Dialah Matahariku

Dialah Matahariku
Ch. 10. Pertemuan yang ketiga


__ADS_3

Aku dan Alfan akhirnya sampai di pantai yang kami tuju. Semilir angin menyambut kedatangan kami membuat rambutku berantakan. Aku benar-benar menikmati tempat yang belum pernah aku kunjungi ini. Ku hirup udara dengan sekuat tenaga dan aku hembuskan lagi. Benar-benar seperti surganya dunia. Membuat siapa saja yang datang kesini tak ingin pulang.


"Ayo kita nyari kedai sambil jalan-jalan. Kamu haus nggak?" ajak Alfan.


"Aku haus banget. Laper juga. Heheehee.." ucapku sambil tertawa.


Kami berdua duduk di gazebo pinggir pantai. Alfan memesan es kelapa muda dan gurame bakar untuk kami berdua. Aku benar-benar menikmati tempat ini. Warna biru dari lautan yang benar-benar menyejukkan mata serta hamparan pasir putih yang sangat halus ketika kupijakkan kakiku diatasnya. Aku melihat beberapa wisatawan naik kapal perahu yang entah tujuannya kemana, aku tidak tahu. Tapi yang sedari tadi kucari yaitu air terjun yang dikatakan temanku tidak nampak di depan mataku.


"Silahkan ini makanannya," ucap seorang bapak-bapak menyajikan makanan yang kami pesan.


"Pak, mau nanya dong. Mereka itu naik perahu mau kemana sih? Kok banyak banget yang naik perahu," tanyaku penasaran.


"Mereka itu mau Pantai Coban, Mbak. Disana ada air terjun yang airnya langsung mengalir ke pantai. Airnya jernih banget loh. Bahkan air terjunnya rasanya tawar jadi biasanya para wisatawan mandi di bawah air terjun. Kalau disini masih pinggiran pantai." jelas si bapak.


"Kira-kira perjalanannya jauh nggak, Pak?" tanya Alfan.


"Sekitar lima belas menit Mas. Kalian juga bisa kok naik ojek dari sini. Di pinggir sana ada sekumpulan tukang ojek bagi yang takut naik perahu. Tapi jalan kesana kalau naik motor membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit dan jalannya sempit hanya muat untuk satu sepeda motor," ucap si bapak.


"Ya udah makasih ya, Pak," ucap Alfan mengakhiri.


"Gimana, Fa, kamu mau nggak naik perahu?" tanya Alfan.


"Nggak mau, Mas, kita disini aja. Disini pemandangannya nggak kalah bagus kok," tolakku sambil menyeruput minumanku.


"Ya sudah. Tapi aku masih penasaran pingin lihat indahnya pemandangan disana," ucap Alfan.


"Aku sebenarnya juga pingin lihat pemandangan disana. Tapi kan aku takut kalau harus naik perahu," ucapku dalam hati.


"Kenapa Mas Alfan nggak ngajak Elsa? Dia kan sekarang udah berubah jadi makin cantik. Seperti yang Mas Alfan mau," tanyaku penasaran.


"Entahlah aku sendiri juga bingung. Entah kenapa ketika aku bersama Elsa aku merasa nggak nyaman. Hatiku seperti tidak bisa merasakan kehadirannya," jawab Alfan.


Kriiinnnggg... Kriiinnnggg...

__ADS_1


Tiba-tiba handphone-ku berbunyi memutus pembicaraanku dengan Alfan. Aku melihat Dito meneleponku. Aku mengangkat telepon dengan perasaan takut. Aku baru tersadar kalau aku lupa belum memberitahu Dito kalau aku hari ini tidak bisa bertemu dengannya.


"Kamu dimana? Daritadi aku telepon kok nggak bisa-bisa!" bentak Dito marah.


"Maaf, Sayang, aku lupa kalau hari ini aku janjian sama kamu. Ini aku lagi di pedesaan, aku diajak Ibu ke rumah Bibiku," ucapku sambil menjauhi Alfan. Aku takut Alfan mendengarnya.


"Kok kamu nggak bilang-bilang sih. Tahu gitu kan mending aku nggak nungguin kamu. Aku udah luangin waktu buat kamu loh tapi kamu malah ngecewain aku kayak gini!" seru Dito yang sepertinya masih sangat marah.


"Iya sayang maaf aku bener-bener lupa," ucapku merasa bersalah.


"Padahal aku dari tadi nungguin kamu di gang rumah kamu. Bahkan aku sudah mereservasi vila buat kita seharian. Malah handphone kamu susah sekali dihubungi," omel Dito.


"Disini susah sinyalnya. Janji deh aku nggak bakal lupa lagi. Kalau kamu mau ketemu kapanpun itu, aku nggak akan menolak sesibuk apapun aku. Gimana? Jangan marah lagi dong," bujukku.


"Ya sudahlah terserah kamu!" ucap Dito.


Dito pun menutup telepon padahal aku belum sempat mengatakan apapun. Sepertinya dia benar-benar marah, karena baru kali ini aku menolak untuk bertemu dengannya. Aku hanya bisa menghela nafas memikirkan apa yang akan Dito lakukan kepadaku nanti karena Dito adalah lelaki yang memiliki temperamen yang buruk.


"Iya, dia ngambek gara-gara aku lupa kalau hari ini aku ada janji bertemu dengan dia," ucapku lesu.


"Masak laki-laki suka ngambek kayak gitu sih. Nggak ada gentle-nya sama sekali," ucap Alfan.


"Dia dari dulu memang pemarah, mungkin karena tuntutan pekerjaannya yang membuat dia gampang marah," terangku menjelaskan.


"Kalau gitu mending jangan kamu lanjutin deh hubungan kamu sama dia. Kalau misalnya kamu nikah sama orang yang memiliki temperamen yang buruk, kamu bakalan capek sendiri menghadapinya," tutur Alfan menasehati.


"Wanita kan dilahirkan di dunia ini bukan untuk dikasari. Wanita itu rapuh, sekuat apapun wanita berusaha tetap tegar," lanjut Alfan.


"Sok tahu kamu Mas. Kalau kamu tahu wanita itu rapuh kenapa kamu suka mainin hati wanita?" tanyaku.


"Memangnya aku pernah memainkan hati siapa? Pacaran aja nggak pernah kok!" sergah Alfan.


Entah Alfan benar-benar tidak tahu atau dia memang laki-laki yang polos selama ini tidak menyadari sudah menarik ulur hati sahabatku, Elsa dan hatiku juga ikut merasakan terombang-ambing karena dirinya.

__ADS_1


"By the way, lihat disana deh, banyak yang naik perahu loh. Ayo dong aku penasaran pingin kesana," ajak Alfan seperti anak kecil yang keinginannya harus dituruti.


"Nggak mau. Nanti kalau aku mual gimana? Yang lain ajalah jangan naik perahu," tolakku.


"Gimana kalau naik ojek? Ayolah, kita udah jauh-jauh kesini rugi loh kalau nggak melihat air terjunnya," ucap Alfan.


"Nggak mau lah kita disini aja. Kata Bapak tadi jalanannya itu sempit. Gimana kalau sampai berpapasan sama pengendara yang lain?" tanyaku ragu.


"Ya udah kalau kamu nggak mau," ucap Alfan dengan ekspresi sedih.


Aku berusaha mengalihkan perhatiannya agar dia tidak mengajakku kesana lagi dengan memberikan kue-kue yang aku bawa dari rumah dan jagung rebus yang diberikan Ibu Kus tadi.


"Mas Alfan mau kue nggak? Ini aku bikin sendiri loh sama Ibu. Ini juga ada jagung rebus yang diberikan sama Ibu yang kita tolong tadi," tawarku sambil memberikan bungkusan berisi kue dan jagung rebus.


"Wah.. beneran nih kamu yang bikin? Aku cicipi ya," ucap Alfan memakan kue kukus.


"Ini sih enak banget," lanjut Alfan.


"Iya dong. Ibu aku jualan di pasar jadi setiap hari Ibu selalu bikin kue kayak gini," ucapku.


"Kalau gitu kapan-kapan aku pesen boleh ya?" tanya Alfan.


"Boleh banget. Oh iya sebenarnya apa sih yang kurang dari Elsa?" tanyaku yang masih penasaran.


"Aku sendiri juga bingung sama hati aku. Sebenarnya aku sekarang menyukai seseorang, tapi ternyata aku baru tahu kalau orang itu udah punya pacar," jawab Alfan.


Entah kenapa hatiku terasa sakit ketika mendengar Alfan sedang menyukai seseorang. Pasti orang itu rekan kerjanya yang selevel dengan dia.


"Terus sekarang gimana?" tanyaku.


"Ya nggak gimana-gimana. Aku cuma sekedar tertarik saja dengan dia. Di dalam kamus hidupku, mencintai seseorang itu kalau sudah menikah. Kalau belum menikah ya jangan sampai menyukai seseorang dengan berlebihan," jawab Alfan.


Aku kembali takjub dengan ucapan Alfan. Dia benar-benar menjalani hidupnya dengan keren. Aku bahagia bisa mengenalnya meskipun aku tahu aku takkan bisa memilikinya.

__ADS_1


__ADS_2