
"Kamu cocok banget pakai baju itu. Kalau aku kok kelihatan nggak banget ya," cetus Alfan.
"Mas Alfan juga kelihatan cocok kok. Ini namanya hanbok, Mas. Memang begini pakainya. Ayo kita foto-foto sepuasnya, kan waktu peminjaman kostum cuma diberi durasi satu jam."
"Tapi nanti nggak ganti kostum lagi, kan? Masak iya sekarang pakai kostum Korea, terus ganti kostum Jepang, habis itu ganti lagi pakai kostum Belanda," protes Alfan.
"Tenang aja, Mas. Aku cuma pengen pakai hanbok aja kok!" seruku menanggapi protes Alfan.
Aku dan Alfan menikmati jalan-jalan kami diantara bunga-bunga sakura yang sedang bermekaran. Sekali-kali kami juga menyempatkan untuk berfoto. Karena kami tak tahu, kapan lagi kami akan pergi ke tempat ini berdua.
Kami berkesempatan untuk memasuki hanok, atau yang lebih dikenal dengan rumah tradisional korea. "Benar-benar mirip di dalam drama korea," pikirku. Di dalam hanok, terdapat beberapa gambar raja-raja yang pernah memimpin Korea. Selain itu, ada beberapa jenis alat musik yang diperlihatkan. Dan juga banyak informasi-informasi yang tidak aku ketahui tentang Korea.
Setelah puas berjalan-jalan ke wisata Korea, kami pergi ke wisata Jepang. Tentu saja kami hanya berjalan-jalan menggunakan baju biasa, karena Alfan menolak memakai kimono. "Ribet," katanya. Meskipun begitu, kami tetap menikmati suasana disini.
Seperti view di Korea, di Jepang terdapat pohon bunga sakura yang menyambut kami. Ada juga rumah tradisional Jepang yang bermaterial kayu. Jika dilihat sekilas, rumah itu sangat sejuk karena banyak pepohonan hijau yang mengelilingi rumah itu. Kami tidak sempat masuk kesana, karena Alfan ingin segera pergi ke tempat selanjutnya. Tapi aku sempat berfoto dengan patung Doraemon dan kawan-kawannya seperti Nobita dan Sizuka. Waktu aku kecil, aku suka sekali menonton acara yang menayangkan kartun robot berwarna biru putih itu.
Lanjut ketempat selanjutnya, yaitu ke taman Belanda. Kami disambut dengan hamparan bunga tulip yang sangat luas dengan berbagai warna yang memanjakan mata kami. Mulai dari warna merah, putih, kuning, ungu, dan masih banyak lagi jenis bunga tulip yang ada disini. Di ujung taman bunga tulip, terdapat kincir angin yang sangat besar. Bangunan-bangunan khas kota Belanda yang berjejer-jejer itu, menambah keindahan dan kemegahan taman Belanda ini.
Alfan tak henti-hentinya memotret keindahan tempat yang kami kunjungi saat ini. Entah untuk apa foto yang dia ambil, tapi aku senang dia menikmati pemandangan yang disuguhkan tempat ini.
"Mas, ayo kita main skating," ajakku ketika melihat banyak pengunjung yang bermain skating saat ini.
Di tempat yang bernama Snow World ini, terdapat hamparan salju yang seperti sungguhan. Salju ini merupakan salju buatan yang berasal dari mesin buatan luar negeri. Meskipun salju disini bukan salju asli yang turun dari langit, tetapi hawa disini juga tak kalah dingin.
__ADS_1
Banyak anak-anak dan remaja yang bermain skating, membuatku ingin bermain juga. Selain itu, ada juga rumah khas kutub utara yang didalamnya juga ada pengunjung yang sedang melihat-lihat. Tak kalah lucunya, disini juga boneka salju yang sangat besar. Ditempat ini, aku merasa bahwa aku sedang berada di dunia lain karena keindahan tempat yang aku kunjungi saat ini.
"Emang kamu bisa main seluncur es? Aku nggak bisa loh, Fa. Aku belum pernah nyoba main skating," tolak Alfan.
"Terus kita cuma disini mau lihat-lihat aja gitu?" pintaku yang ingin sekali mencoba seluncur es seperti yang ada di drama-drama yang aku tonton.
"Ya kalau kamu mau, aku tungguin disini aja. Kalau kamu bener-bener kepingin, akan aku sewain instruktur buat ngajarin kamu. Pasti disini juga ada instrukturnya."
"Ya udah aku mau!" jeritku senang.
Aku pun mencoba bermain skating bersama instruktur wanita. Alfan sendiri yang memilih instruktur seorang wanita, karena katanya kalau laki-laki takutnya terjadi pelecehan yang tidak disengaja.
Berkali-kali aku terjatuh karena aku kurang seimbang. Alfan sampai tertawa terbahak-bahak melihatku terjatuh. Padahal aku merasakan sakit dibagian pinggulku akibat keseringan terjatuh. Tapi lama kelamaan, aku bisa menguasainya. Aku merasa senang karena tanpa bantuan sang instruktur, aku bisa melaju dan berhenti dengan mudahnya. Kulihat Alfan sedang fokus mengabadikan momen aku bisa bermain seluncur es.
Karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, kami hanya melihat-lihat sepintas keindahan lampion-lampion yang disuguhkan di taman lampion. Selain itu, kami juga menyempatkan untuk melihat pertunjukan air mancur yang sangat cantik dan warna-warni. Dengan ajakanku yang sedikit memaksa, akhirnya kami masuk ke rumah kaca. Seperti namanya, ketika kami masuk, kami dikelilingi dengan berbagai jenis kaca yang memantulkan diri kami. Selain itu, tempat ini dipenuhi dengan gelimang cahaya yang dipantulkan dari segala sisi, membuat rumah kaca ini cocok untuk dijadikan tempat berfoto. Aku dan Alfan pun tak menyia-nyiakan untuk berfoto bersama di tempat ini.
"Kita mampir ke Night Market dulu yuk, nyari oleh-oleh buat keluarga kita. Habis itu kita makan, terus pulang," ajak Alfan.
Aku pun membelikan banyak camilan untuk ibuku di rumah. Tak lupa kubelikan tas untuk ibu. Tentu saja, yang membayar belanjaanku sedari tadi bukan aku, melainkan Alfan. Aku juga memilihkan beberapa sovenir untuk dibawa pulang Alfan. Aku juga menyempatkan diri untuk membeli beberapa baju yang menjadi ciri khas taman wisata ini.
"Mas, makasih ya buat hari ini. Aku udah lama nggak jalan-jalan kesini. Dan ternyata tempat ini banyak wahana barunya," ucapku berterima kasih.
"Sama-sama, aku juga senang jalan-jalan sama kamu hari ini. Bahkan memori kameraku udah full dengan foto-foto yang kita ambil tadi."
__ADS_1
"Memangnya foto-fotonya mau Mas apakan?" tanyaku penasaran.
"Aku pilih-pilih dulu mana yang bagus, habis itu aku post di facebook dan instagram aku," jawab Alfan.
"Wahh.. gimana kalau ketahuan Elsa dan Nela kalau aku habis jalan bareng sama Alfan?" tanyaku dalam hati.
"Aku mau minta yang ada fotoku dong. Terus yang ada fotoku jangan di post juga ya. Takutnya nanti kita disangka pacaran loh," ujarku beralasan.
"Tenang aja, aku juga udah ngerti kok. Kamu kan punya pacar, mana berani aku post foto sama pacar orang."
"Uppss.. Mas Alfan ini kalau ngomong suka bikin hatiku pusing." Aku yang merasa tidak enak karena masih memiliki Dito jadi bingung harus menjawab bagaimana.
"Shifa, kalau nanti Ibu kamu marah gara-gara aku mengembalikan kamu terlalu malam gimana?"
"Tenang aja, Ibu aku orangnya baik kok. Ibu nggak akan marahin kamu. Palingan aku yang nanti ditanyain macam-macam."
"Kamu bilang aja yang jujur sama Ibu kamu, ya. Aku kasihan melihat Ibu kamu berjuang sendirian sedari kamu kecil. Pasti nggak gampang buat membesarkan kamu sampai seperti ini. Kamu harus lebih menyayangi Ibu kamu, biar kamu dapat surga-Nya," terang Alfan yang tiba-tiba menceramahiku.
"Iya-iya, Mas. Setelah aku lulus kuliah nanti, aku juga akan berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak supaya Ibuku nggak susah-susah kerja lagi. Do'ain aja supaya aku bisa membahagiakan Ibuku."
"Nah, gitu dong, ikuti saran aku yang sering aku ucap. Mindset kamu harus berubah, kamu harus mengejar cita-cita kamu setinggi-tingginya meskipun ending-nya kamu bakalan jadi ibu rumah tangga."
Aku memang mulai mengikuti saran yang Alfan berikan kepadaku tempo hari. Semakin sering aku bertemu dengan Alfan, semakin banyak pula Alfan memberikan pengaruh yang positif untuk aku. Dan suatu hari nanti, akan aku buktikan bahwa aku juga bisa sukses seperti dia.
__ADS_1