Dialah Matahariku

Dialah Matahariku
Ch. 26. ke mall


__ADS_3

"Kita mau kemana, Mas Alfan?" tanyaku penasaran. Setelah aku di ceramahi panjang lebar oleh ibuku tentang perasaanku kepada orang yang ada disisiku saat ini, aku tetap memutuskan untuk selalu berada disampingnya sampai dia sendiri yang memutuskan untuk menjauhiku. Aku tahu perasaanku dari awal memang salah, tapi aku hanya berusaha mengikuti kata hatiku saja. Hanya bersama dengan Alfan, aku bisa dihargai sebagai wanita.


"Kamu maunya kemana?" tanya Alfan balik.


"Ehm ...." Aku berpikir lama, sebelum akhirnya menjawab, "Bagaimana kalau kita karaokean?"


"Sepagi ini masak kita mau karaokean sih? Bagaimana kalau kita pergi ke mall. Kebetulan aku mau beli sepatu baru," ajak Alfan.


"Oke deh, aku ngikut aja." Kemanapun Alfan ingin pergi, aku akan menyetujuinya meskipun harus ke hotel. Tapi aku yakin Alfan tidak akan berani menggerayangi tubuhku. Karena yang aku tahu, Alfan adalah laki-laki yang sholeh dan takut dosa.


Sesampainya di mall, kami berjalan bersama bak kekasih. Dan aku sangat bahagia akan hal itu. Terutama ketika dia bercerita dan membuat lelucon. Sangat menyenangkan mendengarnya.


"Kita kesini yuk," ajak Alfan.


Alfan pun memilih sepatu yang akan dia coba. Berkali-kali dia berganti model, akhirnya pilihannya jatuh kepada sepatu pantofel warna hitam dengan tambahan aksen coklat yang sangat cocok untuknya. "Bagaimana menurut kamu, Shifa, cocok nggak aku pakai?"


"Cocok kok, bagus juga."


"Serius nih, menurutmu mending yang ini atau yang tadi?" tanya Alfan sambil bergaya di depan kaca.


"Mending yang ini deh, lebih cocok yang ini. Kalau yang hitam kan Mas Alfan udah sering pakai," ujarku yang masih setia duduk untuk menungguinya.


"Oke, deh, aku mau yang ini ya, Mbak," ucap Alfan pada karyawan yang sedari tadi membantu memilihkan sepatu.


"Baik, Pak, ada lagi yang diinginkan? Apakah Anda mau melihat beberapa sepatu wanita untuk kekasih Anda juga? Ada banyak sepatu model terbaru yang baru saja datang, " tutur karyawan dengan mulut manisnya. Ya, tentu saja, sebagai karyawan toko sepatu, dia akan merekomendasikan kepada pelanggannya siapa tahu pelanggannya tersebut akan tertarik dan membeli lebih banyak lagi di tokonya.


"Boleh juga, tolong bawakan kesini sepatu untuk wanita yang sedang bersama saya itu," perintah Alfan. Alfan pun sepertinya ingin aku mencoba beberapa sepatu seperti dirinya, "Tapi jangan yang heels-nya terlalu tinggi ya."

__ADS_1


"Baik, Pak, saya akan segera kembali," pamit sang karyawan.


"Memang Mas Alfan mau ngebeliin buat siapa? Mamanya Mas Alfan ya?" tanyaku penasaran.


"Bukanlah, kalau Mama bisa beli sendiri kapan-kapan. Tentu saja itu buat kamu. Kamu pilih sesuai selera kamu ya, tapi aku nggak suka kamu pakai sepatu yang heels-nya tinggi," ungkap Alfan.


"Oke, siap!" Aku sangat bersyukur akan hari ini. Alfan memang selalu baik terhadapku. Bagaimana aku bisa menghilangkan rasa cintaku, kalau dia semakin hari semakin memperhatikanku.


Setelah berkali-kali aku mencoba, pilihanku jatuh kepada sepatu flat shoes berwarna biru. Sebenarnya aku lebih menyukai high heels, tapi Alfan mengatakan jika dia tidak suka itu, makanya aku pun memilih sepatu yang lebih sederhana tapi sangat manis jika aku gunakan di kakiku.


"Berapa totalnya?" tanya Alfan pada sang kasir. Aku pun hanya berdiri di sampingnya. Karena aku tahu, dia akan menolak jika aku yang membayar sepatuku sendiri.


"Totalnya tiga belas juta lima ratus ribu rupiah, Pak," jawab si tukang kasir. Aku melongo mendengarnya. Apa memang sepatu bisa se mahal itu? Aku saja yang sering membeli sepatu dengan memakai credit car**d dari Dito bahkan tidak berani membeli sepatu di atas harga lima juta.


"Pakai credit card saja ya, Mbak." Alfan memberikan kartu kreditnya.


"Nggak perlu, Mas, nanti Ibu bakalan marah kalau aku ngebeliin lagi." Karena kemaren aku sudah membelikan beberapa baju untuk ibu, maka hari ini aku memutuskan untuk tidak membelikan apapun terlebih dulu.


"Kamu mau lihat-lihat pakaian nggak?" ajak Alfan.


"Gimana kalau kita makan dulu, Mas. Aku laper." Perutku memang mudah lapar. Baru berjalan sebentar saja, makanan yang aku makan di rumah sudah hilang dari perutku.


"Padahal masih dua jam loh sejak kita sarapan bareng Ibu kamu tadi. Kamu itu, badan kamu aja yang kecil, tapi selera makan kamu besar juga," ledek Alfan sambil mengelus rambutku.


"Apaan sih, Mas, kalau nggak mau ya udah." Tentu saja aku kesal jika diledek tentang selera makanku. Meskipun tubuh aku kecil, tapi kan aku masih ada hak untuk makan setiap saat.


"Duh ... gitu aja ngambek, ya udah ayo kita cari makan dulu. Habis itu kita lanjut belanja. Mumpung masih ada dua jam lagi sebelum jam dua belas." Aku dan Alfan memutuskan untuk makan chicken steak hari ini. Tentu saja, aku memesan nasi putih tambahan untuk diriku. Bahkan Alfan tertawa ketika melihatku makan dengan lahapnya.

__ADS_1


"Shifa, pelan-pelan kalau makan, nanti tersedak gimana?"


"Iya-iya, habis ini kita beli kentang goreng ya buat camilan," tawarku.


"Camilan?" ucap Alfan menggeleng seperti tak percaya. "Iya, terserah kamu. Yang penting habisin dulu minuman dan es krim yang sudah kamu pesan itu."


"Siap, bos!" Aku pun kembali melanjutkan makanku.


"Shifa, kenapa badan kamu begini-begini saja dari pertama kita bertemu. Padahal kamu doyan banget sama makanan. Apa kamu tiap hari berolahraga?" selidik Alfan.


"Nggak lah, Mas, aku minus dalam hal olahraga. Bahkan sewaktu SMA, aku sering membolos jika ada mata pelajaran olahraga."


"Terus apa dong rahasia kamu?" tanya Alfan yang masih saja penasaran.


"Kata Ibu sih aku menuruni gen Ayahku. Katanya Ibuku, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, aku copy paste-an dari Ayah," jawabku jujur.


"Kalau boleh tahu, sebenarnya Ayah kamu kemana? Selama ini yang aku tahu hanya ada kamu dan Ibu kamu di rumah."


"Ayah udah nggak ada ketika aku berumur empat tahun karena kecelakaan ketika akan berangkat kerja. Setelah kejadian itu, Ibu mendapatkan uang asuransi dari perusahaan yang Ibu gunakan untuk berjualan di pasar. Sebelum Ayah meninggal, Ibu nggak pernah jualan kue. Tapi, setelah Ayah nggak ada, Ibu memutuskan untuk berjualan kue." Aku bercerita panjang lebar. Memang, sebelumnya aku belum pernah menceritakan tentang ayahku kepada Alfan.


"Berarti sudah lama ya, Ayah kamu nggak ada. Maafin aku ya, Shifa, jika pertanyaanku menyinggung. Aku kira Ayah kamu pergi entah kemana," sesal Alfan.


"Nggak apa-apa kok. Sebenarnya aku sudah mulai lupa dengan wajah Ayah. Hanya saja, setiap malam aku selalu memandang fotonya sebelum tidur. Aku takut jika aku melupakan dia," ucapku.


"Makanya, kamu rajin sholat ya. Habis sholat, kamu bisa do'ain Ayah kamu. Sekali-kali, kamu berikan hadiah untuk Ayah kamu dengan mengaji. Supaya Ayah kamu jadi bangga sama kamu di alam sana," celoteh Alfan.


"Kenapa tiba-tiba aku di ceramahi tentang urusan sholatku?" tanyaku dalam hati. Alfan memang tak pernah berhenti menasehatiku untuk sholat. Apakah mungkin dia dikirim Allah memang untuk menjadikanku wanita yang lebih baik lagi? Bahkan, dia tak henti-hentinya memberikanku nasehat tentang hidupku. Apakah dia memang matahari yang datang ke hidupku untuk menerangiku dari kegelapan di hidupku ini? Entahlah.

__ADS_1


__ADS_2