Dialah Matahariku

Dialah Matahariku
Ch 8. Bertemu Dito lagi


__ADS_3

Kringgg... kriiinnnggg...


Getar di handphone-ku membuyarkan fokusku dari penjelasan sang dosen di depanku. Aku pun mengecek siapa yang menggangguku pada saat aku masih sibuk kuliah seperti ini.


Sayang hari ini kita ketemu ya, aku kangen banget nih sama kamu.


Tertera nama Dito di layar handphone-ku. Ternyata sudah satu bulan aku tidak bertemu dengannya dan hari ini dia ingin menemuiku.


Iya nanti pulang kuliah kita ketemu. Balasku.


Entah kenapa aku seperti malas untuk menemuinya. Tapi aku tidak bisa menolak ajakannya, karena aku juga butuh uang darinya.


Aku tunggu di hotel Emerald kamar no 304. Setelah itu kita bisa jalan-jalan di mall seperti biasa. Naik taksi aja biar cepet jangan naik angkot. Nanti uangnya aku ganti. Balas Dito.


*************


"Makasih ya, Sayang, udah nemenin aku hari ini. Aku bahagia banget, servisan kamu memang yang paling oke," ucap Dito sambil fokus mengendarai mobilnya.


Aku yang sedari tadi fokus melihat jalanan pun merasa terganggu dengan ucapannya. Dia merasa bahagia karena sudah melakukan itu kepadaku berkali-kali seharian ini sedangkan aku merasa sangat kelelahan akibat ulahnya itu. Namun aku bisa apa? Aku hanyalah seorang "baby sugar"nya yang harus membahagiakan dia di atas ranjang ketika dia ingin itu dan sebagai balasannya aku tak perlu lagi kebingungan dengan uang.


"Iya, Sayang, terima kasih juga buat belanjaannya. Kamu nanti mau mampir dulu nggak ke rumah? Sekalian kenalan sama Ibu aku. Ibu aku kan belum pernah ketemu kamu," ucapku mencoba basa-basi.


"Nggak lah nggak usah udah malem juga. Kapan-kapan aja ya," pungkas Dito menolak.


"Oh iya, hari minggu kita ketemu lagi yuk soalnya aku lagi free. Aku masih pingin ngerasain punya kamu itu," lanjut Dito.


"Hari minggu? Lagi?" tanyaku dalam hati.


Entah kenapa aku benar-benar tak ingin bertemu dengannya padahal sebelumnya aku merasa biasa saja ketika bersama dengan Dito.


"Iya, Sayang, terserah kamu saja," ucapku pelan.


Aku pun mencoba memejamkan mataku karena aku merasa benar-benar kelelahan saat ini. Apalagi suara hembusan angin yang menerjang mobil Dito membuatku mengantuk. Namun baru sebentar aku mencoba untuk tidur, handphone-ku malah berbunyi.


"Handphone kamu bunyi tuh. Dari siapa? Coba kamu cek," ucap Dito membangunkanku.


Hari minggu kita ketemu yuk. Aku pingin banget jalan-jalan tapi aku nggak ada temennya.


Ternyata Alfan yang meng-sms aku. Aku pun jadi bingung harus mengatakan apa. Disatu sisi aku bahagia Alfan mengajakku bertemu tapi disisi lain aku sudah ada janji dengan Dito. Ahh... entahlah aku pikir nanti saja.


Kenapa kamu nggak ngajak Elsa saja? Dia pasti mau kalau kamu ajak. Balasku.

__ADS_1


"Udah sampai deket rumah kamu nih. Kita turun disini saja ya," ucap Dito memberhentikan mobilnya.


"Oh iya disini saja. Aku pulang duluan ya. Kamu nggak perlu turun mobil biar aku ambil sendiri belanjaan aku," kataku sambil turun dari mobil.


Handphone-ku berbunyi lagi. Sepertinya itu balasan dari Alfan. Tapi aku saat ini tidak bisa membalas smsnya karena aku merasa kewalahan dengan barang belanjaanku sendiri.


**********


Kriiiinnnngggg... krriiiinnnggg...


Handphone yang berada disampingku berbunyi membangunkan aku yang baru saja tertidur lima belas menit yang lalu. Aku yang tidak ingin bangkit dari tidurku terpaksa harus mengangkat telepon yang terus menerus berbunyi.


"Halo ini siapa? Ada perlu apa ya?" angkatku tanpa melihat layar di handphone siapa yang menggangguku itu.


"Ini aku, masak kamu nggak nyimpan nomor aku sih," protes laki-laki dibalik telepon.


"Sebentar.. Oh ternyata Mas Alfan. Kenapa, Mas?" tanyaku setelah aku melihat nama Alfan yang tertera di handphone.


"Gimana, kamu mau nggak hari minggu ketemu?" tanyanya.


"Ketemu dimana?" tanyaku balik.


"Memang kemana Elsa, kok malah ngajak aku? Coba deh Mas ajak Elsa dulu atau aku saja yang nanyain ke dia buat ketemu sama kamu?" tanyaku baik-baik. Tentu saja aku harus merekomendasikan sahabatku itu karena dia sangat ingin mendekati Alfan.


"Dia sibuk. Kalau kamu nggak mau ya sudah. Maaf kalau sudah ganggu kamu malam-malam gini," ucap Alfan marah dan sepertinya dia benar-benar banyak pikiran.


"Ya udah aku mau deh nemenin kamu buat jalan-jalan. Gimana kalau kita ke pantai Coban, disana cocok banget buat nenangin pikiran yang suntuk," tawarku.


"Memang kamu pernah kesana?" tanya Alfan.


"Belum pernah. Tapi kata temenku yang udah pernah kesana, disana ada air terjun yang langsung mengalir ke pantai loh. Udah gitu pantainya bening banget. Aku sebenarnya sudah lama pengen kesana, tapi selalu saja aku sibuk. Kalau kamu mau kita bisa kesana hari minggu," ucapku meyakinkan.


" Ya sudah kalau gitu aku jemput di rumah kamu ya hari minggu pagi," tutur Alfan menyetujuiku.


"Oke siap. Nanti aku share lokasi rumah aku ke whatsapp kamu. Apa aku ajak sekalian Elsa sama Nela? Kamu bisa ajak Krish biar rame," ucapku yang masih berusaha mendekatkan Elsa dengan Alfan.


"Nggak usah! Kita kesana berdua aja, kalau rame-rame bukannya pikiran jadi tenang malah makin sumpek nanti," ucapnya dari balik telepon.


"Ya sudah kalau gitu. Aku mau ngelanjutin tidurku. Aku capek banget hari ini," ucapku mengakhiri percakapan.


*********

__ADS_1


"Bu, aku minta kue basahnya sedikit dong buat bekal hari ini," ucapku memohon.


"Memangnya kamu mau kemana? Ibu kira kamu bakal bantuin Ibu jualan hari ini," kata ibu sedikit kecewa.


"Temenku ngajakin aku ke pantai, Bu. Jadi aku nggak bisa nemenin Ibu jualan hari ini. Maaf ya, Bu," ucapku sambil mengambil beberapa kue milik ibu.


"Ya sudah kamu jangan lupa sarapan dulu ya sebelum berangkat. Ibu udah masakin ayam goreng. Mandi dulu sana biar wangi!" perintah ibu.


Toookkkk ... ttoookkk... tooookkk...


Aku yang sedang makanpun dikejutkan dengan suara ketukan pintu. Bagaimana kalau ternyata itu Bu Retno? Padahal kan aku belum mempersiapkan apapun untuk diperlihatkan padanya.


"Biar Ibu saja yang bukain pintu, kamu lanjutkan saja makannya," ucap ibu. Aku pun menuruti ucapannya.


"Siapa ya? Ada perlu apa kamu kemari?" tanya ibu.


"Saya Alfan Bu, apa benar ini rumahnya Shifa?" tanya Alfan.


"Oh iya benar silahkan masuk," ucap ibu.


"Shifa, ada Nak Alfan yang nyariin kamu tuh!" teriak ibu.


Aku pun segera menghentikan kegiatan makanku dan membuatkan minuman untuk Alfan. Tradisi di tempat kami kalau ada tamu yang masuk, baik itu tamu dari jauh atau yang dekat sekalipun harus dibikinkan minum terlebih dahulu.


"Ada perlu apa ya dengan Shifa?" tanya ibu lagi.


"Begini, Bu, saya izin mau mengajak Shifa jalan-jalan ke pantai apakah boleh? Karena nanti kalau ke pantai pasti pulangnya kemalaman apa nggak apa-apa, Bu?" tanya Alfan baik-baik.


Aku yang datang membawakan minumannya merasa bergetar jantungku.


"Ibu mengijinkan asal kalian hati-hati ya disana. Tolong jaga Shifa baik-baik ya, Nak," tutur ibu.


"Pasti, Bu, Shifa akan saya jaga baik-baik karena saya yang membawanya," ucap Alfan setuju.


"Kalau begitu silahkan diminum tehnya dulu sebelum kalian berangkat. Shifa, kamu lanjutkan makan dulu sana," suruh ibu.


"Tahu aja ibu kalau aku memang belum selesai menghabiskan sarapanku," ucapku dalam hati.


"Ya udah aku permisi dulu ya, Mas," pamitku.


"Iya," jawab Alfan.

__ADS_1


__ADS_2