
"Hari ini kenapa kamu kasar banget, Sayang? Aku sampai kewalahan menghadapi permainan kamu," tuturku. Aku sempat ketiduran sebentar karena mengikut permainan Dito yang hampir dua jam.
"Itu sebagai balasan karena kamu ingkari janjimu untuk bertemu denganku waktu itu."
"Kenapa begitu? Aku kira kamu udah nggak marah sama aku."
"Kata siapa? Kamu kan tahu sendiri kalau aku sibuk banget, kenapa kamu malah pura-pura sibuk begitu ketika aku ada waktu?" Dito berbicara sambil mengenakan pakaiannya kembali. Sepertinya dia baru selesai mandi. "Sudah, kamu mendingan mandi dulu. Ini sudah hampir jam sembilan malam."
"Seriusan?!" Aku melihat jam di handphone-ku tak percaya. Benarkah aku tidur selama itu? Lalu apa alasanku kepada ibuku saat ini? Aku pun bergegas pergi ke kamar mandi tanpa mengenakan sehelai benangpun di tubuhku.
*****
"Terima kasih ya sudah antar aku sampai rumah. Kamu nggak mampir ke rumahku dulu?" tanyaku sopan
"Nggak lah, udah malem juga. Besok aku jemput kamu di kampus seperti tadi."
"Lagi?!" Aku benar-benar terkejut dengan perkataannya barusan.
"Iya, besok aku pingin seharian libur. Kalau bisa besok kamu bolos aja kuliahnya. Nanti uang jajannya aku tambah lagi deh."
"Apa?! Dia mengatakan ingin bertemu lagi dengan entengnya? Padahal milikku saja masih kesakitan sampai saat ini, gara-gara ulahnya tadi," tuturku dalam hati.
"Lihat besok ya. Aku pulang dulu kalau gitu. Bye." Aku bergegas turun dari mobil milik Dito segera. Akan ku pikirkan nanti bagaimana hariku esok. Yang harus aku pikirkan sekarang, bagaimana aku beralasan kepada ibuku.
"Assalamu'alaikum, Bu." Aku membuka pintu sambil bergumam pelan, "Sepertinya rumah terlalu sepi, mungkin Ibu sudah tidur."
"Shifa, kamu sudah pulang?" Suara ibu mengagetkanku karena tiba-tiba ibu ada di belakangku. "Astaghfirullah, Ibu ...!" jeritku sambil memegangi dadaku yang hampir saja melompat.
"Ibu dari mana?" tanyaku balik.
"Dari pengajian di rumah tetangga. Kenapa kamu baru pulang? Habis jalan lagi ya dengan Alfan?" selidik Ibu. Aku pun mengekori ibu yang sudah masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Nggak, Bu, tadi Nela sama Elsa ngajakin aku jalan. Nih aku beliin martabak telur buat Ibu." Untung saja aku sempat mampir ke pedagang di pinggir jalan. Setidaknya ibu nggak akan terlalu marah dengan keterlambatanku.
"Ya sudah. Kamu sudah makan belum? Tadi Ibu sudah masak buat kamu. Mungkin sekarang udah dingin makanannya. Kalau kamu mau, Ibu akan hangatin lagi masakannya," tawar ibu.
"Iya, Bu, Shifa laper banget. Tadi Shifa nggak sempet makan." Perutku saat ini memang kelaparan. Benar-benar kejam si Dito itu, setelah dia menggagahiku dengan brutalnya, dia tidak memberikan aku makanan sama sekali.
Tapi aku tetap berterima kasih dengannya. Dia memberikan aku uang dengan jumlah yang lebih besar daripada biasanya. Semoga saja dia besok memberikan aku uang tambahan. Tapi bagaimana dengan janjiku sendiri kepada Alfan, bahwa aku akan memutuskan hubunganku dengan Dito dan menjadi wanita yang baik-baik kalau aku masih bergantung dengan Dito.
Setelah aku makan malam dan mandi, aku bergegas rebahan di kamarku yang sangat nyaman. Karena aku belum mengantuk, aku iseng membuka facebook-ku untuk mengetahui berita apa yang tengah terjadi saat ini.
"Para girlband dan boyband papan atas akan memeriahkan Busan Festival pada tahun ini." Berita dari akun terpercaya ini membuatku berbunga-bunga. Bagaimana tidak, boyband favoritku masuk dalam daftar waiting list di acara tersebut.
"Suatu hari, aku akan pergi ke negara kalian dan berjumpa dengan kalian." Itu adalah satu-satunya mimpiku yang mungkin sulit untuk diwujudkan. Tapi aku tak akan menyerah, suatu saat nanti aku harus bisa kesana.
Tiba-tiba ada chat yang masuk ke dalam akun facebook-ku. Setelah aku cek, ternyata dari Alfan. "Kenapa dia menghubungiku malam-malam seperti ini. Apa dia sedang lembur lagi?" gumamku pelan.
"Facebook-an mulu. Udah malem, Shifa, kamu nggak tidur?"
"Memang kamu mikirin apa?" tanya Alfan lagi.
"Lagi sakit," ucapku iseng. Sebenarnya aku memang sakit. Tapi bukan tubuhku yang sedang sakit, melainkan kepunyaan-ku yang masih ngilu gara-gara ulah Dito.
"Terus Mas Alfan sendiri kenapa belum tidur?" tanyaku balik.
"Aku baru pulang dari rumah sakit, Fa," jawabnya. " Kamu sakit apa? Terus kenapa malah nggak tidur. Kalau kamu sakit, kamu harus istirahat dong biar cepet sembuh." Sepertinya Alfan khawatir dengan diriku. Padahal aku tadi hanya iseng menjawab seperti.
"Nggak apa-apa kok. Besok juga sembuh aku." Aku pun segera mengakhiri percakapanku dengan Alfan karena mataku sudah tidak kuat lagi, "Aku tidur dulu ya. Mas Alfan jangan malam-malam tidurnya, biar besok bangunnya nggak kesiangan."
*****
"Pagi, Bu, hari ini Ibu nggak ke pasar?" tanyaku yang heran karena ibu masih santai saja di rumah.
__ADS_1
"Nggak, Shifa, Ibu capek. Kamu nggak kuliah?"
"Kuliah kok, Bu, tapi masuk siang. Dosen yang jadwal pagi lagi ke Bali." Untung saja teman di grup chat memberitahukan bahwa Pak Indra hari ini tidak bisa masuk. Aku jadi bisa tidur lebih lama lagi.
"Oh iya, Shifa, Bu Retno suka loh sama tas kamu. Kemaren Bu Retno pamerin ke ibu-ibu pengajian tas yang baru dibelinya itu."
"Terus ... terus ..., Bu?" Aku menjadi sangat antusias dengan perkataan ibu barusan. Semoga saja setelah ini akan ada lebih banyak orang yang memesan tas di tempatku.
"Ya, orang-orang pada nanya sama Bu Retno, terus Bu Retno promosiin deh dagangan kamu. Mungkin sebentar lagi akan banyak ibu-ibu yang pesan tas di kamu."
"Serius, Bu? Wahh ... bakalan laris nih online shop aku."
"Makanya, kamu itu jangan lupa berdo'a biar makin banyak pelanggan kamu. Siapa tahu dengan kamu sholat dan berdo'a, banyak orang-orang yang tertarik dengan tas yang kamu jual."
Ibu, lagi-lagi menceramahiku tentang sholat. Ibu tak ubahnya seperti Alfan, selalu saja menyuruh aku untuk sholat. Tapi entah kenapa, kalau Alfan yang mengajakku sholat, aku selalu mau dengan sendirinya tanpa dipaksa. Tapi kalau ibu yang menyuruhku, aku hanya menjawab iya-iya saja dengan malas.
"Bu, lapar nih, hari ini Ibu masak apa?"
"Ibu cuma masak sayur bayam sama goreng telur. Oh iya, kenapa kamu nggak belajar masak, Shifa?"
"Aku? Kan ada Ibu, ngapain juga aku masak kalau masakan Ibu lebih enak daripada di restoran manapun."
Tiba-tiba terdengar suara mobil yang sepertinya berhenti di dekat rumah. "Kamu janjian sama siapa, Shifa?" selidik Ibu.
"Aku nggak ada janji dengan siapa-siapa kok, Bu. Mungkin itu milik tamu di sebelah rumah kita." Memang aku ada janji dengan Dito, tapi dia nggak akan ke rumahku sepagi ini. Karena seingatku, dia akan menjemputku di kampus sore hari.
Toookk ... toookk ... ttookkk ....
Terdengar suara pintu rumahku di ketuk. "Iya, tunggu sebentar!" teriak Ibu. "Itu mungkin teman kamu, Shifa. Mungkin kamu lupa kalau ada yang mau ketemu kamu."
"Mana mungkin? Aku ingat kok kalau pagi ini aku tidak ada janji dengan siapapun. Apa mungkin Nela yang datang menjemputku? Atau jangan-jangan Dito yang datang sepagi ini untuk mengajakku bolos kuliah?"
__ADS_1