerjaiku, dia sengaja tidak membuka matanya karena dia sangat menyukainya, tindakanku seperti itu mengurangi sedikit rasa khawatir yang ada pada dirinya, lalu tiba-tiba Hadi memutar badannya menjadi berada di atas ku yang membuatku terkejut,


" M-Mas Hadi udah bangun? ", tanyaku gugup, lalu Hadi balik menciumi ku,


" Udah dari tadi, kan kamu yang bangunin aku ", jawab Hadi tanpa berhenti, aku pun membulatkan mataku karena kaget, tanpa kusadari wajahku memerah malu,


" Jadi mas Hadi tau aku tadi ngapain aja? " tanyaku malu sambil memalingkan wajahku,


" Tau banget malah ", jawab Hadi cuek, reflek aku kembali menatapnya tak percaya, lalu Hadi tertawa melihat ku, aku kesal dengan nya dan langsung memukul lengan nya.


" Ya Ampun Sayang... kamu bener-bener gemesin banget sih, tambah cinta aku nih.. ", ucap Hadi sambil kembali menciumi ku, aku semakin kesal karena merasa di kerjain Hadi, lalu aku mendorong tubuhnya hingga dia jatuh ke samping ku dengan posisi tangannya memeluk pinggangku, aku ingin bangun, tetapi Hadi malah menarik pinggangku untuk memeluk nya, sekarang aku berada dalam pelukan Hadi

__ADS_1


" Lepas Mas.. aku mau mandi ", pintaku manja,


" ga mau ", ucap Hadi malah mengeratkan pelukannya,


" Maasss... aku ga bisa nafas ih ", rengek ku, lalu Hadi merenggangkan pelukannya tanpa melepasnya,


" Gimana Sayang, udah bisa nafas belum? " goda Hadi, aku menatapnya tajam namun Hadi malah tersenyum, aku memiliki ide untuk membalas nya, aku langsung mendekatkan wajahku ke arahnya dan mencium lembut bibirnya, Hadi terlihat terkejut, namun aku tidak berhenti, aku malah ******* bibirnya sambil memegang rahangnya, Hadi membalas ciuman ku, kami pun saling ******* dan membelai masing-masing, di saat aku merasa waktunya pas, aku langsung bangun dan berlari ke kamar mandi lalu mengunci pintunya.


" Sayaangg,,, kamu harus tanggung jawab nih ", teriak Hadi, aku mendengar teriakannya dari kamar mandi dan tersenyum puas, namun tak lama aku tersadar atas tindakan ku, aku merasa malu, tapi aku berfikir buat apa juga aku malu, aku menggoda suamiku sendiri,


" Awas aja kamu Sayang, udah berani ngerjain aku ya? " ucap Hadi pelan sambil tersenyum. Hadi melihat ke arah ponsel ku, dan melihat apakah Rio menghubungi ku lagi, tetapi dia tidak menemukan apa-apa karena memang tidak ada yang menghubungi ku.


Hadi mengambil Ponselnya lalu mengirimi pesan ke Devan,


" Men.. kalo ga sibuk, ketemu tempat biasa ya, ajak Aldo skalian, ada yang mau gue omongin nih " pesan Hadi,


" Ada apa nih? kok kayaknya serius amat, lo lagi ga berantem sama Reina kan? ", balas Devan,


" Engga, cuma ada hubungannya aja sama Reina, makanya gue pengen ngobrol sama kalian, biarpun kalian belum nikah, tapi gue pengen denger pendapat dari kalian gimana ", pesan Hadi,


" Ga usah di perjelas juga bisa? maksud ada hubungan nya sama Reina gimana sih Men? ", balas Devan bingung,


" hehehe.. sory, sensi amat lo kek cewe lagi PMS, makanya nanti disana aja w ceritanya, nanti lo kabarin aja ya kalo udah sampe", Pesan Hadi


" Siyap Bosque... " Balas Devan, Hadi meletakkan kembali ponsel nya, dia memikirkan masalah Rio yang menghubungi ku.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2