Dia Yang Mancintaiku

Dia Yang Mancintaiku
Ucapan Selamat


__ADS_3

Akhirnya di sini lah aku berdiri, melihat kekasihku yang sangat aku sayangi bersanding dengan wanita lain, aku melihat Rio terasa tertekan dengan dengan pernikahan ini.


"Maksud kamu apa Rei, meminta aku menerima pernikahan ini, kamu tau cuma kamu yang aku mau jadi istriku Rei, please jangan minta aku menerimanya",


" Mas, aku tau kamu sangat mencintai aku, kamu juga tau akupun cinta sama kamu, tapi kita ga bisa egois Mas, apa kamu tega liat ayah sama ibu ga bahagia dihari tua mereka, apa kamu bisa bahagia liat perusahaan ayah yang udah bertahun-tahun di bangun dengan susah payah bangkrut begitu aja, coba kamu fikirin gimana perasaan Ayah sekarang, aku yakin kamu bisa terima Nayla Mas, kita tau keluarga nya seperti apa, apalagi ayahnya itu Bos kamu, Mas.. please, mungkin Nayla jodoh kamu, sekeras apapun kita bertahan kalau kita ga berjodoh mau bagaimana, aku mohon sama kamu terima pernikahan ini", dengan terisak aku meminta Rio mau menerimanya. Bukan karena aku sudah tidak mencintai nya, tapi karena aku berfikir, aku tidak akan bisa bahagia disaat melihat Ayah dan Ibunya sedih, mereka sudah seperti orang tua kandungku, selama aku menjalin hubungan dengan Rio, mereka adalah rumah kedua ku setelah orang tuaku meninggal, mereka sudah menganggap ku anak mereka.


"Oke Rei, kalau itu memang keputusan kamu, aku akan menerima pernikahan ini, tapi aku mohon kamu jangan membenciku Rei, aku sangat mencintaimu", lalu kami berpelukan, sangat lama, kami saling menumpahkan kesedihan hati kami untuk terakhir kalinya.


" Rei.. ", bisik Hadi membuyarkan lamunan ku,


" kamu baik-baik aja Rei, gimana kalo kita keluar dulu?",


"ga usah mas, sebentar lagi giliran kita, aku ga apa-apa ko", sekuat hati aku menahan agar air mataku tidak jatuh, dan tiba saat nya aku mengucapkan selamat kepada Rio dan Nayla,


"Selamat ya Mas, Nayla, semoga kalian bahagia selalu, cepat di kasih momongan", Rio memeluk ku


"Terima kasih Rei, semoga kamu juga bahagia dengan keputusan ini",


" Terima kasih Rei, untuk semuanya", ucap Nayla sambil memeluk ku, tiba saatnya aku bertemu dengan Ayah dan ibu Rio,

__ADS_1


"Sayang...Hiks.. hiks..maafin Ayah dan ibu ya Nak", ibu memeluk ku sambil menangis, akhirnya air mataku tidak dapat lagi aku tahan, akupun menangis dalam pelukan ibu


"Maafin Reina juga ya Bu, Reina blm bisa buat Ayah sama ibu bahagia", lalu aku memeluk Ayahnya,


"kamu anak perempuan Ayah Reina, kamu anak yang hebat, Ayah bangga sama kamu",


" Maafin Rei ya Yah, Terima kasih banyak Ayah sama ibu udah mau jadi orang tua Rei disini, Rei sayang sama Ayah sama Ibu", Hadi melihat ku dengan tatapan tidak percaya, mungkin banyak pertanyaan di benaknya melihat aku dan keluarga Rio seperti itu. Lalu kami pun turun dari pelaminan, Hadi memberikan sapu tangan nya kepadaku,


"Terima kasih ya Mas", Hadi hanya tersenyum.


Hampir satu jam aku ada di gedung pernikahan ini, aku merasa lelah, aku mencari teman-teman ku untuk mengajak mereka pulang, tetapi terlihat mereka sedang menikmati pesta ini bersama teman2 kantor lain, aku mengmpiri Dian dan berbisik,


"bentar gw tanya Aldo dulu",


" Sayang, Rei mau pulang, kita ikut pulang apa gimana?",


"Rei, lo kalo mau pulang, duluan aja, kita nanti bisa naik Taksi online ko, biar Hadi yang anter lo pulang ya", ucap Aldo,


" gw ga apa2 ko pulang naik taksi, mungkin Mas Hadi masih mau disini",

__ADS_1


"Yah jangan dong Rei, Di, lo mau kan anter Reina pulang, kasihan dia kalo pulang sendirian",


" iya Rei, kamu pulang sama aku aja ya, biar aku anter kamu",


"Mas Hadi beneran ga apa-apa ikut pulang sekarang?",


" iya Rei, ga apa2 ko, yuk kita pulang". Setelah berpamitan dengan yang lain aku dan Hadi akhirnya pulang, 15 menit dalam perjalanan tidak ada pembicaraan apapun antara aku dan Hadi, hanya terdengar suara radio dalam mobil itu.


"Rei, kalo kamu mau nangis, nangis aja Rei, jangan di simpen dalam hati", Hadi membuyarkan lamunan ku


" engga ko mas, siapa juga yang mau nangis", jawabku,


"aku ga habis fikir Rei sama kamu, kamu ko bisa setegar itu menjalani semua ini, mungkin kalo perempuan lain sudah bunuh diri kali",


" siapa bilang aku tegar mas, aku juga ngerasa sakit, dada aku terasa sesak, tapi aku bisa apa, semua sudah takdir yang mau ga mau harus aku jalanin kan?", Hadi terlihat takjub dengan ucapanku,


"kalau kamu ga mau berbagi cerita atau kesedihan kamu sama aku, kamu boleh cerita sama Dina atau Reni Rei, aku mohon jangan kamu pendam sendiri, aku tau sebenarnya kamu tau kan perasaan aku ke kamu gimana, tapi aku ga mau maksa kamu Rei, semua terserah kamu mau Terima aku apa engga",


" iya Mas aku tau, Terima kasih banyak ya, tapi untuk sekarang aku blm kepikiran apa-apa".

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2