
"Kemaren kamu pulang jam berapa, Fa? Ibu tunggu kamu kok nggak pulang-pulang, sampai Ibu ketiduran," selidik ibu yang sedang makan bersamaku.
"Jam 12, Bu. Soalnya aku sama Alfan mencoba hampir semua wahana yang ada disana. Sampai-sampai kami nggak nyadar kalau udah malem."
"Jangan sering pulang malem loh, Fa. Anak perawan nggak boleh sering-sering pulang malem. Apalagi kalau sama laki-laki, kalau kamu diapa-apain bagaimana?" ceramah ibu yang khawatir dengan anak satu-satunya.
"Alfan mana berani ngapa-ngapain Shifa, dia itu laki-laki yang sholeh kok, Bu. Pacaran aja nggak mau," jawabku yang sudah mengenal sifat Alfan.
"Oh gitu, memang pekerjaan dia apa, Fa? Dia nggak mungkin kan mahasiswa di kampusmu? Kebanyakan teman mahasiswamu itu gaya bicaranya nggak seperti Alfan yang sopan dan pembawaannya berwibawa."
"Ibu ngeledek temen-temenku ya. Ibu belum aku ceritain tentang Alfan, ya. Alfan itu profesinya sebagai dokter orthopedi, Bu, di Rumah Sakit Harapan Bunda. Selain jadi dokter, katanya sih dia juga wakil direktur di rumah sakit itu," terangku dengan sibuk melahap ikan pepes masakan ibuku.
"Oh... kalian pacaran ya?" tanya ibu lagi.
Aku yang sedang asyik makan tiba-tiba terbatuk-batuk mendengar pertanyaan ibu yang langsung pada intinya. Kuminum minuman di depanku dengan sangat banyak sebelum aku menjawab pertanyaan ibu. Akibat tersedak tadi, aku jadi merasa kenyang karena terlalu banyak minum.
"Kita nggak pacaran, Bu. Kan Shifa tadi udah bilang kalau Alfan itu punya prinsip, bahwa dia nggak mau pacaran."
"Kamu suka ya sama Alfan? Kenapa nggak ta'aruf aja, Fa. Ibu setuju kok kalau kamu mau menikah dengan Alfan."
"Ibu... Alfan itu nyari calon istri yang sholehah. Ibu kan tahu sendiri kalau aku jarang sholat dan nggak pernah pakai jilbab."
"Kenapa nggak kamu coba mulai dari sekarang? Ibu kan juga udah sering menasehati kamu supaya kamu itu harus sholat setiap waktu. Sholat itu cuma lima menit loh, Fa. Kamu juga udah dewasa gini masak harus Ibu marahin terus."
Aku mulai capek mendengar ceramah ibu. Ibu memang sedari dulu selalu menyuruhku untuk sholat. Bahkan ketika aku kecil, aku sering dipukul pakai rotan kalau aku tidak mau sholat. Mungkin sekarang ibu udah capek menasehatiku. Dan hampir tidak pernah ibu menceramahiku semenjak aku masuk perguruan tinggi.
"Iya Ibuku yang cantik. Nanti kalau Shifa dapat hidayah dari Allah, Shifa bakalan sholat kok. Shifa juga bakalan pakai jilbab biar Ibu nggak ceramah lagi."
Setelah mengucapkan hal itu, aku pun kabur ke kamar mandi. Aku lelah jika pagi-pagi sudah diceramahi ibuku. Apalagi hari ini jadwal kuliahku full seharian.
"Shifa berangkat dulu ya, Bu," pamitku kepada ibu.
"Iya kamu hati-hati. Jangan nunggu hidayah datang. Kalau hidayah dari Allah nggak kamu jemput, kamu nggak bakalan bisa berubah." Lagi-lagi ibu menceramahiku tentang omongan pagi ini.
"Ya, Bu," jawabku lesu.
__ADS_1
"Oh iya, pulangnya jangan kemaleman. Nanti Bu Retno mau kesini."
"Ngapain?" tanyaku.
"Loh kan dia mau ngelihat foto-foto tas yang kamu jual."
"Ya ampun, Bu, aku lupa. Ya udah Shifa berangkat dulu. Assalamu'alaikum, Bu."
"Wa'alaikumsalam."
*******
"Elsa, aku minta link website yang biasa jual tas tempat langganan kamu dong?" pintaku.
"Buat apa, Fa? Kamu kan kalau beli tas biasanya juga ke mall."
"Aku pingin nyoba jualan online. Mumpung temen Ibuku ada yang nyari tas."
"Tumben kamu mau ribet jualan online segala. Memangnya si duda itu udah nggak mau ngasih uang?"
"Nih, Fa, aku biasanya beli disini. Harganya relatif murah kok. Cocok buat kantong remaja kayak kita."
"Makasih ya, Elsa sayang."
"Lihat dong, kayaknya bagus juga. Nggak kalah sama yang dijual di mall," tutur Nela.
"Iya disini bagus-bagus. Harganya mulai dari seratus ribuan sampai jutaan, tergantung mau beli yang mana. Barangnya juga selalu up to date. Malahan kita tinggal tunggu dirumah, barang langsung nyampek," jelas Elsa panjang lebar.
"Wah.. asyik dong! Aku juga mau pesen lah kalau gitu," seru Nela.
"Pesen di aku aja, Nel. Aku cuma ngambil untung dua puluh ribu kok, hehehee...." Aku berusaha mengambil kesempatan. Lagipula untungnya juga nggak banyak, tapi lumayan kalau dua puluh ribu dikali beberapa orang.
"Kamu itu, Shifa, bisa aja nyari keuntungan. Ya udah aku pesen yang ini ya. Kamu totalin aja nanti aku transfer."
"Siap bos!" seruku senang.
__ADS_1
"Eh, guys, lihat nih instagram Alfan. Kayaknya dia habis liburan deh!" teriak Elsa.
"Mana, mana, lihat!" serbu Nela dan aku.
Di foto yang Alfan posting, terlihat wahana-wahana yang kami naiki kemaren. Ada juga beberapa foto hewan-hewan yang berada di taman wisata. Juga Alfan memposting foto ketika makan di restoran yang disebelahnya ada singa.
Bersyukurnya, dia hanya memposting foto dirinya sendiri tanpa ada aku. Kalau tidak, bisa ketahuan kalau kami kemaren pergi kesana berdua. Tapi anehnya hatiku, selain aku bersyukur, disatu sisi aku juga sedikit merasakan cemburu karena dia tak memposting fotoku. Sepertinya dia ingin ada yang tahu kalau aku dekat dengannya.
"Kayaknya ini di Taman Wisata, deh. Tuh lihat restorannya ada singanya," kata Nela.
"Tapi sama siapa ya Alfan kesana?" tanya Elsa penasaran.
"Kalau nggak sama temen-temennya, pasti sama keluarganya. Kan kalau ke Taman Wisata itu paling cocok buat rame-rame," ucapku.
"Minggu kemaren Alfan juga posting lagi jalan-jalan. Tapi aku nggak tahu dimana. Kayaknya sih lagi di wisata yang ada air terjunnya gitu. Kalian tahu nggak dimana?" selidik Elsa.
Aku dan Nela saling menggeleng kepala tidak tahu. Aku baru ingat, waktu aku dan Alfan jalan ke Pantai Coban, Alfan sempat memintaku memfotonya di bawah guyuran air terjun. Ternyata dia mau memposting foto ini untuk dibagikan di laman instagramnya.
"Kayaknya itu tempat yang jauh deh. Mungkin di luar kota," jawabku pura-pura.
"Oh iya, Shifa, minggu kemaren kamu kemana? Aku sempat mampir ke rumah kamu, tapi rumah kamu kosong nggak ada orang. Aku kira kamu lagi bantuin Ibumu jualan di pasar, tapi kata tetangga kamu, kamu lagi jalan sama cowok berangkat pagi-pagi sekali. Memang kemana?" tanya Nela seperti sedang menginterogasiku.
Aku sempat kaget ketika Nela tiba-tiba bertanya seperti itu. Aku yang sedang mencoba berbohong untuk menutupi kedekatanku dengan Alfan, serasa was-was takut ketahuan.
"Inget nggak cowok yang aku ceritain yang bilangnya nyari wanita sholehah? Dia ngajakin aku jalan, makanya hari minggu kemaren aku nggak ada di rumah." Sepertinya berbohong membuatku kecanduan. Setiap kali aku mencoba menutupi hubunganku dengan kebohongan, aku akan terus menerus mencoba berbohong lagi.
"Memang kamu mau jadi wanita sholehah yang berjilbab kayak Elsa?" tanya Nela.
"Kenapa sih Nela kalau bertanya selalu langsung pada intinya? Aku berasa seperti diinterogasi karena telah melakukan kesalahan yang sangat besar," gumamku dalam hati.
"Setelah aku putus dengan Reno, aku mau mencoba berubah jadi wanita yang lebih baik lagi. Makanya aku bersiap-siap buka online shop supaya ketika aku putus dengan Dito, aku sudah punya penghasilan sendiri meskipun nggak banyak," ucapku jujur.
"Wah.. bagus dong, Fa. Aku akan dukung kamu biar kamu jadi wanita yang lebih baik lagi," ungkap Elsa.
"Iya, aku juga dukung kamu kok. Semoga dengan kenal laki-laki yang baru ini, kamu bisa menjadi yang lebih baik lagi. Nggak pacaran mulu," sindir Nela.
__ADS_1
Mungkin jika mereka tahu yang aku maksud adalah Alfan, mereka berdua pasti murka. Sebenarnya aku tak ingin mengkhianati persahabatanku ini, akan tetapi hatiku tidak bisa didustai lagi. Aku masih akan tetap perjuangkan Alfan.