
Setelah cukup lama kami berpelukan, Hadi melepas kan pelukan nya dan bertanya padaku, "oh iya Sayang, besok kamu jadi balik ke Bandung?",
" loh, ko mas Hadi tau aku mau pulang besok?", selidik ku,
"Dina yang kasih tau aku Rei kamu mau balik, karena kan awalnya aku mau buat kejutan melamar kamu itu di bantu sama mereka, tapi rencana nya berubah pas tau kamu mau balik besok", jelas nya, dan aku pun mengerti sekarang,
"jadi ko Mas, besok jam 10 pagi aku berangkat", jawabku,
"kamu besok naik apa ke sana?", tanya Hadi lagi sambil merapikan rambutku kebelakang telingaku,
"aku naik kereta jam 1 siang Mas",
"oh iya, aku ada yang lupa, sebentar aku ambil di bawah", ucap Hadi sambil berjalan menuju pintu, Hadi berjalan cepat menuruni tangga, teman-temanku yang melihatnya terburu-buru mengambil bunga dan kotak hadiahpun sempat terkejut, namun belum sempat mereka bertanya Hadi sudah menjauh dari mereka, di kamar aku masih termenung, jujur aku tidak menduga dengan situasi ini, semuanya terlalu cepat, aku merasa ini seperti mimpi, aku memandangi cincin di jari manisku, tak lama setelah itu Hadi masuk kedalam kamarku sambil membawa bunga dan satu kotak hadiah, sekilas aku ingat, itu adalah bunga dan kotak yg aku lihat di jok mobil Hadi tadi, Hadi duduk di sampingku,
"sayang, ini buat kamu", ucap Hadi sambil memberikan bunga dan kotak itu, aku menerima bunga dan mencium nya harum sekali, lalu aku meletakkan bunga itu di atas tempat tidurku dan mengambil kotak hadiah dari tangan Hadi,
"apa ini mas?", tanyaku,
__ADS_1
" kamu buka ya", jawab Hadi sambil membantuku membukanya, aku melihat di dalam kotak terdapat sebuah kalung yang sangat cantik berliontin bentuk Hati dan inisial huruf H dan R di dalam liontin tersebut, Hadi sangat bahagia melihatku tersenyum melihat kalung tersebut,
"kamu suka ga Sayang?", tanya Hadi,
" iya mas, aku suka banget, kalung nya cantik", jawabku, lalu Hadi mengambil kalung itu dan membantuku memasangkannya di leherku,
"Cantik", ucap Hadi,
" yang cantik kalungnya atau akunya mas?", tanya ku asal,
"ya kalungnya lah", jawab Hadi menggodaku, akupun terkejut dengan jawaban Hadi, lalu aku memajukan bibir ku cemberut sambil memukul lengan nya, Hadi tersenyum puas telah berhasil menggodaku, lalu dia memeluk ku,
"ini bukan mimpi kan Mas, aku ga mau bangun kalo ini cuma mimpi, Mas Hadi juga lagi ga ngerjain aku kan mas?", tanya ku sendu, lalu Hadi melepaskan pelukannya,
"ini nyata Sayang, kamu ga mimpi, sekarang kamu calon istri aku Rei, kamu ga usah fikir macem-macem lagi ya, kalo ada apa-apa kamu cerita sama aku, kita cari jalan keluarnya bareng-bareng karena kamu sekarang ga sendirian Sayang, ada aku dan aku bakal secepatnya ketemu Paman sama Bibi kamu buat nikahin kamu", jawab Hadi, aku merasa tenang mendengar ucapan Hadi.
"ya udah, sekarang kamu tidur ya, besok kan kamu harus bangun pagi, buat siapin semuanya, aku temenin kamu sampe tidur ya", ucap Hadi, sejujurnya, akupun lelah akhir nya aku mengangguk dan mulai merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, Hadi masih menemaniku sambil memegang tangan ku sampai aku tertidur.
__ADS_1
Setelah beberapa lama aku tertidur, Hadi pun bangun dari duduk nya, mencium kening ku dan menyelimutiku, lalu dia berjalan keluar kamarku dan menutup pintu dengan sebelum nya mematikan lampu. Hadi berjalan menuruni tangga menuju ruang tamu, di sana masih ada teman-teman ku yang terlihat sudah mengantuk, lalu Hadi duduk di salah sofa di ruang tamu, Aldo yang melihat Hadi langsung duduk tegak dan bertanya,
"gimana Men? sukses kan?", Hadi blm memberikan jawaban dan masih tertunduk, lalu Reni pun bertanya lagi,
" Di, lo kenapa, Reina nerima lamaran lo kan? dia ga nolak lo kan Di?", cecar Reni, Hadi sudah tidak bisa menahan tawanya, lalu dia tertawa pelan dan menjawab ,
"Reina terima lamaran gue guys, biarpun awalnya dia masih ga percaya gue lamar dia dengan cara tiba-tiba kaya gini, tapi gue yakinin dia kalo gue emang serius lamar dia jadi calon istri gue, gue juga jelasin ke dia kalo sebenernya kita udah lama rencanain acara lamaran ini tapi gagal karena tau dia mau pulang kampung", mereka pun terlihat bahagia mendengar jawaban Hadi.
"akhirnya gue bisa liat Reina bahagia", ucap Dina.
" gue harap lo komit sama apa yang udah lo yakinin Men, lo udah pilih Reina buat jadi istri lo kan, jadi buat dia bahagia, kita tau kan Reina itu perempuan gimana, jadi jangan sia-siain dia, Rio aja nyesel udah lepas Reina", jelas Devan. Hadi dan yang lain merasa heran dengan ucapan Devan,
"maksud lo apa Men? ko lo tau Rio nyesel lepas Reina, emang kapan lo ketemu Rio?", cecar Aldo, terlihat Hadi, Reni dan Dina pun kaget mendengar nya,
"seminggu lalu gue ga sengaja ketemu Rio pas gue mau ketemuan sama klien, dia nungguin gue selesai, akhir nya gue sama dia ngobrol banyak, dia bilang dia nyesel ninggalin Reina dan belum bisa lupain Reina sampe sekarang, nanti gue ceritain detailnya deh, sekarang udah mau pagi nih, gue capek, ngantuk, gue tidur di tempat lo ya Di, ga kuat gue kalo harus pulang ke rumah", kata Devan,
"gue juga Di, numpang di tempat lo aja ya", sahut Aldo, dengan masih sangat penasaran akhirnya Hadi menyetujui nya, sebenarnya dia sangat ingin menanyakan masalah Devan bertemu Rio, tetapi dia juga mengerti kalo mereka capek karena bantuin dia malam ini,
__ADS_1
"oke deh, yuk kita pulang sekarang, kalian kan udah capek bantuin gue sama nungguin gue disini", Devan, Aldo dan Hadi pun bangkit dari tempat duduk mereka di susul Dina dan Reni, mereka pun berpamitan pada Reni dan Dina lalu meninggalkan rumah kontrakan Reina. Selama perjalanan pulang, Hadi ingin menanyakan kembali pada Devan perihal Rio, tetapi dia melihat Devan sudah tertidur dalam mobil, padahal jarak rumah kontrakannya dengan Reina cuma berjarak beberapa Blok saja. Hadi berencana untuk menanyakan nya besok pagi di saat mereka berangkat kerja.
Bersambung...