Dialah Matahariku

Dialah Matahariku
Ch. 27. Setelah Alfan, kini Dito


__ADS_3

"Kamu mau aku anterin pulang dulu atau langsung ke kampus?" tanya Alfan.


Aku berpikir-pikir apakah sebaiknya aku pulang, tapi pastinya aku bakalan telat kalau aku pulang ke rumah terlebih dahulu. Ataukah sebaiknya aku langsung ke kampus saja, tapi aku bakalan kerepotan dengan membawa barang belanjaanku sambil kuliah.


"Kita pulang ke rumah dulu aja, Mas." Aku memutuskan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu. Karena Alfan membelikanku banyak barang, aku pasti bakalan kerepotan nanti kalau harus membawa barang belanjaan ke kampus. Apalagi nanti teman-teman di jurusanku bakalan penasaran dengan bawaanku.


Setelah aku menaruh barang belanjaanku, aku pun buru-buru masuk ke dalam mobil Alfan lagi. Karena waktu sudah mepet jam masuk kuliah.


"Kamu langsung berangkat, Shifa?" tanya Ibu.


"Iya, Bu, Shifa hampir aja telat nih," ucapku pamit. Mobil pun melaju meninggalkan rumahku.


Kriinngg ... krriiinngg ....


Kulihat di dalam tasku, handphone-ku berbunyi dengan sangat nyaring.


"Dari siapa, Fa?" tanya Alfan.


"Dari Elsa, Mas, aku angkat ya?" tanyaku sopan.


"Angkat aja, nggak apa-apa kok. Siapa tahu Elsa mau ngomong penting," ujar Alfan yang fokus menyetir mobil.


Aku pun mengangkat telepon dari Elsa. Pasti Elsa dan Nela sedang mencariku karena aku belum sampai di kampus.


"Halo, Sa, ada apa?" tanyaku memulai pembicaraan.


"Kamu bolos kuliah ya?" selidik Elsa.


"Nggak kok. Aku cuma agak telat kayaknya. Bilangin ke dosen ya kalau aku sedikit telat."


"Serius nih? Aku kira kamu lagi jalan sama Pak Direktur itu?"


"Ah, benar juga, hari ini aku juga ada janji mau ketemu sama Dito." Aku memelankan suaraku, "Nanti habis pulang kuliah. Semoga saja pulangnya nggak kemaleman."

__ADS_1


"Ya udah kamu hati-hati di jalan ya. Nggak usah ngebut meskipun terlambat." Elsa menutup teleponnya.


"Maaf, Elsa, kalau kamu tahu aku sekarang dianterin sama Alfan, kamu nggak bakalan mengkhawatirkan aku seperti ini," gumamku. Menikung orang yang disukai sahabat sendiri itu sangat tidak nyaman. Setiap hari aku merasa bersalah karena kedekatanku dengan Alfan. Tapi jika disuruh untuk menjauhi Alfan, hatiku juga akan memberontak. Karena rasa cinta yang kumiliki saat ini tidak bisa dihapuskan begitu saja.


"Memang kamu mau kemana sepulang kuliah?" Pertanyaan Alfan sukses membuatku mati kutu. Bagaimana aku menjawabnya. Jika aku jujur, aku takutnya akan diceramahi lagi sama Alfan.


"Ada janji sama temen ke mall. Mau nyariin kado buat adiknya yang bentar lagi berulang tahun." Aku memutuskan untuk berbohong kepada Alfan. Meskipun alasan yang aku berikan terdengar mustahil, tapi semoga saja Alfan tidak curiga.


"Ke mall lagi? Memangnya kamu nggak capek?"


"Ya mau gimana lagi, Mas. Aku udah terlanjur janji sama temen aku." Lagi-lagi aku harus membuat alasan.


"Ya udah. Tapi kamu jaga kesehatan ya biar nggak gampang sakit." Tak dapat dipungkiri, perhatian yang Alfan berikan, sukses membuatku tak ingin menjauh darinya. Dia tahu bagaimana membuat wanita bahagia bila berada di dekatnya.


Setelah mobil milik Alfan berhenti di depan kampus, aku pun keluar dari mobil itu. "Aku pergi dulu ya," pamitku.


"Yang serius loh ya kalau belajar."


"Maaf, Pak, saya terlambat."


"Ya sudah nggak apa-apa, kamu boleh masuk." Untung saja dosenku yang satu ini bukan dosen yang killer. Jadi aku tak ditanyai macam-macam atas keterlambatanku.


Selama pelajaran, aku tidak bisa fokus karena terus kepikiran senyum Alfan. Mungkin cintaku sudah tak dapat dibendung lagi. Aku sangat menyukai bagaimana Alfan memperlakukanku sebagai seorang wanita. Meskipun aku hanya dianggap sebagai adik olehnya, tapi aku bahagia bisa dekat dengannya.


Kamu nanti pulang jam berapa? Aku tunggu kamu di Cafe dekat kampus kamu.


Pesan dari Dito terpampang di layar handphone-ku. Sepertinya kali ini aku harus menemuinya, karena jika tidak, aku tidak akan dapat jatah uang lagi. Meskipun kemaren aku sudah dibuat kewalahan olehnya, tapi aku tetap akan menemuinya. Semoga saja kali ini dia bermain tidak seagresif kemaren.


Bel pulang kuliah berbunyi, itu tandanya aku bisa segera menemui Dito. Aku hanya bisa berharap malam segera berlalu. Karena jujur saja, jika karena uang yang diberikan Dito, aku sudah nggak akan mau lagi menemuinya. Setelah dipikir-pikir lagi, menjalin hubungan dengan pria berumur bukanlah ide yang baik untukku. Apalagi aku masih berumur dua puluh tahunan yang tentunya aku masih sangat muda.


"Shifa, kita pulang dulu ya. Besok jangan lupa kalau ke kampus, bawain kita oleh-oleh," kata Nela yang diamini dengan anggukan oleh Elsa.


"Iya-iya, kalian pulang aja dulu. Aku mau ke cafe sebelah. Dito udah nungguin di sana."

__ADS_1


"Oke, sampai ketemu besok," ujar Elsa. Mereka pun pergi meninggalkanku sendirian. Dan aku mulai melangkahkan kakiku untuk menemui Dito.


Setelah sampai di cafe, kulihat Dito sedang sibuk dengan tabletnya. Sepertinya menyangkut pekerjaan yang tidak bisa dia tinggal. Aku pun menghampiri meja tempat duduknya.


"Maaf, kamu udah nunggu lama," kataku.


"Nggak apa-apa kok. Kamu udah selesai kuliahnya?"


"Sudah kok."


"Ya sudah kalau begitu ayo kita pergi sekarang." Aku pun mengekori Dito yang sedang berjalan. Untung saja, tidak ada mahasiswa yang aku kenal singgah di cafe ini. Kalau tidak, bisa-bisa reputasiku di kampus bisa hancur kalau aku ketahuan jalan dengan om-om duda.


"Sayang, kenapa tumben banget hari ini kamu libur?" tanyaku penasaran.


"Aku cuma capek aja sama rutinitasku di kantor. Makanya hari ini aku pingin jalan sama kamu, meskipun kemaren kamu sudah layani aku," ujar Dito sambil fokus menyetir mobilnya.


"Apa hari ini aku harus layani kamu juga? Kenapa sih kita tiap kali ketemu selalu berakhir ke hotel?"


"Maksud kamu apa?" tanya Dito.


Sepertinya aku salah ngomong. Aku takut jika omonganku barusan memancing kemarahan Dito. Karena Dito mudah emosi, aku harus berusaha meredamnya sebelum dia menggauliku dengan kasar lagi.


"Aku cuma capek aja karena banyak sekali tugas yang diberikan dosenku tadi," jawabku dengan nada pelan.


"Terus kamu ingin kita gimana?"


"Bisa nggak hari ini kita nggak usah ke hotel. Kita makan aja yuk ke restoran, habis itu kita pulang," saranku.


"Nggak bisa. Aku sedari kemaren sudah membayangkan kalau akan bercinta dengan kamu lagi. Jadi hari ini, kamu harus mau melayani aku. Kamu nggak mau? Nanti aku tambah deh uang jajan kamu sebagai ganti hari ini."


"Ya udah deh," jawabku setengah hati. Mendengar uang yang akan diberikan kepadaku, membuat nyaliku untuk menolaknya menciut. Aku saat ini memang membutuhkan banyak uang untuk keseharianku kuliah. Aku tak ingin hidup kekurangan uang lagi seperti saat aku SMP dulu. Karena dulu aku pernah hidup sangat miskin dengan Ibuku.


"Maafkan aku, Bu, belum bisa berubah menjadi wanita baik-baik. Aku hanya tidak ingin masuk ke dalam jurang kemiskinan lagi," gumamku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2