Dialah Matahariku

Dialah Matahariku
Ch. 22. tentang rasaku


__ADS_3

"Mas Alfan masih jarang ketemu sama Elsa?" tanyaku memulai pembicaraan.


"Udah lama aku nggak ketemu dia. Memangnya kenapa, Fa?" tanya Alfan balik.


"Nggak apa-apa kok cuma tanya aja."


"Apa dia nggak cerita apa-apa tentang aku?"


"Dia cuma bilang kalau Mas Alfan itu orangnya sok sibuk. Di chat jarang ngebales, di ajak ketemuan juga nggak ada waktu," jawabku jujur.


"Aku kan memang sibuk, Fa. Nih makan ikan gurame bakar punyaku. Enak loh." Alfan mulai menyuapiku dengan sendoknya.


"Tapi kan aku nggak bisa makan seafood," protesku.


"Ini bukan seafood kok. Ini makanan biasa. Nih cepetan keburu tanganku kebas." Aku mulai menyantap suapan dari Alfan. Duhh ... kapan lagi dia bisa kayak gini, nggak malu nyuapin aku.


"Enak, Kak." Bukan hanya ikan bakarnya yang enak, tapi suapan dari Alfan yang membuat ikan bakar menjadi lebih nikmat.


Kriiiinngg ... kriiiinnggg ....


Handphone milikku berbunyi ketika kami masih asyik makan berdua. Tertulis nama Dito di layar ponselku. "Aku ke toilet dulu ya, mau angkat telepon," pamitku kepada Alfan.


"Halo ... ada apa, Sayang?" tanyaku memulai pembicaraan.


"Kamu lagi ngapain? Udah pulang kuliah?" tanya Dito dari balik telepon.


"Udah, kok. Memangnya ada apa?"


"Nggak apa-apa. Tiba-tiba saja aku kangen sama kamu. Besok aku jemput yuk, kita ketemu."


"Besok? Lihat besok dulu ya, soalnya besok jadwalku padat," sahutku beralasan.


"Jangan-jangan kamu nggak bisa lagi ya? Awas kalau kamu besok nggak mau ketemu sama aku, aku potong uang bulanan kamu!" ancam Dito.


Aku yang mendengarnya sedikit bingung, bagaimana nanti aku bisa bayar kuliah, sedangkan sebentar lagi ujian akan dimulai.


"Baiklah, Sayang, jangan marah gitu. Besok aku usahakan buat ketemu sama kamu."


"Nah, begitu dong, lagian kamu jangan berani-berani kecewain aku lagi seperti kemaren. Kalau tidak, akan aku buat kamu kewalahan menghadapiku di ranjang!" seru Dito dari balik telepon.


"Iya-iya. Ya sudah sampai ketemu besok ya, Sayangku," ucapku berusaha mengakhiri telepon.

__ADS_1


Tuutt ... tuuutt ... tuuutt ....


Dito memang memiliki temperamen yang buruk. Hanya karena waktu itu aku mengingkari janjiku untuk bertemu dengannya saja, dia sudah mengancamku.


"Telepon dari siapa, Fa?"


"Bagaimana aku menjawab pertanyaan Alfan? Apa lebih baik aku jujur saja?" Aku bingung akan menjawab apa.


"Dari pacarku." Aku berusaha jujur meskipun sebenarnya malu kepada Alfan.


"Yang suka marah-marah itu? Kok kamu masih mau sih sama dia?"


"Gimana ya ... Ayo kita pulang, Mas. Udah mulai malam ini." Aku bingung sendiri bagaimana menceritakannya. Aku belum siap jika Alfan mengetahui bagaimana bobroknya kehidupanku. Aku yang begini saja, dia sudah sering protes tentang mimpiku yang biasa saja. Apalagi kalau dia tahu bahwa aku sudah tidak perawan lagi dan sering tidur dengan laki-laki demi mendapatkan uang jajan.


Selama diperjalanan, kami lebih banyak diam dengan pikiran masing-masing. Mungkin Alfan tahu, jika aku sedang tidak mood untuk bercerita tentang apapun.


"Nih, aku beliin sedikit untuk Ibu kamu. Salam buat Ibu kamu ya." Alfan memberikan bungkusan makanan.


"Kok banyak banget, Mas Alfan?"


"Siapa tahu kamu laper lagi. Kan kamu tukang makan," jawab Alfan santai.


"Iya-iya adikku yang bawel ..." sahut Alfan sambil mencubit pipiku dengan gemasnya. Hatiku menjadi sedikit mencair dibuatnya. Aku tersipu malu dibuatnya. Dia tahu bagaimana menghiburku yang baru saja diomeli oleh Dito.


"Mas Alfan nggak mampir dulu?" tawarku.


"Nggak usah, Shifa, Mas mau istirahat di rumah sakit saja sebelum memulai operasi."


"Ya udah, Mas Alfan hati-hati ya nyetir mobilnya."


"Pasti. Kalau gitu aku pamit pulang dulu ya. Salam buat Ibu kamu. Assalamu'alaikum," pamit Alfan.


"Wa'alaikumsalam."


Akhirnya Alfan pergi bersama mobilnya. Aku pun juga pergi untuk memasuki rumah.


"Assalamu'alaikum, Bu," ucapku saat memasuki rumah. Kulihat ibu sedang sibuk mem-packing kue sambil menonton televisi.


"Wa'alaikumsalam. Shifa, sini tolong bantuin Ibu. Nanggung nih tinggal sedikit lagi."


Aku mulai membantu ibu mem-packing kue-kue yang sudah matang.

__ADS_1


"Kuliah kamu sampai malam lagi ya?" tanya ibu.


"Nggak, Bu, tadi Alfan ngajakin aku makan," jawabku jujur.


"Itu dibungkusan yang kamu bawa isinya apa? Kamu belanja baju lagi ya?" selidik ibu.


"Bukan, Bu, itu makanan buat Ibu. Tadi Alfan yang nitipin ke Shifa."


"Wahh ... baik banget Alfan. Kamu sampaikan terima kasih Ibu ya buat dia."


"Iya, Bu, nanti aku sampaikan," sahutku.


"Terus gimana hubungan kamu dengan Alfan? Kamu jadi ta'aruf sama Alfan?" Pertanyaan ibu lagi-lagi tentang hal itu. Padahal kemaren-kemaren ibu sudah sering menanyakan tentang hubunganku dengan Alfan.


"Ya nggak lah, Bu, Shifa masih kecil, masih kepingin jalan-jalan. Shifa belum ada rencana menikah."


"Kamu itu bukan anak kecil lagi, Shifa. Lihat tuh temen seumuran kamu, udah banyak yang gendong anak. Kamunya aja yang nggak nyadar kalau udah dewasa." sindir Ibu.


Ibu terlalu jujur menyindir aku. Memang, banyak temen SMPku yang sudah memiliki anak. Bahkan, ada yang sudah menggandeng dua anak di usia dua puluh satu tahun.


"Lagian, Bu, Shifa masih ingin fokus kuliah. Kalau Shifa nikah, takutnya Shifa nanti jadi malas nerusin kuliah," terangku memberi alasan. "Lagipula kasihan Elsa kalau aku mendekati Alfan."


"Apa?! Memang kenapa dengan kamu, Alfan dan Elsa?"


"Uuuppss ... sepertinya aku salah bicara. Bagaimana aku menjawabnya sekarang?" tanyaku dalam hati.


"Emm ... gimana ya, Bu. Elsa itu suka sama Alfan, bukan cuma aku saja yang suka sama laki-laki itu." Akhirnya aku memutuskan untuk jujur. Aku juga ingin mendengar nasehat ibu supaya aku bisa memutuskan untuk terus mengejar Alfan atau berhenti sampai disini saja kisah cintaku ini.


"Apa?! Bagaimana bisa kalian berdua menyukai orang yang sama? Kalian kan sahabatan? Terus bagaimana dengan hubungan kamu dan Elsa?"


"Elsa sementara ini nggak tahu, Bu, tentang kedekatanku dengan Alfan. Sebenarnya kami sama-sama bertemu di kafe. Saat itu Elsa yang mengajak aku dan Nela untuk menemaninya."


"Terus, kalau Elsa sampai tahu hubunganmu dengan Alfan, bagaimana, Fa? Ibu nggak pengen hubungan kamu dengan sahabat-sahabat kamu jadi buruk hanya karena seorang laki-laki," tutur ibu.


"Shifa harus bagaimana, Bu? Shifa dan Alfan sudah terlanjur dekat meskipun kami nggak pernah berkomitmen apapun. Aku dan Alfan sudah sama-sama merasa nyaman dengan hubungan ini. Meskipun Shifa nggak tahu bagaimana perasaan Alfan, tapi Shifa sudah terlanjur suka dengan Alfan," terangku panjang lebar.


Baru kali ini aku berani jujur tentang laki-laki kepada ibuku. Ibuku memelukku setelah aku menceritakan perasaanku kepadanya. Terasa hangat dan membuat hatiku tenang ketika aku berada dalam dekapan orang yang paling aku cintai


"Memang Alfan itu orang baik. Siapapun yang mengenalnya, pasti merasakan kenyamanan dari dalam dirinya. Kamu lebih baik mengalah saja daripada kalian harus bermusuhan. Kamu boleh kok tetap bersahabat dengan Alfan, tapi kamu harus menghargai perasaan Elsa. Kamu tetap boleh hangout dengannya, tapi kamu harus berusaha menghapus pelan-pelan perasaan itu, Shifa. Bukankah persahabatan itu lebih berharga daripada laki-laki?" Aku menyetujui ucapan ibu untuk menghapus rasa cintaku ini.


Mungkin cara ini memang lebih baik daripada aku harus bermusuhan dengan sahabatku jika Elsa tahu tentang perasaanku yang sesungguhnya. Lagipula Alfan juga hanya menganggapku sebagai adik, tidak lebih. Sepertinya aku memang harus menghapus perasaanku pelan-pelan.

__ADS_1


__ADS_2