Dia Yang Mancintaiku

Dia Yang Mancintaiku
Aku Rapuh


__ADS_3

Akhirnya aku sampai rumah ku. Hadi memarkirkan mobil nya di dalam garasi,


"Mas Hadi mau ngopi dulu apa gimana?", " emang nya boleh aku mampir Rei?",


"boleh ko mas, asal jangan macem-macem ya, awas aja?", godaku, aku dan Hadi bejalan beriringan,


"loh aku kan cuma minta satu macem Rei",


" minta apa mas? ",


"minta kamu jadi pacar aku", aku memutar bola mataku malas


" yeeuhh ", Hadi tertawa melihat ekspresi ku.


"Masuk mas, aku ganti baju dulu ya, skalian nanti aku buatin kopi",


"Oke" jawab Hadi.


"Nih Mas kopi nya", aku duduk di sebelah Hadi yang sedang menonton TV di ruang tamuku,


"Terima kasih ya Rei", aku tersenyum.


" Rei, boleh aku bertanya?",


"tanya apa Mas? boleh ko",

__ADS_1


" Hmm.... hubungan kamu sama orang tua Rio udah sedekat itu, apa kamu sudah ada rencana menikah sebelumnya?", aq tersentak dengan pertanyaan Hadi dan aku langsung menundukkan wajahku, Hadi merasa bersalah atas pertanyaan nya itu,


"Rei, aku minta maaf kalo pertanyaan aku bikin kamu sedih". aku menggakat wajahku dan tersenyum,


" Mas.. aku boleh pinjam punggung Mas Hadi ga?", Hadi yang mendengarnya heran


"Hah??",


"Boleh ga Mas? ", pintaku manja,


"Bob-boleh-boleh Rei", jawab Hadi heran sambil membalikkan badan nya, aku langsung menyandarkan keningku di punggung Hadi,


" Hiks.. Hiks.. Hiks..", aku menangis sejadi-jadinya di punggung Hadi, Hadi ingin membalikkan badan nya,


"jangan berbalik Mas, aku cuma pinjam sebentar", Hadi pun kembali ke posisi semula, membelakangi ku, aku terus terisak meluapkan segala rasa sesak yang sudah aku tahan beberapa hari ini, aku merasakan tangan Hadi menarik tanganku agar bisa memeluknya dari belakang,


"Di sini aku cuma kenal Mas Rio, dia ajak ku ke rumah nya pertama kali ngenalin aku sebagai calon istrinya, dan orang tua Mas Rio nerima aku sebagai calon menantu mereka, hiks.. hiks.. hiks.. mereka sayang sama aku Mas, mereka udah anggap aku anak mereka, tapi sekarang gimana? mereka pasti lupain aku Mas, hiks.. hiks.. hiks..", tangis ku semakin memuncak di saat aku membayangkan nya. Tiba-tiba Hadi melepas pelukan tanganku di pinggang nya, dia langsung berbalik dan memeluk ku dengan erat sambil membelai rambutku,


"Menangislah Rei, luapkan kesedihan kamu, jangan kamu pendam sendiri", Hadi terus memeluk ku,


"kamu ga boleh ngomong kaya gitu Rei, mereka sayang sama kamu, g mungkin mereka melupakan kamu", aku mengangkat wajahku dan Hadi merenggangkan pelukannya dan menatap ku,


" tapi sekarang mereka udah punya menantu selain aku Mas, aku bukan lagi calon menantu mereka, lama kelamaan mereka akan lupa sama aku", Hadi tersenyum sambil mengusap air mataku,


"mereka sayang sama kamu Rei, mereka ga akan melupakan kamu, kamu anak yang mereka banggakan dengan pengorbanan kamu seperti ini",

__ADS_1


" bener begitu mas?", Hadi manangkupkan kedua tangan nya di wajahku, aku melihat matanya yang penuh cinta menatapku sambil tersenyum,


" aku yakin Rei, mereka ga akan lupain kamu", ada rasa tenang di hatiku mendengar ucapan Hadi, dia mencium kening ku lalu kembali memeluk ku, entah karena lelah menangis atau lelah atas semua masalah yang sedang aku hadapi, akhirnya aku tertidur di pelukan Hadi, selang berapa saat teman2 ku pulang dan mereka melihat ku tertidur di pelukan Hadi, Dina menghampiriku dan Hadi


"Di, sini gue bangunin Reina biar dia tidur dikamar",


" Ga usah Din, biar gue aja yang bawa dia ke kamarnya, kasihan di kecapean ",


"oh ya udah, yuk ikut gue kekamar Rei", Hadi merebahkan tubuhku di atas kasur, lalu menyelimuti ku sambil menatap wajah ku yg sembab akibat menangis tadi, dia membelai rambutku,


"aku akan buat kamu bahagia Rei, aku janji, aku ga akan ninggalin kamu walaupun kamu ga Terima cinta aku".


"Ekhem.." Hadi menoleh kebelakang, di depan pintu sudah ada Dina yg dari tadi memperhatikan Hadi,


"Di, lo yakin sama omongan lo? kalo lo cuma penasaran sama Reina, karena dia ga pernah tergoda sama lo, please Di, jangan di terusin, lo ga liat gimana Reina sekarang? Reina perempuan baik Di, dia tulus, gue aja ga ngerti ada manusia sebaik Reina di dunia ini, dan gue beruntung banget bisa kenal dan jadi sahabat Reina, jadi gue bener-bener minta tolong sama lo Di, kalo emang lo serius dan mau ngobatin luka nya gue dukung lo, tapi kalo lo cuma iseng doank, gue jamin lo bakalan nyesel sia2in perempuan kaya Reina",


"Gue yakin Din sama perasaan gue, sama hati gue, dari awal gue liat Reina, gue udah jatuh cinta sama dia, udah berbagai macam cara lakuin buat deket sama dia, tapi dia sendiri yg bikin tembok pemisah supaya gue jangan deketin dia karena dia ga mau Rio salah faham, dari situ gue yakin Reina itu perempuan idaman yang selama ini gue cari-cari, jadi lo ga perlu khawatir gue nyakitin Reina, bahkan kalo Reina minta gue pergi, gue ga akan pergi Din",


" gue pegang omongan lo Di, gue harap Reina bisa secepat nya move on dari Rio, Reina pantas bahagia Di, ngomong-ngomong udah malem Di, mendingan lo balik gih, Aldo sama Devan juga udah siap2 mau pulang tuh",


"oke deh kalo gitu, gue titip Reina ya Din",


" tanpa lo minta juga gue bakal jagain dia kali",


"oh iya gue lupa". Setelah selesai pembicaraan mereka, Hadi kembali masuk kek kamarku dan mencium keningku,

__ADS_1


"mimpi indah Rei".


Bersambung....


__ADS_2