
Jalan hari ini lumayan padat tidak seperti biasanya, jika jarak tempuh dari rumah kontrakan ku ke stasiun memakan waktu 30 menit saja, sekarang mungkin 1 jam aku baru sampai, di dalam mobil aku banyak ngobrol dengan Hadi,
"Sayang, sebenarnya kamu balik ke Bandung tujuan nya cuma mau ziarah ke makan ayah ibu atau bener kamu sekalian mau di jodohin sama Paman sih?" tanya Hadi,
"Rencana aku sih sebenernya emang cuma mau Ziarah aja Mas, cuma Paman sempet bilang, kalo aku pulang, mau dikenalin sama anak pak Kades di sana", jawabku,
" Trus kamu mau?"
"Bukan nya aku mau atau engga ya Mas, tapi karena aku fikir harapan aku buat deket sama kamu udah ga ada, waktu kamu bilang udah punya calon istri itu, ya udah, ga ada salah nya kan aku kenalan, masalah cocok atau engga nya kan Paman sama Bibi ga pernah maksa",
"Trus, kamu kenapa ga bilang sama aku kalo kamu mau pulang ke Bandung, kalo aja Dina ga hubungi aku, mungkin semuanya udah terlambat kan?" ucap Hadi terlihat kesal
"Ma'af ya Mas, aku kan ga tau kalo calon istri kamu itu ternyata aku, aku ga kasih tau kamu karena aku fikir kita kan ga ada hubungan apa-apa, aku takut calon istri Mas Hadi salah faham", Jawabku menyesal
"Ga ada hubungan apa-apa gimana maksud kamu? berarti selama ini kamu menganggap hubungan kita itu apa loh, sedangkan sama yang lain aja kamu bilang. Ohh.. aku tau, kamu sama sekali ga menganggap aku ada ya, makanya kamu selalu menghindari aku?" ucap Hadi merajuk,
"Ga gitu juga Mas, bukan nya aku sengaja menghindari kamu, Mas kan tau perasaan aku gimana ke Mas Hadi, aku takut sakit hati kalo nanti Mas Hadi ninggalin aku, tapi sekarang aku ga takut lagi, karena Mas Hadi sekarang calon suami aku, he.. he.. he", ucapku sambil memeluk lengan Hadi yang sedang menyetir mobil, Hadi yang semula ingin marah akhirnya malah tersenyum melihat sikap manja ku padanya.
"Aku suka kalo kamu lagi manja-manja gini Sayang",
" jadi boleh kalo aku suka manja-manja sama Mas Hadi?" tanyaku
"Ya boleh dong Sayang"
"Kalo sama anak nya pak Kades boleh ga?",
Hadi terkejut mendengar pertanyaan ku, dan dia menghentakkan tangan nya agar pelukan ku terlepas,
"Enak aja kamu tuh, awas ya kalo kamu di sana senyum-senyum sama laki-laki lain, apalagi sama anak nya Pak Kades",
" uwwu.. Calon suami aku cemburu ya?" Ledek ku, sambil mengeratkan pelukan ku di lengan nya,
"Laki-Laki mana sih Rei yang ga cemburu kalo tau calon istrinya senyum-senyum sama laki-Laki lain", jawab Hadi Tegas,
Aku senang melihat Hadi cemburu seperti itu, lalu aku mendekatkan tubuhku kemudian, Cup, aku mencium pipi Hadi.
Hadi yang mendapat ciuman mendadak dariku langsung menoleh ke arah ku, akupun tersenyum manis melihatnya.
" Cinta Kamu Rei", ucap Hadi sambil mengelus Pipi ku, lalu Hadi memegang tangan ku.
Akhirnya aku sampai Stasiun, Hadi membantuku membawa kan barang-barangku, setelah mendapatkan tiket aku berpamitan kepada Hadi,
__ADS_1
"Mas... aku berangkat ya, Mas Hadi jangan lupa jaga kesehatan", pamit ku sambil memeluknya,
"iya Sayang, kamu hati-hati di jalan ya, jaga kesehatan juga", jawab Hadi sambil membalas pelukan ku,
Setelah berpamitan, aku langsung naik masuk kereta karena 30 menit lagi kereta akan berangkat. Hadi pun sudah meninggalkan Stasiun.
Tiba saat nya kereta berangkat, rasa kantuk begitu aku rasakan, karena semalam aku tertidur dini hari, sedangkan paginya aku berkemas, akhirnya akupun tertidur.
Beberapa Jam kemudian aku tiba di Stasiun Bandung, seorang ibu yang duduk di depan ku membangun kan aku,
"Neng, bangun Neng, sudah sampai", katanya,
akupun membuka mataku,
"Oh iya Bu, Terima kasih" ucapku, lalu aku bangun dan mengambil koper juga tas punggung ku, setelah turun dari kereta, aku melihat-lihat ke sekeliling Stasiun, mencari Paman yang yang akan menjemput ku,
"Reina... ", Panggil seseorang
akupun menengok ke belakang, terasa lega sekali ternyata Paman ku yang memanggil, aku langsung menghampirinya dan memeluk nya, Paman ku ini adalah satu-satunya keluarga ku, dia adik kandung ayahku, sedangkan ibuku anak tunggal. Paman dan Bibi ku sangat menyayangi ku, karena mereka tidak mempunyai anak, jadi sejak kecil aku sudah terbiasa dengan mereka,
"Paman, Reina kangen, Bibi mana?", tanyaku sambil melihat sekeliling mencari Bibi ku,
"Beneran Paman? Paman ga bohong kan?"
"Mana pernah Paman bohong sama kamu Rei", jawab nya,
"engga pernah sih, he.. he.. he.. ya udah yuk Paman kita pulang, Reina udah laper nih pengen cepet-cepet makan masakan Bibi, Reina kangen",
"Ya udah ayo kita pulang",
Rumahku dan rumah Pamanku tidak terlalu jauh dari Stasiun, hanya membutuhkan waktu 15menit untuk sampai ke sana, karena rumah kami bersebelahan. Sesampai nya di rumah Paman ku, ku lihat Bibi ku sudah menunggu di luar rumahnya, akupun turun dari mobil dan langsung menghampiri lalu memeluknya,
"Bibi, Reina kangen banget sama Bibi",
"Bibi juga kangen sama kamu Rei, sudah lama kamu ga pernah pulang", jawab Bibiku, aku melihat bibiku meneteskan air matanya,
"Bibiku ko malah nangis , kan Reina udah pulang sekarang", hiburku,
Bibiku pun tersenyum sambil membeli rambutku, lalu mengajak ku masuk ke rumah nya, setelah aku duduk, aku langsung mengaktifkan ponsel ku, dan segera menghubungi Hadi,
Hadi langsung menerima telpon ku,
__ADS_1
"Halo Sayang, kamu udah sampe? ",
"Halo Mas, udah, aku baru aja sampe",
"Tadi dari Stasiun kamu naik apa kerumah?" tanya Hadi khawatir,
"Di jemput Paman Mas",
"Syukurlah",
"Mas Hadi lagi apa?"
"Lagi mikirin kamu Sayang",
Aku tersenyum mendengarnya
"Kamu pasti lagi senyum-senyum", tebak Hadi
"Engga sih, emang ada apa aku senyum-senyum? ", aku mengelak
"Karena denger suara aku", jawab Hadi
"ish.. narsis nya pacar aku ini",
"Calon suami Sayang... ", tegas Hadi,
"Kan masih belum tau kapan nikah nya?", pancing ku,
"Kamu mau nya kapan Sayang, besok? lusa apa sekarang?, kapanpun mau kamu aku siap Sayank" tantang Hadi,
"Ketemuan dulu sama Paman aku Mas",
"Secepat nya Sayang, aku akan melamar kamu",
"Iya Mas, aku akan tunggu kamu melamar aku", Dari dapur terdengar Bibiku memanggil,
"Rei... kesini sebentar Sayang", akupun memberi tahukan Hadi kalo Bibi ku memanggil,
"Mas, aku tutup dulu ya telpon nya Bibi panggil aku, Love you Mas Hadi.. ", Bip, aku langsung mematikan telpon ku, sedangkan Hadi yang mendengarnya tak percaya aku langsung menutup telpon tanpa menunggu jawaban nya, Hadi hanya menggeleng kan kepalanya sambil tersenyum.
Bersambung..
__ADS_1