
Sudah satu jam aku dan Alfan mengendarai sepeda motornya untuk pergi ke pantai Coban tapi belum juga sampai. Memang jarak dari pantai ke tempat tinggalku sangat jauh sekitar dua jam perjalanan apabila naik motor, kalau naik mobil pasti lebih lama lagi. Tapi meskipun begitu aku merasa sangat senang karena pemandangan ketika motor sudah memasuki pedesaan sangatlah indah. Hamparan hijau dedauan mengiringi perjalanan kami yang terus melaju ke arah tujuan kami. Aku menghirup udara dengan sangat perlahan berharap aku bisa tinggal di tempat seperti ini suatu hari nanti.
"Masih jauh lagi ya tempatnya?" tanya Alfan memelankan laju sepeda motor agar aku bisa berbincang dengannya.
"Kayak iya deh, Mas, ini masih baru masuk di kecamatannya belum ke desanya. Menurut papan petunjuk arah yang barusan aku lihat masih 30 kilometer lagi," jawabku.
"Kamu mau istirahat dulu nggak? Kalau capek kita bisa beli makanan dulu sekalian istirahat," tawar Alfan.
"Nggak usah, Mas, kita istirahat disana saja. Aku penasaran lihat pemandangan pantainya yang kata temenku bagus banget," tolakku sopan.
"Ya udah kalau begitu kamu pegangan yang erat dong biar aku bisa ngebut. Aku kesulitan menyetir sepeda motor kalau kamunya nggak pegangan. Takutnya ntar kalau aku ngebut kamu jatuh lagi," ucap Alfan.
Aku pun mengikuti instruksinya untuk memengang pinggangnya. Pinggang yang dia miliki benar-benar datar seperti orang yang sering fitness. Entah dia serius dengan ucapannya barusan atau dia hanya menggombaliku saja tapi ucapan itu sukses membuat jangtungku berdegup kencang. Bahkan lebih kencang daripada angin yang saat ini menghantamku karena Alfan melajukan sepeda motornya dengan kecepatan yang lebih tinggi daripada tadi.
"Pelan-pelan, Mas, kita hampir sampai. Jalanannya bikin perutku sakit," ucapku ketika aku melihat papan tanda arah yang mengatakan kalau pantai coban tinggal 10 kilometer lagi.
Karena jalanan disini masih terjal? aku merasa perutku seperti kram. Alfan pun mengikuti ucapanku untuk menurunkan laju sepeda motornya. Samar-samar aku melihat betapa birunya laut yang ada disana. Benar-benar hamparan warna biru yang mampu memanjakan mata siapa saja yang melihat. Tiba-tiba dia menghentikan motornya padahal tinggal sebentar lagi kami sampai di pantai. Ternyata dia menghampiri wanita tua yang sedang berjalan menggendong tumpukan kayu di atas badannya dan menggandeng anak laki-laki yang masih kecil disampingnya.
"Bu, mau aku antar nggak?" tawar Alfan kepada si wanita tua itu.
"Nggak usah, Nak, nggak perlu repot-repot," jawab si wanita tua.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok, Bu, kita nggak merasa ngerepotin. Kasihan aku lihat Ibu bawa barang berat begini. Ayo biar Ibu sama adik ini cepat sampai. Disini kayaknya pemukiman rumah masih jauh," ucap Alfan.
"Iya, Bu, kasihan juga adiknya kalau jalan jauh-jauh. Ibu tenang saja kita bukan orang jahat kok," ucapku meyakinkan sang ibu.
"Terus kalau Ibu ikut, lalu gimana dengan kamu?" tanyanya padaku.
"Aku tunggu disini saja nggak apa-apa, Bu," jawabku.
Aku pun bingung bagaimana jika aku ditinggal sendirian disini, dari tadi kami hanya melewati pepohonan dan tidak terlihat satu pun rumah warga.
"Ya sudah kalau kalian memaksa, kamu tolong bawakan saja kayu ini. Biar anak Ibu berboncengan di depan. Dia bisa menunjukkan jalan ke rumah Ibu. Iya kan, Antok?" ucap si wanita tua.
"Iya, Bu," jawab si anak kecil yang ternyata bernama Antok.
"Nak, kamu namanya siapa? Kalau saya, panggil saja Bu Kus. Terus rumah kalian dimana? Pasti kalian bukan orang sini," tanya si wanita itu sambil berjalan disampingku.
"Saya Shifa, Bu, dan yang tadi namanya Alfan. Iya kita datang kesini mau jalan-jalan ke Pantai Coban. Kami sebenarnya orang kota," jelasku sopan.
"Kalian pasangan suami istri ya? Kalian kelihatan cocok sekali. Beruntung sekali Nak Shifa memiliki suami yang baik hati seperti Alfan," puji Ibu Kus.
"Bukan, Bu, kita belum nikah. Kita cuma temenan. Tapi bener kata Ibu, dia memang orang yang baik, aku aja nggak kepikiran kalau dia bakal nyamperin Ibu tadi. Oh iya, Bu, kok tadi menggendong tumpukan kayu sendiri sih. Memang dimana suami Ibu?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Suami Ibu ada di ladang. Ibu tadi mengikuti suami Ibu. Karena hari sudah siang, Ibu dan Romi pun pulang duluan. Bagi orang kota seperti kalian, mungkin melihat Ibu yang mengangkat kayu banyak seperti tadi merupakan hal yang tabu. Tapi bagi kami warga di desa sini, hal itu sudah biasa. Bahkan anak SD pun sudah biasa membantu orang tuanya juga," ucap Ibu Kus santai.
"Beneran, Bu? Apa nggak capek semua badannya? Aku saja yang hanya duduk membantu Ibuku bikin kue saja sudah lelah," ucapku heran.
"Mungkin sudah terbiasa kali ya, jadi kami semua nggak ada yang mengeluh capek. Jadi kamu pandai bikin kue dong?" tanya Ibu Kus.
"Dikit-dikit sih bisa, Bu. Tuh Mas Alfan udah dateng. Ayo Bu kita naik," ajakku.
Aku benar-benar salut dengan Alfan. Dia tidak gengsi menawarkan bantuan ketika melihat ada seseorang yang kesusahan.
"Mampir dulu yuk, Ibu buatin minuman buat kalian," ucap Ibu Kus.
"Nggak usah, Bu, jangan repot-repot, kami takut kesiangan sampai pantainya kalau mampir dulu," ucap Alfan.
"Pantainya deket kok dari sini. Tinggal ikutin aja jalan itu. Lima menit juga sampai," ujar Ibu Kus.
"Kita berangkat dulu ya, Bu. Ini uang sedikit buat Antok. Mohon diterima ya, Bu," ucapku sambil menyodorkan uang seratus ribuan tiga lembar.
Sebenarnya Ibu Kus sempat menolak uang yang aku kasih, tapi aku beralasan kalau uang ini bukan buat Ibu Kus tapi buat Antok, anak ibu kus. Ibu Kus pun menerima uang itu dengan ucapan terima kasih dan tak henti-hentinya Ibu Kus mendo'akan kami berdua. Dan Ibu Kus membawakan beberapa jagung rebus buatannya.
"Kamu baik juga ternyata," puji Alfan sambil fokus mengendarai sepeda motor.
__ADS_1
"Kamu tuh yang baik banget. Aku kan cuma ngikut kamu aja," ucapku jujur.
Ya, selama ini aku tidak pernah memikirkan untuk berbuat baik kepada siapapun. Yang aku pikirkan hanyalah aku sendiri dan ibuku. Setelah mendengar do'a-do'a yang terucap dari mulut Ibu Kus, aku jadi heran. Aku yang hanya memberikan uang sedikit saja dia mendo'akanku begitu banyaknya. Mulai dari kesehatanku, rejekiku, sampai jodohku pun tak luput dari do'anya. Sepertinya aku harus lebih memperhatikan orang yang membutuhkan disekitarku. Entah kenapa setiap aku bersama Alfan, aku belajar hal-hal yang baru bagiku. Dia benar-benar memperlihatkanku tentang kehidupan ini dan aku berterima kasih dengannya.