
Walaupun aku terkejut, tetapi aku tetap membalas pelukan Hadi, aku merasa ada yang aneh dengan sikapnya, setelah dia mengatakan itu, dia terdiam sambil tetap memeluk ku,
"Mas... " dengan mesra aku panggil namanya,
"Mas Hadi kenapa, ko ngomong nya kayak gitu?",belum ada jawaban dari Hadi, lalu aku pun mencoba melepaskan pelukan kami, tetapi Hadi malah mempererat pelukan nya itu, aku mengusap lembut punggung nya,
"Jangan tinggalin aku ya Sayang, apapun yang terjadi aku mohon kamu jangan pernah tinggalin aku, kamu adalah dunia ku Rei",
Hadi mengulang omongan nya itu yang membuat aku tambah heran dan merasa aneh.
"Aku ga akan ninggalin kamu mas, tapi kamu cerita sama aku, ada apa? kalo kamu kayak gini aku bingung", jelas ku.
Lalu Hadi pun akhirnya melepas kan pelukan nya, Aku terkejut melihat mata Hadi yang merah dan wajah yang sendu, aku menarik tangan Hadi untuk duduk bersamaku di sofa ruang tamu,
"Mas Hadi kenapa?" Tanyaku sambil ku rapikan rambut nya,
"Aku Sayang sama kamu Rei, aku juga Cinta banget sama kamu, aku takut kamu nanti ninggalin aku", ucap Hadi sambil memegang tangan ku,
"Mas Hadi kenapa loh Mas, ko ngomong nya aneh gini, jangan bikin aku takut dong Mas, Mas Hadi kan bilang, kalo kita ada apa-apa jangan di pendam sendiri, supaya kita bisa cari jalan keluar nya bareng-bareng", ucapku
"Aku bakal cerita Rei, tapi kamu janji kamu ga akan merubah keputusan kamu buat jadi istri aku ya?",
"Mas Hadi masih ngeraguin aku ya?" tanyaku sedih
"Engga Sayang, aku ga ngeraguin kamu, aku cuma takut kalo nanti aku cerita kamu malah berubah fikiran"
"Berubah fikiran karena apa? Mas, aku itu udah dewasa, tiap aku ambil satu keputusan, aku udah fikirin semuanya, apalagi ini menyangkut hidup dan kebahagian aku, ga mungkin aku main-main Mas, aku udah pilih Mas Hadi buat jadi suami aku, harusnya Mas Hadi udah ngerti maksudnya itu apa, bukan nya malah ketakutan gini" jelasku. Lalu Hadi memeluk ku
"Maafin aku Sayang, aku bener-bener ga bermaksud kayak gitu, aku cuma khawatir kamu ninggalin aku", Hadi melanjutkan,
__ADS_1
" ya udah aku akan ceritain ke kamu ya", ucap Hadi lalu melepas pelukan nya dan memegang tangan ku.
Aku memperhatikan sikap Hadi, memang terlihat seperti sesorang yang sedang mengkhawatirkan sesuatu,
"Semalam Devan cerita, dia ketemu sama Rio, dan dia juga bilang, Rio cerita kalo dia nyesel udah ninggalin kamu Sayang, dan bilang juga kalo dia masih cinta sama kamu", jelas Hadi
"Trus?" tanyaku tanpa berubah ekspresi,
Hadi mengernyit kan dahinya karena dia merasa heran dengan tanggapanku yang biasa-biasa saja.
"Sayang, Ko kamu biasa aja sih aku cerita tentang Rio?" tanya Hadi Heran
"Lah, emang nya aku harus gimana Mas, kan aku sama Rio udah ga ada hubungan apa-apa lagi, Rio itu masa lalu aku, aku juga udah ga ada perasaan apa-apa lagi sama dia, masalah dia menyesal atau apa kan itu versinya dia aja, mungkin dia lagi ada masalah kali sama Nayla, makanya dia bilang kaya gitu",
"Tapi jujur aku merasa terancam Sayang",
" Terancam karena??" tanyaku penuh selidik,
Aku melihat Hadi terkejut atas tindakan ku itu, lalu aku berkata,
"Mas Hadi ga usah khawatir ya Mas, dari sekian banyak laki-laki yang mencoba mendekati ku, aku cuma pilih Mas Hadi untuk jadi suami aku,satu-satu nya orang yang aku lihat di antara yang lain itu cuma Mas Hadi, Jadi, aku berharap banget Mas Hadi Jangan pernah raguin aku ya", ucapku sambil ku cium lagi bibirnya sekilas untuk menenangkan hati nya. Aku melihat wajah Hadi berubah, terlihat lebih tenang setalah mendengar penjelasan ku, dengan bibir mengulas senyum dia berkata,
"Kamu serius kan sama ucapan kamu ini Sayang? kamu ga cuma menghibur aku aja kan? " cecar nya,
"Ya engga dong Mas, kan aku udah bilang tadi, kalo aku cuma mau Mas Hadi yang jadi suami aku dan jadi teman hidup aku selamanya, Amin?" Hadi langsung memeluk ku dengan erat, terlihat dia sangat bahagia, lalu akupun membalas pelukan nya. Setelah beberapa menit kami berpelukan, Hadi pun melepasnya,
"Terima kasih Sayang, aku bener-bener bahagia banget dengernya", ucap Hadi.
Lalu kami saling pandang, Hadi mendekat perlahan dan menempelkan bibirnya dengan bibirku, entah karena terbawa suasana atau karena rasa cintaku padanya, akupun membalas ciuman Hadi, dari ciuman sekilas sampai akhirnya kami saling ******* satu sama lain, meluapkan segala kekhawatiran yang ada. kami pun melepas ciuman itu dan mengatur nafas masing-masing, Hadi tersenyum melihat wajahku yang merona dan itu membuatku sangat malu,
__ADS_1
" Mas Hadi jangan ngeliatin aku kaya gitu, aku malu", ucapku sambil menunduk.
Hadi terlihat gemas melihatku salah tingkah seperti itu. Hadi ingin kembali mencium ku, tetapi aku menghindar,
"Mas, udah jam segini, nanti aku terlambat sampai Stasiun",
Hadi melihat jam di tangan nya sudah menunjukan pukul 09.30
"Ohh.. iya Sayang, maafin aku ya", ucapnya sambil mengusap lembut pipiku.
"Yuk, kita ambil barang kamu, biar aku aja yang bawa", ajak Hadi sambil menggandeng tangan ku menuju kamar.
Di dalam kamar aku sudah menyiapkan barang-barang yang mau aku bawa pulang, satu koper dan satu backpack. Kamarku pun sudah aku rapikan sebelum aku tinggal selama satu minggu.
"Kamu cuma bawa ini aja Sayang?" tanya Hadi,
"Iya Mas, kan aku di sana cuma 5 hari, biar nanti aku masih ada waktu buat istrahat sepulang dari Sana", jawabku
Aku sedang menggulung rambutku ketika Hadi memelukku dari belakang,
"Aku bakal kangen banget sama Kau Sayang", ucapnya manja sambil mencium leherku.
"Kan masih bisa Telpon atau kirim pesan Mas, Bisa video call juga kan", jawabku
"Tapi ga bisa peluk kamu kaya gini", Ucapnya lagi sambil mengeratkan pelukan nya di pinggang ku.
"Makanya cepetan nikahin aku, jadi kita bisa tiap hari pelukan kaya gini", kataku asal
"Aku akan secepat nya nikahin kamu Sayang, aku ga mau nanti kamu di rebut orang",
__ADS_1
"Siapa juga yang mau ngerebutin aku, udah yuk ah kita berangkat" kataku sambil melepaskan tangan Hadi dari pinggang ku, Hadi pun membawakan koper dan backpack ku ke mobil.
Bersambung...