Dia Yang Mancintaiku

Dia Yang Mancintaiku
Menjadi Istri


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang bersejarah untuk ku, hari ini aku akan menikah, merubah status ku menjadi seorang istri, hal yang dulu sering kali kedua orang tua ku bilang ingin melihatku menikah dan menjadi jadi istri, namun sekarang hal yang mereka inginkan tidak dapat mereka saksikan secara langsung. Tanpa terasa air mataku mengalir mengingat mereka,


" Sayang... kamu kenapa menangis Nak ? ", suara Bibi ku membuyarkan lamunan ku,


" Reina inget Ayah sama Ibu Bi, dulu Ayah sama Ibu sering bilang mereka kepingin banget lihat Reina nikah dan punya anak, tapi sekarang mereka ga ada di sini ", ucapku Pilu sambil menetes kan air mata, lalu Bibi memelukku, dan berkata,


" Kamu jangan bersedih Nak, Bibi yakin mereka juga sekarang ikut menyaksikan dan ikut merasa Bahagia, cuma dengan cara yang berbeda ",


" Iya Bi, owh iya, Bibi lihat Reni sama Dina ga? katanya mau bantuin Reina make up ko blm dateng2, apa mereka belum bangun ya? ", tanyaku, belum sempat Bibi menjawab Reni dan Dina sudah muncul di depan pintu kamar ku,


" Udah dong, kan kita juga perlu make up Rei, emangnya lo doank yang mau keliatan cantik ", jawab Reni sambil berpose seperti model, begitu pun Dina,


" ih... kan yg mau nikah gue Ren, kenapa kalian ikutan make up juga sih, hari ini gue mau jadi cewek yang paling cantik pokok nya gue ga mau tau, kalian harus bikin gue lebih cantik dari kalian", ucapku sambil merajuk.


" Iya.. iya Sayang... hari ini lo bakal gue sama Reni bikin jadi Princess paling cantik di sini, lagian Rei, lo kan udah cantik dari sono nya, ga kek kita yang perlu modal dulu baru bisa cantik ", jawab Dina,


" Apaan sih lo Din, yang ada gue iri banget sama kalian, jago make up, jago rawat diri lah gue, mandi dua x sehari aja udah bersyukur banget, he.. he.. he.. ", kami pun tertawa bersama lalu mereka mulai membantuku bersiap-siap. Kurang lebih 1 jam akhirnya aku sudah selesai bersiap-siap dan menunggu di dalam kamar, Bibi dan Paman menyambut tamu yang mulai berdatangan.


Sementara itu di dalam rumah ku Hadi pun tengah bersiap-siap,

__ADS_1


" Akhirnya Men.. impian lo nikah sama Reina terwujud, sebentar lagi lo bakal jadi Suami Men, lo udah siap belum sama semua tanggung jawab jadi Suami ", tanya Aldo


" Ya pasti siap lah Men, kalo ga siap ga mungkin gue ngebet banget pengen buru-buru nikahin Reina, lo berdua kan tau sejak kapan gue suka sama Reina dan berapa lama gue nunggu Reina, gue ga mau kehilangan Reina lagi ", tegas Hadi,


" Iya kita tau Men, dan kita juga ikut bahagia liat lo bisa nikah sama Reina ", sambung Devan, di saat mereka sedang berbincang, Reni datang menghampiri mereka,


" Di, lo udah siap belum? acaranya udah mau mulai, lo di suruh keluar sekarang ", panggil Reni, lalu Hadi mengangguk dan mereka mengikuti Reni ke rumah Paman.


Jam menunjukkan pukul 9 Pagi, di ruang tamu Paman sudah banyak tamu, perangkat Desa setempat dan penghulu, acara akan segera dimulai dan Hadi sudah duduk di depan penghulu, akupun keluar kamar dan berjalan menuju ruang tamu di apit Reni dan Dina, terlihat para tamu menatapku dan tersenyum, aq mendengar Aldo dan Devan memujiku sangat cantik yang membuatku malu, perlahan aku mendekati meja penghulu, ku lihat Hadi menatapku tanpa berkedip, aku tersenyum manis padanya, tapi dia sama sekali tidak merespon dan masih saja menatap ku.


Ijab Kabul ku berjalan dengan lancar, para tamu pun memberikan selamat kepadaku dan Hadi, tak mau kalah, teman-temankupun menghampiri ku dan Hadi, memberikan pelukan dan ucapan selamat kepadaku dan Hadi, tidak lupa do'a terbaik yang mereka ucapkan. Di saat para tamu sedang menikmati makanan, Hadi berbisik padaku,


" Ko hari ini, berarti kemarin-kemarin aku ga cantik dong Mas ", jawabku sambil mendengus kesal,


" Ya engga dong Sayang, buat aku kamu itu perempuan paling cantik kedua setelah ibuku, cuma aku kan jarang-jarang lihat kamu full make up gini, makanya aku pangling ", jelas Hadi sambil mencubit kedua pipiku gemas, aku pun ternyum mendengarnya, acara kami pun berjalan dengan lancar, tamu-tamu sudah banyak yang pulang,


Setelah acara selesai, aku dan Hadi kembali ke kamar masing-masing dan langsung membersihkan diri dan berganti pakaian, aku sama sekali tidak lelah karena acara hanya beberapa jam dan tamu yang tidak banyak, lalu aku memasukkan baju-baju ke dalam koper karena sebentar lagi kami akan kembali ke Jakarta. Aku, Hadi dan teman-temanku membantu Paman dan Bibi merapikan rumah, aku sangat bahagia melihat dan merasakan suasana seperti ini, banyak tawa dan senda gurau. Kamipun beristirahat setelah rumah Paman rapi dan kembali seperti semula,


" Kalian jadi balik ke Jakarta hari ini juga, apa kalian tidak lelah? ", tanya Paman pada kami,

__ADS_1


" Jadi Paman, kita juga ga capek ko, kita malah seneng bisa bantu-bantu di sini ", jawab Aldo yang mendapat anggukan dari yang lain,


" Baiklah kalo begitu, apa kalian sudah merapikan barang-barang, jangan sampai ada yang tertinggal ", Paman mengingatkan,


" Sudah ko Paman, udah siap semua ", jawab Devan,


" Jadi jam berapa kalian akan berangkat? " tanya Bibi ku, teman-temanku melihat ke arah Hadi menunggu jawaban,


" Jam 4 kami berangkat Bi, apa Paman dan Bibi mau ikut kami ke Jakarta, hitung-hitung liburan di sana ", ajak Hadi


" Kalo sekarang Paman dan Bibi tidak bisa ikut kalian kesana, tapi nanti Paman dan Bibi ada waktu, kami pasti akan ke sana menjenguk kalian ", jawab Paman, lalu Paman menyuruh kami untuk beristirahat sejenak sebelum balik ke Jakarta, kamipun ke kamar masing-masing begitu pun Hadi, tetapi di saat Hadi aku hendak ke kamarku, Paman, Bibi dan teman-temanku menatapku dan merasa heran


" Loh, lo mau kemana Rei? ", tanya Aldo,


" Mau ke kamar gue lah, mau kemana lagi", jawabku,


" Lo gimana sih Rei, lo kan udah nikah sama Hadi, bukan nya lo ikut noh kekamar laki lo, bantuin dia beberes apa gimana gitu ", sambung Devan,


" Oh iya ya.. gue lupa, he.. he.. he.. ", jawabku tanpa bersalah, lalu menghampiri Hadi dan langsung menggandeng tangannya berjalan menuju kamarku di rumahku, teman-temanku menatapku dengen rasa gemas begitu pun Hadi, langsung mengacak-acak rambutku. Mereka pun masuk ke kamar mereka dan mengemas barang-barang mereka.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2