Dialah Matahariku

Dialah Matahariku
Ch. 16. Taman wisata 1


__ADS_3

"Nih karcisnya, aku pakaikan,ya?" ucap Alfan. Tanpa menunggu persetujuanku, Alfan langsung memakaian gelang karcis ditanganku.


"Kita jadi ketiga tempat, Mas?"


"Iya, karcis ini udah termasuk semua tempat yang bakalan kita kunjungi," terang Alfan. "Ayo!!" ajak Alfan sembari menggandeng tanganku. Aku yang digandeng olehnya hanya bisa tersipu malu.


"Tuh lihat, pandanya besar, ya!" seru Alfan.


"Iya, Mas, lucu. Itu juga koalanya lucu banget, imut deh," ucapku menyetujuinya.


Tiba-tiba saja Alfan mengusap rambutku dengan sayang. Aku yang diusap rambutku, hanya diam melongo, "kenapa dia seperti ini? Apa dia juga menyukaiku?"


"Mas, ayo kita pakai bando itu," tunjukku pada bando-bando yang terpajang di etalase.


"Nggak mau lah, kamu aja," tolak Alfan.


Aku pun pergi membeli bando yang sangat lucu-lucu. Aku memilih bando berbentuk telinga kelinci, dan segera kupakai setelah aku membayarnya.


"Gimana, Mas?"


"Kamu lucu, cantik banget. Cocok banget bandonya buat kamu. Ayo, aku foto kamu."


"Ayo, foto di dekat koala tadi, ya."


Aku dan Alfan pergi untuk memotret beberapa foto menggunakan kamera milik Alfan sambil berjalan-jalan diantara binatang-binatang yang ada disini. Menyenangkan sekali, jika saja Alfan juga memiliki rasa yang sama sepertiku.


Kami menikmati waktu bersama yang kami lalui saat ini. Ketika aku melewati jembatan yang lantainya terbuat dari kaca, aku melihat ke bawah, "tuh lihat di bawah, ada dua singa yang sedang tidur!" seruku terkejut. Aku yang semula tertawa senang, jadi ketakutan. Aku memundurkan langkah kakiku karena aku merasa ngeri berdiri di atas singa-singa itu.


"Kenapa mundur? Ayo, nggak apa-apa, kok. Lagian ini kacanya juga kuat. Kamu nggak bakalan jatuh, kok, asal kamu berhati-hati."


"Tapi ...." ujarku ngeri.


"Udah sini, ayo," ucap Alfan sambil menarik tanganku. Aku pun terpaksa mengikutinya sambil berjalan tergesa-gesa. Kulihat salah satu singa tadi sedang membuka mulutnya lebar-lebar untuk menguap. Terlihat deretan gigi-giginya yang sangat besar dan mulutnya pun juga tak kalah besar.


"Kamu lucu ya, kayak gitu aja takut. Gimana kalau kita pergi kesana," ajak Alfan sambil menunjukkan sebuah tempat bertuliskan Dunia Reptil.

__ADS_1


"Aku nggak mau, mending kita kesana saja," tunjukku pada sebuah tempat bertuliskan Sea World.


"Ya udah ayo, tapi habis itu kita ke tempat reptil, ya."


Ketika memasuki Sea World, aku ternganga melihat betapa luasnya tempat ini. Aku berjalan dengan dikelilingi ikan-ikan yang berenang kesana-kemari di dalam akuarium yang sangat besar.



"Wah.. akuariumnya luas banget. Tuh lihat di atas kamu ada ikan paus lewat!" seru Alfan.


Aku melihat dengan takjub tempat ini. Akuarium yang dibuat setengah melingkar, sehingga siapapun yang memasukinya serasa berada di dalam lautan. Bahkan banyak gerombolan ikan-ikan yang berenang dengan bebasnya karena akuarium yang besar ini.


"Mas Alfan, itu ada ubur-ubur disana. Fotoin aku dong sama mereka," pintaku.


Setelah kami puas berada di dalam Sea World, Alfan menagih janji untuk pergi ke Dunia Reptil.


"Mas Alfan nggak pengen lihat yang disana?" tawarku sambil menunjuk papan nama Museum Anggota Tubuh.


"Nggak mau lah, aku udah sering lihat kayak gituan," tolak Alfan.


"Ayo, kita keluar dari sini."


Alfan yang sedang asyik memotret hewan-hewan itu tidak mengindahkan ajakanku. Aku pun berjalan keluar sendirian. Ketika aku berjalan keluar pun aku masih disuguhi berbagai jenis reptil, seperti kura-kura, buaya, dan komodo. Aku merasa sangat takut jika harus ke tempat seperti itu lagi.


"Kenapa kamu pergi?" tanya Alfan tiba-tiba.


"Aku laper," ucapku beralasan.


"Tapi ini kan masih jam sepuluh pagi. Ya udah ayo kita cari restoran di area sini."


"Ayo." Aku menyetujui ajakannya. "Daripada harus melihat hewan mengerikan, mending aku makan saja", ucapku dalam hati.


Aku memasuki sebuah restoran yang masih dalam satu area taman wisata. Di restoran ini, kami disuguhi pemandangan yang sangat berbeda daripada restoran yang pernah kami kunjungi sebelumnya. Tepat disebelah meja yang kami pilih, terdapat kandang singa. Antara restoran tempat kami makan dan kandang singa, hanya dipisah oleh sebuah kaca besar yang sangat tebal.


__ADS_1


"Wah.. disini pemandangannya bagus ya, Fa. Nggak sia-sia kita jalan kesini," ucap Alfan terkagum melihat singa di depannya.


"Kenapa kamu suka sekali, Mas, hal-hal yang ekstrim begini?" tanyaku penasaran.


"Ya kan biar nggak bosan. Aku dari dulu suka travelling. Naik gunung, naik sepeda bareng-bareng. Asyik loh, Fa, selain bikin badan sehat, bisa kenal teman-teman yang baru sesama traveller."


"Oh gitu, kata Nela, Krish juga suka travelling, kan?" tanyaku penasaran.


"Iya, aku dan Krish kalau ada waktu luang juga sering travelling bareng-bareng. Aku dan dia udah temenan lama loh. By the way, aku baru kali jalan sama cewek, dan aku sangat menikmatinya."


"Emang biasanya gimana, Mas?" tanyaku lagi.


"Biasanya kan cuma makan gitu aja. Baru kamu doang yang mau aku ajak ke tempat aneh-aneh. Seperti kemaren, kita ke Pantai Coban. Aku menyesal banget, loh, nggak bawa kamera waktu kita kesana. Makanya aku nggak akan sia-siakan kesempatan kali ini."


"Tapi janji loh ya, nanti kita pakai baju adat korea, terus kita foto bareng."


"Iya-iya, kamu suka hal yang berbau korea, ya?" selidik Alfan.


"Iya aku suka banget sama hal-hal tentang korea. Cita-cita aku kalau aku sudah banyak uang, aku bakalan pergi ke korea sana," jawabku tersenyum. Ya, itulah mimpiku. Aku suka sekali dengan korea-koreaan. Meskipun belum pernah kesana, tapi aku sudah sering melihat drama korea. Aku juga suka lagu korea, penyanyi dari korea membuatku terinspirasi tentang betapa susahnya mengejar hal diimpikan.


"Mas, kenapa kamu nggak sungkan buat memegang tangan aku?"


"Kamu merasa risih, aku pegang tangan kamu?" tanya Alfan.


"Nggak juga, cuma aku penasaran aja."


"Karena aku sudah menganggap kamu adikku, makanya aku bisa nyaman sama kamu. Kamu bisa bikin aku tertawa lepas, kamu juga membuat hidupku lebih berwarna, tidak monoton seperti sebelumnya. Kamu nggak masalah kan, kalau aku anggap kamu adikku?" tanya Alfan jujur.


Deeegggg....


Terasa ada retakan di dalam hatiku. Jadi selama ini dia hanya menganggapku adik saja? Bukan karena dia menyukaiku, dia mau memegang tanganku? Jadi selama ini, cintaku masih bertepuk sebelah tangan? Kalau begitu ceritanya, aku akan tetap memperjuangkan cintaku.


"Iya nggak apa-apa, Mas. Aku juga akan anggap kamu sebagai kakak aku," tuturku.


********

__ADS_1


note: sumber foto dari google karena novel ini hanyalah imajinasi penulis.


__ADS_2